72. Antara Balqis dan Konflik Palestina vs Israel

  • Whatsapp

Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
(Hakim PTA Jayapura)
Serangan Hamas Sabtu dini hari 7 Oktober itu terjadi saat warga Israel sedang merayakan festival Sukkot. Sukkot atau perayaan Tabernakel sendiri adalah sebuah Hari Raya Yahudi sebagai perayaan pengucapan syukur bagi Israel atas hasil panen yang dirayakan selama tujuh hari pada bulan purnama di antara bulan September dan Oktober. Tepatnya, hari raya ini dilaksanakan pada 15 Tishri menurut Kalender Yahudi. Perayaan ini disebut dengan “Sukkot” dalam bahasa Ibraninya karena aspek utama dari festival ini adalah sebuah pondok (sukkah). Perayaan ini adalah salah satu dari 3 hari raya peziarahan bagi orang Yahudi, selain Shavuot dan Pesakh. Pada masa perayaan ini, umat Yahudi berziarah ke Bait ELHYM di Yerusalem sambil membawa persembahan. Setiap keluarga Yahudi membangun sebuah pondok berdinding tiga dan memiliki atap yang terbuat dari ranting palem dan dedaunan. Pondok-pondok tersebut disiapkan untuk menyambut tujuh tamu mistis, yaitu Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Harun, Yusuf, dan Daud yang dipercaya akan datang ke pondok yang dibuat itu selama festival tersebut berlangsung.

Sebagaimana yang diperkiraan para pengamat, bahwa serangan masif Hamas itu di hari penting itu pasti akan membuat Israel marah besar. Sebagaimana kita saksikan, kini 5000 roket pertama yang telah diluncurkan Hamas itu, mengakibatkan Israel melakukan serangan balik ke Gaza secara super brutal. Serangan udara yang tidak mengenal lelah itu, telah membumihanguskan hampir seluruh bangunan yang ada, termasuk fasilitas umum (rumah sakit, masjid, gereja, dan lain-lain). Korban manusia (yang meninggal dan luka) sudah nyaris tak terhitung jumlahnya. Pemandangan mengerikan tiap hari kita saksikan. Isu HAM, yang di saat aman sering menjadi nyanyian Barat, kini nyaris sama sekali juga tidak terdengar dari para pemimpin Barat.

Saat melihat korban-korban yang ditimbulkan perang itu, tokoh agama (Indonesia) ternyata beragam. Secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam madzhab besar. Ada yang mendukung serangan Hamas dan ada yang menyayangkan. Keduanya tentu memiliki sejumlah argumen rasional, setidaknya menurut kelompoknya masing-masing.
Akan tetapi, terlepas pro kontra yang ada semua pihak tentu menyadari bahwa akibat perang dengan sejumlah kerusakan infra sutruktur dan lingkungan yang dapat dipastikan membuat rakyat sipil menderita. Hal ini pula yang secara cerdas telah dihindari oleh Super Queen Balqis ketika para pembesarnya memberikan pertimbangan untuk mengerahkan pasukan besarnya menghadapi Nabi Sulaiman. Naihat para pembesarnya bernuansa agresif ini pun ditolak dengan pertimbangan yang sangat legendaris. Dalam Al Qur’an Surat An Namel ayat 34 Allah mengabadikan pertimbangan beliau: “Dia (Balqis) berkata: ”Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakan, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat”. Demi menghindar akibat negatif perang tersebut, kemudian beliau pun memilih jalur ‘diplomatik’ dengan mengirim utusan untuk menemui Nabi Sulaiman dengan sejumlah hadiah, sebagaimana tertuang dalam ayat berikutnya.

Dari kisah Balqis tersebut, setidaknya ada 3 (tiga) nilai universal yang dapat dijadilan pelajaran, yaitu: pertama, setiap pemimpin harus menyadari akibat negatif perang yang boleh jadi tidak mencerminkan keinginan mayoritas rakyatnya. Kedua, bahwa selama masih ada jalan lain menghindari perang jalur seperti melalui diplomatik, upaya itu perlu ditempuh secara maksimal. Dua hal itu kini telah dilakukan oleh dunia Arab (seperti Mesir, Yordania, Saudi Arabia) dalam menyikapi Israel.Ketiga, perang hanya merupakan alternatif terakhir jika semua alternatif sudah tertutup.

Jika sejak dahulu perang telah disadari akan membawa petaka kemanusiaan tentu lebih-lebih sekarang. Perang di zaman modern dengan persenjataan super canggih tentu dapat mempunyai efek membuat kerusakan lebih masif dalam waktu singkat dan sering tidak dapat diprediksi. Karena tidak dapat diprediksi sehingga akibat perang juga sering tidak terduga. Siapa yang dapat bersembunyi atau sempat berlari dari persenjataan canggih yang dapat menyasar objek hanya dalam hitungan detik.

Nilai-nilai tersebut dalam konteks konflik Palestina-Israel sebenarnya masih tetap relevan. Hanya saja siapa yang demi rakyatnya, rela menjadi Balqis yang dengan segenap kebesaran hatinya dapat ‘mengakui’ eksistensi kebesaran Sulaiman, sebagai King of the King waktu itu.

beritalima.com

Pos terkait