Tanggul Sungai Tuntang Jebol, Akses Lumpuh dan Warga Terisolir di Demak

  • Whatsapp
Tanggul Sungai Tuntang jebol, akses lumpuh dan warga terisolir di Demak (foto: Antara)

Demak, beritalima.com|- ¹Senja di Kebonagung berubah menjadi malam penuh kecemasan, saat Tanggul Sungai Tuntang di Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah), jebol di dua titik.

Dampak jebolnya tanggul Sungai Tuntang berdampak ke kita sebelah, yakni Demak. Air deras merangsek ke rumah‑rumah, menenggelamkan jalan, dan membuat ratusan warga terjebak hingga tengah malam.

Tim gabungan BPBD Demak dan Grobogan akhirnya mengevakuasi warga dengan perahu karet, menyisakan jejak kelelahan dan trauma.

Hingga Selasa (16/2), genangan belum surut. Air setinggi 50–60 sentimeter genangi permukiman, jalan vital Kebonagung–Gubug ambles, dan jalur Semarang–Purwodadi lumpuh total.

Infrastruktur runtuh, aktivitas warga terhenti. Pertanyaannya: mengapa peristiwa serupa terus berulang setiap musim hujan? Apakah perbaikan tanggul hanya sebatas janji darurat tanpa solusi permanen?

Bupati Demak Eisti’anah saat meninjau lokasi, berjanji memperbaiki tanggul serta membuka akses alternatif. Namun warga berharap lebih dari sekadar janji. Mereka ingin kepastian, banjir tahunan tidak lagi menjadi “takdir” yang harus diterima. “Kami hanya ingin hidup tenang, tidak lagi was‑was setiap kali hujan turun,” ujar seorang warga dengan mata berkaca‑kaca.

Kondisi ini menuntun pada pertanyaan publik yang lebih besar: bagaimana pemerintah pusat dan daerah memastikan infrastruktur sungai benar‑benar tahan menghadapi intensitas hujan ekstrem? Bagaimana suara warga, termasuk kelompok rentan seperti difabel dan lansia, dilibatkan dalam perencanaan mitigasi?

Solusi tidak berhenti pada perbaikan tanggul. Perlu langkah berkelanjutan, seperti normalisasi sungai dengan teknologi ramah lingkungan. Mesti ada sistem peringatan dini yang inklusif, mudah diakses semua kalangan, edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan banjir dan kolaborasi lintas daerah agar penanganan lebih menyeluruh.

Banjir Demak bukan sekadar berita bencana. Ini cermin rapuhnya sistem perlindungan publik. Harapan besar kini bergantung pada keberanian Pemuda dan masyarakat untuk menjadikan tragedi ini titik balik. Agar sungai tidak lagi menyapa dengan amarah, melainkan mengalir sebagai sahabat kehidupan.

Jurnalis: abdul hadi/abri

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait