BANYUWANGI,Beritalima.com – Polemik pembangunan jembatan di Desa Sembulung, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, terus bergulir. Kali ini, sorotan datang dari material bangunan yang digunakan. Berdasarkan pantauan warga dan awak media saat proses pengerjaan, pasir yang digunakan diduga merupakan pasir leboh, bukan pasir berkualitas konstruksi seperti yang lazim digunakan untuk struktur jembatan.
Penggunaan pasir tersebut memicu kekhawatiran masyarakat, terlebih jembatan itu kini diketahui mengalami keretakan meski belum difungsikan. Warga menilai kualitas material menjadi salah satu faktor utama yang patut dipertanyakan.
Tokoh masyarakat Desa Sembulung, Dedi, menilai pemilihan material dalam proyek infrastruktur publik tidak boleh dilakukan sembarangan. Menurutnya, aturan umum pekerjaan konstruksi mewajibkan penggunaan material yang sesuai spesifikasi teknis dan peruntukannya.
“Dalam pekerjaan jembatan, material itu menentukan kekuatan dan umur bangunan. Kalau benar yang dipakai pasir leboh, itu harus diuji dan dipertanggungjawabkan. Tidak bisa asal pakai material murah tapi risikonya ditanggung masyarakat,” tegas Dedi.
Dedi menambahkan, dalam ketentuan umum konstruksi, material yang digunakan wajib memenuhi standar mutu tertentu. Apabila material tidak sesuai dengan spesifikasi dalam RAB dan dokumen teknis, maka hal tersebut berpotensi menjadi pelanggaran.
“Ini bukan soal dugaan semata. Ada aturan soal mutu bahan. Kalau spek minta pasir tertentu tapi yang dipakai berbeda, itu jelas masalah. Dampaknya bukan hari ini saja, tapi pada kekuatan dan umur jembatan ke depan,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh warga lain yang sehari-hari melintasi jalur tersebut. Mereka mengaku cemas dengan daya tahan jembatan jika sejak awal materialnya sudah diragukan.
“Jembatan itu bukan dipakai setahun dua tahun. Harusnya puluhan tahun. Kalau pasirnya saja sudah dipertanyakan, kami khawatir jembatan cepat rusak atau membahayakan pengguna,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Warga lain bahkan menyebut, kondisi tersebut membuat masyarakat waswas setiap kali nantinya harus melintas di atas jembatan tersebut.
“Kalau belum dipakai saja sudah retak, ditambah materialnya diragukan, kami takut ini jembatan tidak akan lama. Jangan sampai baru beberapa tahun sudah harus diperbaiki lagi, atau lebih parah membahayakan orang,” ungkap warga lainnya.
Sebagaimana diketahui, pembangunan jembatan di Desa Sembulung ini bersumber dari APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2025, melalui Dinas PUPR Cipta Karya, Perumahan dan Permukiman, dengan nilai anggaran Rp281 juta, dan dikerjakan oleh CV Wahyu Sejahtera.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak kontraktor maupun dinas terkait terkait jenis material pasir yang digunakan serta kesesuaiannya dengan spesifikasi teknis proyek. Warga mendesak agar dilakukan uji mutu material dan evaluasi teknis menyeluruh demi menjamin keselamatan dan umur jembatan.(Red//B5)







