Gelora Kutuk Aksi Polisi Israel Terhadap Jemaah Palestina di Masjidil Al-Aqsa

  • Whatsapp

JAKARTA, Beritalima.com– Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Muhammad Anis Matta mengutuk aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan atau polisi Israel terhadap ribuan jemaah di Masjidil Al Aqsa, Jumat (7/5) malam waktu setempat, yang mengakibatkan ratusan orang terluka, termasuk seorang balita.

“Partai Gelora meminta Israel menghormati hak-hak asasi warga Palestina untuk menjalankan ibadah tanpa ancaman kekerasan aparat Israel,” jelas Anis dalam keterangan pers yang diterima awak media, Minggu (9/5).

Menurut Anis, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan komunitas internasional harus melakukan intervensi untuk mendesak Israel agar menghormati hukum internasional dan hak-hak asasi rakyat Palestina, termasuk dalam beribadah.

Politisi senior tersebut mengaku, prihatin mendengar berita kerusuhan yang terjadi di Masjidil Al Aqsa dan meminta agar penggunaan kekerasan segera diakhiri supaya tidak jatuh korban lebih banyak, terutama saat menjelang Eid al-Fitri (Idul Fitri).

“Penggunaan kekerasan yang berlebihan oleh aparat Israel dengan menembakkan peluru karet dan granat kejut kearah massa bulan suci Ramadhan, saat dimana puluhan ribu jemaah Muslim sedang berupaya menjalankan ibadah adalah sebuah keputusan yang hanya akan semakin memperuncing permasalahan,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Gelora Indonesia, Fahri Hamzah menilai apapun pertimbangan keamanan Israel mengenai besarnya kerumunan jemaah yang hendak beribadah menyambut malam Laylat al-Qadr, harusnya pemerintah Israel bekerjasama dengan pihak otoritas Palestina,  bukan secara sepihak sehingga tidak mengakibatkan ketegangan kian memuncak dan memancing aksi kerusuhan.

“Keamanan Israel juga terlalu mudah menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, ketimbang mengedepankan dialog dan pendekatan kemanusiaan,” kata Fahri. politisi senior asal Sumbawa ini.

Fahri, yang hufa Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Kokesra) mengatakan, insiden tersebut merupakan kekerasan terburuk di Al Aqsa sejak beberapa tahun terakhir. “Hal ini titik kulminasi berbagai kebijakan pemerintah Israel yang semakin keras dalam menindas hak-hak asasi rakyat Palestina,” ujar dia.

Fahri menilai kebijakan pemerintah Israel yang melakukan penggusuran untuk membangun pemukiman buat warganya,  pembatasan mobilitas warga Palestina, termasuk dalam menjalankan ibadah ke Al Aqsa, adalah kebijakan yang cenderung apartheid dan menghancurkan rasa percaya antara warga Israel dan Palestina.

“Sangat disayangkan bahwa pemerintah Israel terus menerus memainkan eskalasi ketegangan di antara warga Israel dengan warga Palestina demi mempertahankan kekuasaannya ketimbang berupaya mencari solusi politik yang adil dan damai demi kepentingan dan kesejahteraan bersama.”

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Gelora Indonesia, Henwira Halim menambahkan, solusi politik itu hanya bisa dicapai jika ada upaya serius untuk membangun kembali kepercayaan antara warga Israel dan Palestina agar perundingan dapat berlangsung dengan konstruktif. “Akan sulit untuk melakukan perundingan, mencari kata sepakat jika berbagai kebijakan destruktif pemerintah Israel terhadap rakyat Palestina terus berlangsung.”

Sebab itu, ia meminta pemerintah Indonesia, PBB, komunitas internasional atas nama kemanusiaan yang adil dan beradab agar sesegera mungkin mendesak Israel menghentikan perbuatan melawan hukum Israel.

Yakni aksi penggusuran pemukiman Palestina, termasuk rencana penggusuran warga di pemukiman Sheikh Jarrah dan Silwan di Jerusalem.

“Sulit membayangkan bahwa pemerintah Israel akan sukarela duduk di meja perundingan untuk mencapai sebuah solusi politik yang adil dan damai, tanpa adanya intervensi PBB dan komunitas internasional,” tegas Henwira.

Seperti diketahui, Bulan Sabit Merah Palestina dalam sebuah pernyataan mengatakan, Masjid Al Aqsa, gerbang Damaskus Kota Tua dan distrik Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur mengalami penyerangan, Jumat, (7/5) malam.

Polisi Israel menyerang jemaah yang sedang tarawih di Masjid al-Qiblatain di dalam Al Aqsa dengan granat kejut dan peluru karet. Mereka berusaha membubarkan ibadah khusus di malam Ramadhan itu, sementara jemaah terus melakukan tarawih. Penyerangan polisi Israel mengakibatkan 178 orang luka-luka. (akhir)

Pos terkait