Dr. Andi Syukri Syamsuri, M.Hum: Guru Abad 21 Dituntut Ubah Pola Pembelajaran

oleh -189 views

YOKYAKARTA. Pembelajaran abad 21 menjadi keharusan untuk mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi, serta pengelolaan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Demikian ditegaskan Wakil Rektor II Unismuh Makassar, Dr. Andi Syukri Syamsuri, M.Hum, kepada media di Jokyakarta, Senin (19/11/2018)

Dalam mengembangkan pembelajaran abad 21, guru dituntut merubah pola pembelajaran konvensional.


Pola ini berpusat pada guru (teacher centred) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centred), tandas doktor linguistuik PPs-Unhas ini.

karena sumber belajar melimpah bukan hanya bersumber guru, sehingga peran guru menjadi fasilitator, mediator, motivator sekaligus leader dalam proses pembelajaran.

Karateristik siswa abad 21 sangat berbeda dengan siswa era sebelumnya.

Pada Abad 21 ini seseorang harus memiliki keterampilan 4 C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation).

Keterampilan ini sudah semestinya tercermin dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh seorang guru, ungkap anggota Tim Seleksi Anggota KPU Sulsel 2018 ini

Keterampilan abad 21 dapat di integrasikan dalam pelaksanaan pembelajaran, sehingga pilihan metode, media dan pengelolaan kelas benar-benar meningkatkan keterampilat tersebut.

Karena itulah menjadi keharusan kemampuan pedogogi guru menyesuaikan dengan karateristik dan keterampialn yang diperlukan di abad 21.

Beberapa hal yang penting diperhatikan oleh guru untuk mengembangkan pembelajaran abad 21 ini, yaitu (1) penguatan tugas utama sebagai perancang pembelajaran.

Kedua, menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking), ketiga menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi, serta keempat mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.

Secara umum kemampuan pedogogi guru abad 21 dalam mengelola pembelajaran mencakup kemampuan menyusun perencanaan pembelajaran, melaksanaan pembelajaran.

Serta penilaian prestasi belajar siswa, dan melaksanaan tindak lanjut hasil penilaian dengan prinsip-prinsip pembelajaran kekinian (digital age), tegas Ketua Wilayah IX Sulawesi, Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta Indonesia Wilayah IX Sulawesi (ALPTKSI) ini. (yahya).