BANYUWANGI,Beritalima.com – Siapa tak kenal dengan “sound horeg” Selama ini, istilah itu kerap identik dengan dentuman musik DJ, joget erotis, dan hura-hura yang sering menuai kontroversi. Namun, suasana berbeda terlihat di acara Kirab Budaya yang digelar di Desa Sembulung, Kecamatan Cluring.
Alih-alih menampilkan goyangan bebas, sound horeg justru dipadukan dengan tarian khas Banyuwangi, Gandrung. Seorang penari lajang berparas cantik tampil anggun, gemulai membawakan tarian tradisi tersebut. Alunan gamelan yang biasanya mengiringi Gandrung kali ini berpadu dengan dentuman sound horeg, menciptakan harmoni yang tak biasa.
Dedi Irawan, salah seorang warga yang ikut menyaksikan kirab budaya itu, mengaku kagum dengan inovasi tersebut.
“Ini baru namanya nguri-uri budaya. Kalau sound horeg diarahkan untuk hal positif seperti ini, masyarakat akan lebih menghargai. Tarian Gandrung terasa lebih meriah tanpa menghilangkan makna budayanya,” ujarnya.
Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra, turut memberikan apresiasi. Menurutnya, kreativitas ini menjadi bukti bahwa budaya lokal bisa terus hidup dengan sentuhan modern.
“Sound horeg selama ini dianggap kontroversial karena sering dipakai untuk hal-hal negatif. Tapi di Sembulung, kita melihat bagaimana sound horeg bisa menyatu dengan Gandrung. Ini contoh nyata bahwa kita bisa melestarikan budaya dengan cara kekinian tanpa menghilangkan jati diri,” kata Uny.
Ia menegaskan, pengembangan seni budaya memang harus beradaptasi dengan zaman. Namun, yang terpenting adalah menjaga nilai dan filosofi di baliknya.
“Kirab budaya ini menjadi momentum penting. Generasi muda bisa lebih dekat dengan tradisi, tapi tetap punya ruang untuk berekspresi dengan musik modern. Jadi tidak ada lagi alasan menganggap sound horeg hanya sebatas hingar-bingar belaka,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sembulung, Prayitno, menyampaikan bahwa kirab budaya kali ini juga menjadi bagian dari peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia. Menurutnya, kemerdekaan tidak hanya diperingati dengan upacara dan lomba, tetapi juga dengan melestarikan adat, seni, dan tradisi.
“Bagi kami, kemerdekaan itu bukan hanya bebas dari penjajahan. Tapi juga bagaimana kita merdeka dalam menjaga warisan leluhur. Kirab budaya ini adalah cara kami nguri-uri adat, seni, dan tradisi, supaya anak cucu nanti tidak kehilangan jati dirinya,” ujar Prayitno.
Ia menambahkan, semangat gotong royong dan kebersamaan yang ditunjukkan warga dalam kirab budaya adalah cermin dari arti kemerdekaan yang sesungguhnya.
“Kalau dulu para pejuang mengorbankan jiwa raga untuk kemerdekaan, sekarang tugas kita menjaga dan mengisi kemerdekaan itu dengan hal-hal positif, salah satunya dengan melestarikan budaya. Ini cara sederhana, tapi bermakna untuk menghargai perjuangan para pahlawan,” tandasnya.
Kirab budaya di Desa Sembulung pun menjadi bukti nyata bahwa ketika tradisi dipadukan dengan inovasi, yang lahir bukan sekadar hiburan, melainkan cara baru untuk nguri-uri budaya sekaligus memperkokoh semangat kemerdekaan. (Ron//B5)






