Tim SAR Gabungan Evakuasi Korban Pesawat dari Medan Ekstrem

  • Whatsapp
Tim SAR Gabungan evakuasi korban pesawat dari medan ekstrem (foto: basarnas)

Makassar, beritalima.com| – Proses evakuasi korban pertama dan kedua dari kecelakaan Pesawat milik Indonesia Air Transport rute Yogyakarta–Makassar di kawasan Pegunungan Bulu Saraung, Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, dilakukan melalui operasi teknis berisiko tinggi di medan ekstrem dengan kedalaman mencapai ratusan meter.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC) Muhammad Arif Anwar menyampaikan bahwa tim SAR gabungan melakukan teknik rappeling di titik yang tidak jauh dari lokasi awal pesawat menabrak punggungan.

“Tim menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat dengan serpihan pesawat. Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang,” ujar Arif.

Sebanyak 10 personel dari unsur Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam diturunkan ke dasar jurang. Setibanya di bawah, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti celah jalur air sambil menelusuri jejak serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah.

Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan dengan posisi tersangkut di dahan pohon. JMembawa jenasah dari daerah terjal dengan cuaca buruk sangat sulit, sehingga tim mesti beristirahat untuk keselamatan bersama. Tim memutuskan untuk istirahat/bermalam bersama jenasah hingga 30 jam  di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor akibat hujan yang tidak berhenti.

Baru esok siang harinya (19/1), dilakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan keselamatan personel sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan evakuasi hingga 20 jam menuju kampung terdekat (20/1) dan diserahkan ke RS Bhayakara, Makassar.

Evakuasi korban kedua juga menghadapi tabntangan serupa. Proses evakuasi dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian, mengingat kondisi geografis berupa lembah curam, tebing terjal, serta jarak pandang terbatas akibat hujan dan kabut.

“Evakuasi korban membutuhkan teknik vertical rescue dan koordinasi lintas unsur yang sangat ketat. Tim bekerja dari lembah menuju puncak dengan peralatan khusus, dan saat ini sementara menuju ke Posko Tompobulu, untuk kemudian diserahkan ke tim DVI,” cerita Arif, yang juga mengemukakan Tim SAR gabungan melibatkan lebibh dari seribu personil.

Jurnalis: abri/rendy

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait