Bangkit dari Pandemi: “Ini Kata Wabup Hj. Dewi Khalifah”

  • Whatsapp
Wakil bupati Sumenep, Hj. Dewi Khalifah mengunjungi tempat produksi pembuatan kerupuk rambak di kampung Karang Panasan desa Pabian Kecamatan Kota Sumenep

SUMENEP, beritalima.com| Evi Megawati, SE. Warga Kampung Karang Panasan Desa Pabian Kabupaten Sumenep nampak mengatur potongan kulit kerbau dan sapi diatas anyaman bambu. Sinar mentari yang menyengat menjadi berkah bagi Evi Megawati ( pengusaha kerupuk rambak) “SAE’. Sebab saat kondisi panas ini kulit bahan kerupuk rambak (kulit) bisa kering sempurna.

Wakil bupati Sumenep, Hj. Dewi Khalifah mengunjungi tempat produksi pembuatan kerupuk rambak di kampung Karang Panasan desa Pabian Kecamatan Kota Sumenep

Wakil bupati Sumenep, Hj. Dewi Khalifah yang datang mengunjungi tempat produksi pembuatan rambak tersebu pada Kamis (26/ 08/ 2021)  juga meninjau dan mempraktekkan secara langsung proses pembuatannya. Orang nomor satu dan dua di Kabupaten Sumenep tersebut, tidak segan – segan untuk mencoba praktek bersama serta mencicipinya.

Bacaan Lainnya

“Rambaknya enak, renyah dan punya cita rasa yang khas,” ujar Wakil bupati Sumenep Hj. Dewi Khalifah.

Kunjungan tersebut, merupakan bagian dari agenda Tilik Kembang Desa (TKD) Home Industri di Kecamatan kota Sumenep.

Tujuan Kunjungan ke home industri ini, Wakil Bupati ingin menyerap aspirasi seluruh warga, baik itu menyangkut kendala maupun persoalan yang dihadapi dalam mengembangkan usaha. Wakil Bupati juga mengaku akan menindaklanjuti keluhan setiap warga dengan mengupayakan solusi.

Wakil Bupati Sumenep akan menilai setiap potensi di desa, termasuk usaha kecil mikro harus terus didukung dan dikembangkan agar lebih maju. “Dengan semakin berkembangnya usaha warga, maka dengan begitu kesejahteraan warga desa juga akan ikut meningkat”, demikian ucap wanita yang aktif di berbagai organisasi ini.

Wabup Nyai Eva juga menyambung himbauan berpesan, “Dalam situasi seperti ini, masyarakat tetap harus mengikuti protokol 3M, terutama untuk kerumunan penting sekali kita hindari. Pemerintah kita tentunya memperkuat 3T, selain kita juga harus mengikuti langkah-langkah pemerintah terutama pada saatnya masyarakat harus siap vaksinasi,” tutupnya.

Evi menjelaskan omzet penjualan kerupuk rambak mengalami penurunan sejak pandemi Covid -19 tahun lalu. Bahkan pada awal pandemi, penjualan kerupuk rambak alami stagnasi (mandeg), lantaran kondisi ekonomi masyarakat yang terpukul pandemi Covid-19.

Meski demikian, dirinya tak mau menyerah begitu saja. Dengan dibantu 10 karyawannya, Evi berupaya agar bahan kulit yang dibeli bisa tetap diolah menjadi kerupuk. Usaha tak mengkhianati hasil. Dengan kegigihannya, usaha kerupuk rambak milik keluarganya mampu bertahan dari hantaman pandemi Covid -19.

Sebelum diolah menjadi kerupuk, kulit sebelumnya dibersihkan bulunya dengan menggunakan air kapur. Lalu kulit direbus hingga dan ditiriskan. Selepas ditiriskan, kulit lalu dipotong sesuai ukuran.

Selanjutnya kulit dijemur hingga benar-benar kering selama 7 hari. Selepas kering, kulit lalu diberi bumbu dan siap untuk digoreng menjadi kerupuk.

“Untuk pemasaran, kerupuk rambaknya sudah terjual hingga keluar pulau madura. Selain partai besar, dirinya juga melayani kerupuk dalam kemasan kecil. Untuk kemasan kecil, biasanya dititipkan ke warung-warung di Sumenep dan sekitarnya.

(An)

 

 

 

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait