Cheng Hoo, Simbol Modal Sosial dalam Peradaban Manusia

oleh -404 views

Oleh : Lia Istifhama, MEI
Ketua III STAI Taruna Surabaya

beritalima.com | Konferensi International Zhenghee (Chenghoo) ke 5 yang diadakan Zhenghe International Peace Foundation (ZIPF) bekerjasama dengan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia menjadi perhatian publik. Acara yang sebelumnya berlangsung di Malaysia, Dubai, Khazakhstan dan Pakistan, kali ini menjadikan Surabaya sebagai tuan rumah. Tak ayal, konferensi yang dihadiri 58 peserta asing, menjadi salah satu gawe besar bagi Pemprov Jatim selain Porprov Jatim VI yang telah berakhir pada 13 Juli lalu.


Banyak alasan mengapa Konferensi ini layak diperbincangkan. Alasan utama adalah redaksional nama besar Zhenghee atau disebut Cheng Hoo.
Nama Cheng Hoo seperti diketahui banyak orang, merupakan Laksamana Muhammad Zhenghee (Cheng Hoo), pelaku muhibah legendaris dari Tiongkok. Cheng Hoo melakukan tujuh kali pelayaran besar ke Asia Tenggara sampai Afrika Timur dalam kurun waktu 1405-1433 M. Perjalanan hidup Cheng Hoo yang memiliki nama kecil Ma He, menjadi inspirasi tersendiri. Tentang bagaimana seorang anak yang hidup dari wilayah terpencil di Mongolia, kemudian tokoh yang melegenda.

Cheng Hoo di masa remajanya, mengalami peperangan dan dijadikan kasim (eunuch) pada usia 12 tahun. Perlakuan kejam (dikebiri) pun dialaminya agar tidak bisa memiliki keturunan. Namun kepahitan tersebut tak menghalanginya menjadi seorang pelayan berprestasi di masa Dinasti Ming hingga akhirnya ketika dewasa, menjadi Laksamana pada kepemimpinan Kaisar Zhu De. Laksamana berpostur besar tersebut menjadi pemimpin muhibah guna mengangkat nama Kaisar Tiongkok sebagai Putra Dewata (the Sun of Heaven) di wilayah-wilayah asing.

Namun Cheng Hoo ternyata di dalam muhibahnya juga melakukan misi hablum minannas, yaitu membangun silaturahmi pada masyarakat lokal yang sekaligus merupakan misi dakwah mengenalkan agama Islam. Cheng Hoo selalu berhasil membangun hubungan baik dengan masyarakat setempat karena dalam ekspedisinya, tidak pernah melakukan perebutan wilayah atas wilayah yang dikunjungi sekalipun saat itu Cheng Hoo memiliki armada terbesar dalam sejarah kemartiiman, yaitu berbobot 2700 metrik ton dan berisi 60 buah kapal harta (baochuan). Kapal armada Cheng Hoo diyakini jauh lebih besar dari yang digunakan Columbus (1492) dan Vasco da Gama (1497).

Cheng Hoo bukan hanya seorang manusia yang mampu menunjukkan kemuliaan silaturahmi dan toleransi, namun kepiawaian dalam bermuhibah. Cheng Hoo menerapkan empat strategi sekaligus, yaitu strategi dakwah dan berdagang Rasulullah SAW, manajemen Tao Zhugong, Confuciusme, dan Lautze. Strategi dakwah ialah pola silaturahminya yang membuat kekaguman orang asing, sedangkan strategi perdagangannya ialah dengan mengenalkan barang-barang Tiongkok pada setiap wilayah yang dikunjungi, seperti sutra, keramik porselen, berbagai logam mulia, kertas, teh, obat-obatan, alat pertanian, dan sebagainya. Selain telah berhasil mengenalkan produksi Tiongkok, Cheng Hoo pun selalu membawa barang atau hasil alam khas dari daerah yang dikunjunginya. Sebagai contoh ketika ia melakukan muhibah ke Nusnatara (wilayah Indonesia), ia membawa berbagai hasil bumi yang tidak didapatinya di Tiongkok untuk kemudian dikembangkan di Tiongkok.

Cheng Hoo bukan hanya menyisakan kisah tentang Laksamana yang cerdas dan piawai dalam interaksi sosial, namun juga memberi pengetahuan penting dalam kelautan. Sebagai contoh, muhibahnya di Nusantara telah memunculkan 24 peta pelayaran yang sebelumnya tidak ada yang mengetahui, Cheng Hoo pun mengkaitkan jalur-jalur regional dalam perdagangan, yaitu jalur rempah-rempah dan jalur sutra yang menghubungkan dunia Timur dengan Barat. Dalam berdagang,

Cheng Hoo juga mengajarkan teknik-teknik berkaitan barang yang ia datangkan dari Tiongkok, seperti teknik pertanian, perniagaan, dan sebagainya.
Cheng Hoo, yang berhasil menciptakan hubungan sosial antar wilayah, akhirnya menutup usia di dalam perjalanan kolosalnya. Kepergian Cheng Hoo memang menjadikan ekspedisinya merupakan ekspedisi kolosal terakhir yang dilakukan Tiongkok, namun juga pembuka hubungan Tiongkok dengan wilayah asing. Nama besar Cheng Hoo menjadikan Tiongkok mudah diterima oleh wilayah yang pernah dikunjungi oleh Cheng Hoo.

Fakta tersebut menjadi jawaban mengapa nama Cheng Hoo kemudian diabadikan, yang salah satunya dalam konferensi internasional tahunan yang kini berlangsung di Jatim Expo. Adalah Cheng Hoo, yang sikap tolerasi dan silaturahminya menjadikan inspirasi bagi Zhenghe International Peace Foundation (ZIPF) untuk membentuk “Zheng He International Peace Award”. Penghargaan ini ditujukan pada siapapun yang berhasil mengagas persahabatan Tionghoa dan Muslim. 2006, penghargaan tersebut diraih oleh Bambang Suyanto atas upayanya membangun masjid Cheng Hoo di Surabaya. Masjid yang merupakan simbol Muslim Tionghoa juga berdiri di Purbalingga, Pasuruan, Palembang, dan Samarinda.

Berdirinya masjid-masjid Cheng Hoo tidak perlu diragukan sebagai salah satu pondasi peradaban persaudaraan antara Muslim dan Tionghoa. PITI, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, bukan saja wadah muslim Tionghoa, namun juga muslim nusantara, seperti Jawa. Cheng Hoo juga memberikan dampak positif bagi hubungan perniagaan antara Tionghoa dan pribumi.

Inilah realita terwujudnya modal sosial seperti yang diungkap oleh Pierre Bourdieu, “Social capital is the sum of resources, actual or virtual, that accrue to an individual or a group by virtue of possessing a durable network of more or less institutionalized relationships of mutual acquaintance and recognition” (modal sosial merupakan sekumpulan sumberdaya aktual maupun potensial dan kekuasaan yang terkait dengan pemilikan suatu jaringan yang tahan lama dari hubungan-hubungan yang sudah terlembagakan dan bisa dipergunakan dengan tujuan saling menguntungkan).