Tahun Baru Imlek 2575: Gong Xi Fa Cai” dan “Xin Nian Kuai Le”

  • Whatsapp

Catatan: HM Yousri Nur Raja Agam *)

HARI ini, Sabtu, tanggal 10 Februari 2024, ditetapkan sebagai “hari libur resmi”. Hari raya Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili, dengan shio atau lambang “naga kayu”.

Kalender atau almanak di Indonesia, “angka 10” Februari 2024, dicetak warna merah — disebut “tanggal merah”. Bahkan, dinyatakan pula menjadi “libur panjang”, dikaitkan dengan tanggal 8 Februari 2024, peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW tanggal 27 Rajab 1445 Hijrah.

Kebetulan pula, ada hari “terjepit” tanggal 9 Februari 2024, yang diperingati sebagai HPN (Hari Pers Nasional) 2024 oleh masyarakat pers Indonesia. HPN ini merujuk kepada hari kelahiran PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) — organisasi yang lahir di awal kemerdekaan Republik Indonesia, tanggal 9 Februari 1946. Sehingga tahun ini adalah HUT (Hari Ulang Tahun) ke 78 PWI.

Nah, kembali ke Imlek, adalah Tahun Baru China dengan shio Naga. Dalam kebudayaan China, makhluk “naga” yang menyerupai “ular raksasa” itu disebut mampu membawa keberuntungan yang hebat luar biasa.

Berdasarkan astrologi China, Naga adalah binatang paling vital dan kuat. Hewan ini terkenal agresif dan percaya diri. Orang dengan shio naga diyakini memiliki karakteristik tidak takut tantangan dan berani mengambil risiko.

Shio naga dari 10 Februari 2024 hingga 28 Februari 2025 ini, memiliki elemen kayu. Perpaduan naga-kayu sekaligus menjadi simbol dari kekuatan, kemuliaan, kehormatan, keberuntungan, hingga kesuksesan.

Biasanya, perayaan Imlek ini sejak hari pertama hingga hari ke 15, di saat bulan purnama, diramaikan masyarakat Tionghoa dengan perayaan Cap Go Meh. Ini disebut juga hari suci oleh umat Khong hucu.

Nah, kita masih ingat, perayaan Imlek ini, diaktifkan kembal8 sejak zaman Pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Pada saat itu, Khonghucu “diakui” sebagai salah satu agama di Indonesia.

Bersamaan dengan itu, Matakin (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), sertamerta mengaitkan pula, Imlek sebagai bagian dari kegiatan agama Khonghucu. Walaupun, sebagian masyarakat Tionghoa menyatakan, aktivitas di awal tahun Imlek, merupakan “budaya leluhur” yang disesuaikan dengan adat istiadat.

Memang, di daratan Tiongkok, para ahli berbeda pendapat. Mereka tidak menyebut Khonghucu sebagai agama. Itu hanya merupakan “sekte” dari umat Budha. Dengan demikian, Imlek bukan merupakan perayaan agama. Orang Tionghoa yang merayakannya sangat beragam, sebab punya berbagai keyakinan.

Kita lihat di Indonesia. Ada semangat kebhinekaan yang sebenarnya mengakar dalam budaya bangsa ini. Dulu ada larangan merayakan Tahun Baru Imlek. Dengan Inpres Nomor 14 Tahun 1967, Pemerintahan Orde Baru, melarang apa pun yang bernuansa Tionghoa, termasuk Imlek.

Sejak Gus Dur, mengeluarkan Keppres Nomor 6 Tahun 2000 tanggal 17 Januari 2000 yang berisi pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967, maka Imlek pun bebas dirayakan. Presiden Megawati Soekarnoputri, kemudian menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional mulai 2003.

Pengakuan atas keragaman anak bangsa makin kuat dengan terbitkannya Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006 yang tidak menyebut warga negara dalam kategori asli atau bukan. Tidak hanya itu, era reformasi ini Pemerintahannya mengeluarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Negara kita, Republik Indonesia, makin membumikan “makna” Bhinneka Tunggal Ika sesuai nilai luhur Pancasila.

Kegiatan penyatuan asal-usul warganegara, disebut “pembauran” antar suku, etnis dan ras. Demikian pula dengan mendeklarasikan kerukunan antarumat beragama dan kepercyaan.
Untuk mewujudkan kebhinnekaan itu, Pemerintah membentuk Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di seluruh penjuru Nusantara.

Ada yang menarik, setiap peringatan Imlek berlangsung pula “Festival Lentera dan Lampion”. Ada pesta kembang api dan parade barongsai. Dari berbagai penjuru terpancar nuansa ucapan selamat tahun baru Imlek, berbunyi: “Gong Xi Fa Cai”. Kecuali itu ada pula yang menyampaikan: “Xin Nian Kuai Le”. Artinya, mengucapkan “Selamat Tahun Baru”.

Nuansa Imlek di Surabaya

Kota Surabaya, salah satu di Indonesia yang cukup dominan “memanjakan” budaya China atau Tionghoa. Ini tidak lepas dari sejarah berdiri dan berkembangnya kehidupan etnis keturunan China perantauan di Kota Surabaya.

Secara resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menampilkan ornamen Naga di pusat Kota Surabaya. Kantor Balaikota di Taman Surya Surabaya itu semarak dengan dekorasi bernuansa China.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, merepresentasikan Tahun Baru Imlek 2024 ini sebagai salah satu upaya membentuk persatuan dan toleransi antar masyarakat Surabaya.

Ornamen Naga yang dipasang di depan Balai Kota Surabaya tingginya 6 meter dan panjang 25 meter,. Ini menunjukkan bahwa roda kehidupan di Kota Surabaya bergerak karena kekuatan toleransi antara umat beragama maupun suku dan ras yang ada, ujar Eri Cahyadi.

Selain di Taman Surya dan Balai Pemuda, ornamen bernuansa China dan Imlek ini, juga ada di Jalan Kembang Jepun. Kawasan Pecinan atau Kampung China (China Town). Tempat yang juga pernah diramaikan dengan sebutan Kya-Kya. Di samping itu dekorasi yang sama, ditempatkan di monumen bambu runcing, Taman Ade Irma Suryani Nasution. Kecuali itu, juga di pusat perbelanjaan, mal dan plaza di Kota Surabaya, serta, di beberapa kelenteng. Bahkan di kawasan wisata pantai Kenjeran Surabaya.

*) HM Yousri Nur Raja Agam — Ketua FPK ( Forum Pembauran Kebangsaan) Jatim.

beritalima.com

Pos terkait