BANYUWANGI,Beritalima.com – Ribuan ketupat berisi uang pecahan menjadi pemandangan tak biasa dalam Tradisi Gelar Pitu yang digelar masyarakat adat Osing di Dukuh Talun Jeruk, Desa Glagah, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jumat (27/3/2026). Tradisi turun-temurun yang dilaksanakan setiap 7 Syawal ini kembali berlangsung meriah, sarat makna spiritual dan kearifan lokal.
Gelar Pitu merupakan ritual sedekah bumi yang dipercaya sebagai bentuk rasa syukur sekaligus permohonan perlindungan dari marabahaya atau tolak bala. Tahun ini, tradisi tersebut dipadati warga yang sejak siang hari telah berbondong-bondong menyaksikan prosesi sakral yang hanya digelar setahun sekali, tepat tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Ritual diawali dengan pengumpulan ketupat dari warga. Setiap rumah tangga diminta menyiapkan tujuh ketupat yang tidak berisi beras, melainkan uang dengan nominal bervariasi, mulai Rp2.000 hingga Rp100.000. Ketupat-ketupat itu kemudian disusun menjadi gunungan dan diarak keliling kampung, diiringi kesenian tradisional seperti barong, kuntulan, gamelan, hingga angklung paglak khas Banyuwangi.
Sebelum diarak, gunungan ketupat bersama barong terlebih dahulu disucikan menggunakan air dari tujuh mata air yang ada di desa. Air tersebut dipercikkan sebagai simbol penyucian, disertai lantunan doa oleh tetua adat agar masyarakat diberi keselamatan dan keberkahan.
Arak-arakan kemudian menyusuri gang-gang perkampungan hingga area persawahan, menuju makam Buyut Saridin—leluhur yang dihormati warga setempat. Di lokasi tersebut digelar selamatan dan makan bersama menggunakan ancak atau alas dari pelepah pisang dalam tradisi yang dikenal sebagai kopat lodoh.
Puncak acara pun menjadi momen yang paling ditunggu. Setelah kembali didoakan dan diperciki air suci, gunungan ketupat diperebutkan warga. Mereka meyakini, siapa yang mendapatkan ketupat tersebut akan memperoleh keberuntungan dan kelancaran rezeki sepanjang tahun.
“Setelah Gelar Pitu, masyarakat yang merantau baru boleh kembali bekerja. Ini bagian dari tradisi bersih desa agar semua diberi keselamatan,” ujar Sanusi Marhendi (69), budayawan sekaligus pendiri Komunitas Kopat.
Ia menjelaskan, Gelar Pitu berasal dari kata “gelar” yang berarti menata, dan “pitu” yang bermakna pitutur atau wejangan. Tradisi ini merujuk pada pesan Buyut Saridin yang mewajibkan keturunannya menggelar sedekah bumi sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga keseimbangan hidup.
Kepala Desa Glagah, Slamet Priyo Widodo, mengaku bangga tradisi ini tetap lestari di tengah modernisasi. “Kami berharap Gelar Pitu terus dijaga sebagai warisan budaya yang memperkuat identitas Banyuwangi,” ujarnya.
Sementara itu, budayawan Aekanu Hariyono menilai Gelar Pitu bukan sekadar ritual adat, tetapi juga cerminan spiritualitas dan solidaritas masyarakat Osing. Tradisi ini, kata dia, menjadi simbol kebersamaan sekaligus upaya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan dikenal luas.
“Intinya adalah rasa syukur kepada Tuhan sekaligus memohon keselamatan dari segala marabahaya, termasuk penyakit dan gangguan lainnya,” pungkasnya.(Red//B5)








