Beras Bulog Sukoharjo Dikirim ke PT Freeport

  • Whatsapp

Sukoharjo — Beras produk Perum Bulog kini jangan lagi dipandang sebelah mata. Jangan lagi ada anggapan berasnya bau apek atau banyak kutu. Setelah memodernisasi infrasttukturnya, Bulog kini boleh bangga dengan produknya. Bahkan perusahaan besar Freeport pakai beras produk BUMN ini.

Saat ini Bulog terus meningkatkan kualitas produknya dengan telah memiliki mesin pengolahan gabah dan beras Modern Rice Millinh Plan (MRMP) seperti yang ada di Kendal dan mesin Rice to Rice (RTR) di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sekretaris Perusahaan Bulog, Awaludin Iqbal mengatakan, dengan adanya 10 MRMP dan RTR yang tersebar d8beberapa daerag akan membantu Bulog meningkatkan kualitas cadangan beras pemerintah (CBP) secara bertahap, yang disalurkan melalui operasi pasar dan bantuan sosial (bansos). Adapun RTR Sukoharjo di Jawa Tengah memiliki kapasitas simpan hingga 250 ton.

“ Kita akan menjadikan beras Bulog itu berkualitas,” ujar Awaludin kepada wartawan pada acara Presstour di fasilitas RTR Sukoharjo, belum lama ini.

Awaludin mengatakan kualitas CBP untuk operasi pasar maupun bansos memang hanya sampai tingkat medium. Sementara itu, untuk beras komersial, BULOG memproduksi sampai kualitas premium.

“Jadi CBP itu kan hanya dari sisi status berasnya yang ditugaskan pemerintah. Tapi dari sisi kualitasnya, komersial bisa medium dan premium. Kalau CBP hanya sampai medium kalau sampai saat ini,” tutur Awaludin.

Sementara itu, Operation Manager RTR Sukoharjo Wisnu Sancoyo mengatakan sarana penggilingan ini tidak hanya melayani pesanan beras berkualitas di sekitar kawasan, tapi juga hingga ke Papua seperti yang dipesan oleh PT Freeport Indonesia.

“Kita tidak membatasi layanan penjualan. Bahkan kemarin ada pesanan beras dengan (merek) Kota Radja dari Freeport,” ujar Wisnu Sancoyo.

Namun, Wisnu menyangkal beras hasil penggilingan dari Papua memiliki mutu lebih rendah dibanding Sukoharjo. Adapun pesanan Freeport yang datang padanya lebih kepada urusan selera.

“Bukan (karena secara kualitas lebih rendah), lebih karena kecocokan saja. Beras yang dari sana kan lebih keras, mungkin mereka lebih sesuai dengan yang ada di sini,” ungkapnya.

Wisnu melanjutkan untuk RTR Sukoharjo memiliki kapasitas produksi antara 6-7 ton per jam. Sehingga produksi beras yang bisa dihasilkan dalam sehari bisa mencapai 48 ton.

Menurut dia, target tersebut berlaku untuk seluruh pabrikan RTR yang dimiliki Bulog. Tak hanya hasil produksi, Bulog juga mematok target omzet dari masing-masing RTR sekitar Rp 2 miliar per bulan.

“Target ini sama dengan RTR lainnya. Kita lebih target kepada omzet sih, minimal Rp2 miliar per bulan,” kata Wisnu.

Rice to Rice (RTR) sendiri merupakan sarana penggilingan modern untuk mengolah ulang beras asalan menjadi beras sesuai permintaan pasar. Fungsinya berbeda dengan MRMP, yang memfasilitasi proses penggilingan dari gabah petani hingga menjadi beras.

Saat ini, total Bulog memiliki 7 RTR yang tersebar di DKI Jakarta, Indramayu, Sukoharjo, Sidoarjo, Lombok Timur, Makassar, dan Sidrap. (ar)

Mesin RTR Bulog Sukoharjo, Jawa Tengah

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait