Terinspirasi Cerita Panji, Seniman Sanggar Daun, Aliya Murdoko Gelar Pameran Tunggal Kedua

  • Whatsapp
Repro karya Aliya Murdoko dalam pameran tunggalnya bertajuk "Panji Sacrifice" di Malang Creative Center. (Foto: Dok. Sanggar Daun)

GRESIK,beritalima.com- Seniman Sanggar Daun kelahiran Malang, Aliya Murdoko, menggelar pameran tunggal bertajuk “Panji Sacrifice” di Malang Creative Center (MCC) lantai 5, Jl. A. Yani, No.53, Blimbing, Malang. Pameran ini dibuka 13 Januari 2023 dan berlangsung hingga 23 Januari 2023.

Dua tahun sebelumnya Aliya Murdoko telah menggelar pameran tunggal pertamanya di Gallery Daun, Icon Mall Lantai 2, Gresik, dengan tema “Costal Life, Art Journey into the Futureā€, pada tanggal 6 – 20 November 2021 dan menjadi bagian dari Biennale Jatim IX.

Sementara pada pameran Panji Sacrifice kali ini yang menjadi bagian dari Biennale Jatim X, Aliya menampilkan 12 karya lukis dengan media cat akrilik dan cat minyak di atas kanvas. Sebagian besar berukuran 100 x 100 cm. Kemudian ada 2 karya besar berukuran 150 x 300 cm, dan karya terkecil ukuran 80 x 60 cm.

“Aliya Murdoko yang lahir dan dibesarkan di Malang tentu cukup dekat dengan sumber utama cerita Panji dari tradisi Topeng Malangan,” kata Arik S. Wartono, kurator pameran, Sabtu (13/1/2024).

Pria pendiri Sanggar Daun itu menjabarkan bahwa cerita Panji merupakan cerita asli Jawa Timur dengan latar Kerajaan Daha atau Kadiri (berpusat di wilayah Kediri Jawa Timur sekarang). Kisah cinta sejati antara Pangeran Panji Inu Kertapati dari kerajaan Daha (Kadiri atau Panjalu) dan Galuh Candrakirana (Dewi Sekartaji) dari kerajaan Jenggala.

Dan kisah cinta epic ini memiliki relevansi sejarah dengan upaya penyatuan kembali wilayah bekas kerajaan Medang Kahuripan yang pecah menjadi kerajaan Panjalu dan Jenggala sejak raja Airlangga turun tahta dan putri mahkota yang menjadi penerus tahta Sanggramawijaya Tunggadewi, mundur memilih menjalani hidup suci sebagai pertapa dengan gelar Dewi Kili Suci Sanggramawijaya.

“Dalam karya-karyanya di pameran ini, Aliya Murdoko melakukan tafsir visual atas cerita Panji tersebut dengan versi pemahamannya. Cerita Panji itu sendiri memang tidak ada yang baku, bahkan bisa berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya,” ucapnya.

Arik melanjutkan, setiap tradisi lokal bebas menginterpretasikan Cerita Panjinya masing-masing. Ia tumbuh pada tempat dan waktu tertentu yang dapat dirujuk sebagai latar belakang kisahnya.

Begitupun dalam karya-karya lukis Aliya Murdoko, dimana cerita Panji digarap secara eksperimental. Selain mengambil visual karakter konvensional tokoh dalam tradisi topeng Malangan yang dieksplorasi secara ekspresif. Aliya juga mencoba menampilkan visual yang mirip figur dalam wayang golek, bahkan pada ujung eksplorasinya Aliya Murdoko mengintepetasi cerita Panji dalam style atau gaya lukisan abstrak simbolik,” jelasnya.

Kurator lulusan Unesa itu mencontohkan, pada karya terbaru Aliya berjudul “The Foggy Forest”, dengan media cat minyak dan akrilik di atas kanvas berukuran 150 x 300 cm.

Dalam lukisan ini cerita Panji dikerjakan dengan teknik oil on water yang direspon dengan goresan detail dengan cat akrilik sehingga menghasilkan layer-layer bentang landscape pengunungan dengan hutan berbukit-bukit yang diselimuti kabut. Sementara di tengahnya terdapat goresan kecil siluet dua penunggang kuda saling memacu kudanya yang akan bertemu pada satu titik.

“Mungkin ini interpretasi Aliya Murdoko tentang adegan pertemuan Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana di belantara hutan Jawa Timur dengan latar jauh Gunung Semeru. Ia Seolah ingin menggambarkan luasnya hati mereka sekaligus betapa berat dan berliku rintangan hidup mereka berdua demi saling memperjuangkan cinta sejati,” ujar Arik.

Arik juga berharap salah satu anak didiknya itu bisa konsisten mengeksplorasi cerita Panji dalam karya-karya lukisnya, tentunya dengan interpretasinya sendiri yang mungkin akan terus berkembang secara unik.

“Dengan begitu nanti diharapkan kekayaan tradisi lokal Jawa Timur khususnya daerah Malang akan terus berkembang sesuai perkembangan jaman,” harapnya.

Menurut Arik, sebagian bukti arkeologi tentang Cerita Panji adalah relief candi-candi di Jawa Timur yang dibangun pada jaman kerajaan Majapahit. Setidaknya ada 7 candi yang teridentifikasi menampilkan relief yang terilhami cerita Panji.

Adapun 7 candi itu adalah Candi Gajah Mungkur di lereng Gunung Penanggungan Mojokerto yang dibangun pada abad 15 Masehi, Candi Kendalisada di Gunung Penanggungan yang juga dibangun pada abad 15 Masehi.

Kemudian ada Candi Watang di Gunung Penanggungan yang dibangun pada abad 15 Masehi, Candi Gambyok di Kediri, Candi Kebo Ireng panel lepas di Pasuruan,Candi Sanggrahan berupa fragmen panel di Tulungagung, dan Candi Mirigambar di Tulungagung.

“Cerita Panji ini juga telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Memory of the World (MoW) tahun 2017. Dan cerita Panji ini berkembang mulai dari Jawa Timur pada abad ke-14 Masehi dan berkembang pesat pada masa Majapahit. Cerita Panji memiliki banyak versi, selain Jawa Timur juga tersebar ke Bali, Kalimantan, Sumatera bahkan negara Asean diantaranya Thailand, Kamboja, Laos, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Myanmar,” pungkas Arik.(*)

beritalima.com

Pos terkait