Wakil Menteri Ni Luh Puji Tradisi Blangikhan Hidupkan Pariwisata Budaya Lampung

  • Whatsapp
Wamen Ni Luh puji tradisi Blangikhan hidupkan pariwisata budaya Lampung (foto: kemenpar)

Lampung Tengah, beritalima.com|- Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa puji penyelenggaraan Tradisi Blangikhan di Lampung Tengah sebagai wujud nyata pariwisata yang tumbuh dari inisiatif  dan budaya masyarakat.

Menurut Ni Luh, tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mampu mendorong kesejahteraan ekonomi lokal melalui penguatan ekosistem pariwisata berbasis budaya dan spiritual.

Dalam sambutannya di Nuwo Balak, Lampung Tengah (18/2), Ni Luh menyatakan pengembangan pariwisata berbasis budaya dan spiritual merupakan bagian integral dari strategi nasional pariwisata Indonesia. Menurutnya, budaya adalah napas dari pariwisata berkualitas, pariwisata yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berakar kuat pada identitas bangsa.

Keterlibatan pengusaha UMKM dalam rangkaian kegiatan Blangikhan turut memperkuat dampak positif kegiatan ini. Kehadiran produk-produk lokal dalam setiap perayaan budaya menjadi bukti bahwa tradisi mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat.

“Inilah wujud nyata pariwisata yang tumbuh dari masyarakat, dikelola bersama, dan memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan lokal,” kata Ni Luh Puspa, didampingi Anggota DPR RI Komisi VII Rycko Menoza, Plt. Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri, serta jajaran pemerintah daerah Provinsi Lampung.

Tradisi Blangikhan, atau yang juga dikenal sebagai Blangiran, merupakan kearifan lokal masyarakat Lampung berupa ritual penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Prosesi ini dilakukan melalui penyiraman diri menggunakan air dari tujuh mata air sebagai simbol pembersihan lahir dan batin.

Dilandasi nilai spiritual yang kuat, tradisi ini mengajak masyarakat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, memperkuat kesiapan mental dan spiritual, serta menata diri dalam menyambut ibadah Ramadan. Pelaksanaan yang berlangsung secara turun-temurun ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Tradisi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan yang dapat menjadi fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan,” ujar Wamenpar.

Penguatan tradisi dan budaya lokal sejalan dengan tren positif sektor pariwisata Indonesia sepanjang 2025. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) atau internasional tercatat mencapai 15,39 juta kunjungan, tumbuh 10,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,20 miliar perjalanan, meningkat 17,55%.

Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional terus menunjukkan dampak signifikan. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,11% dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp23.821 triliun. Sektor pariwisata menyumbang sebesar 3,97% terhadap PDB nasional. Jika memperhitungkan dampak lanjutan ke sektor-sektor terkait, total kontribusinya dapat mencapai 4,80% atau setara Rp946 triliun hingga Rp1.143 triliun.

“Kita dorong desa-desa wisata di Provinsi Lampung agar semakin berkualitas dan memiliki daya saing, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” ajak Wamenpar, sambil membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan agar Tradisi Blangikhan dapat dikembangkan sebagai agenda tahunan yang semakin berkualitas dan berkelanjutan.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyampaikan, provinsinyanya kini menempati posisi ke-9 dalam daftar 10 wilayah dengan kontribusi kunjungan wisatawan terbanyak di Indonesia. Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama dalam membangun ekosistem pariwisata yang lebih optimal dan terintegrasi.

Jurnalis: abri/rendy

beritalima.com

Pos terkait