Hari Ini Persebaya Ulangtahun ke 89

  • Whatsapp

18 Juni 1927 -18 Juni 2016
Catatan: Yousri Nur Raja Agam *)

Riwayat Persebaya
Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Juni 1927. Pada awal berdirinya, Persebaya bernama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Pada saat itu di Surabaya juga ada klub bernama Sorabaiasche Voebal Bond (SVB), bonden (klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya.
Pada tanggal 19 April 1930, SIVB bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung (sekarang Persib Bandung), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI). Pertemuan itu diadakan di Societeit HadiprojoYogyakarta. SIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh M. Pamoedji. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. SIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1938 meski kalah dari VIJ Jakarta.
Ketika Belanda kalah dari Jepang pada 1942, prestasi SIVB yang hampir semua pemainnya adalah pemain pribumi dan sebagian kecil keturunan Tionghoa melejit dan kembali mencapai final sebelum dikalahkan oleh Persis Solo. Akhirnya pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Pada era ini Persibaja diketuai oleh Dr. Soewandi. Kala itu, Persibaja berhasil meraih gelar juara pada tahun 1950, 1951 dan 1952.
Tahun 1960, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya juga istimewa. Persebaya adalah salah satu raksasa perserikatan selain PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta. Dua kali Persebaya menjadi kampiun pada tahun 1978 dan 1988, dan tujuh kali menduduki peringkat kedua pada tahun 1965, 1967, 1971, 1973, 1977, 1987, dan 1990.
Prestasi gemilang terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi bertajuk Liga Indonesia sejak 1994. Persebaya merebut gelar juara Liga Indonesia pada tahun 1997. Bahkan Persebaya berhasil mencetak sejarah sebagai tim pertama yang dua kali menjadi juara Liga Indonesia ketika pada tahun 2005 Green Force kembali merebut gelar juara. Kendati berpredikat sebagai tim klasik sarat gelar juara, Green Force juga sempat merasakan pahitnya terdegradasi pada tahun 2002 lalu. Pil pahit yang langsung ditebus dengan gelar gelar juara Divisi I dan Divisi Utama pada dua musim selanjutnya.

Pemain Terkenal
Persebaya juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional Indonesia baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Abdul Kadir,Rusdy Bahalwan, Rudy Keltjes, Didiek Nurhadi, Soebodro, Riono Asnan, Yusuf Ekodono, Syamsul Arifin, Subangkit, Mustaqim, Eri Irianto, Bejo Sugiantoro, Anang Ma’ruf,Hendro Kartiko, Uston Nawawi, Chairil Anwar, dan Mursyid Effendi merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persebaya dan ada satu lagi pemain Persebaya yang sekarang Mamang terkenal walaupun kecil tapi larinya sangat kencang siapa siapa yang tidak tahu dengan nama Andik Vermansyah.
Salah satu yang cukup dikenang adalah Eri Irianto, pemain timnas era 1990-an yang meninggal dunia pada tanggal 3 April 2000 setelah tiba tiba menderita sakit saat Persebaya menghadapi PSIM Yogyakarta dalam pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia 1999/2000. Eri Irianto meninggal di rumah sakit pada malam harinya. Nama Eri kemudian dipakai sebagai nama Wisma/Mess Persebaya yang diresmikan pada tanggal 25 April 1993.
Persebaya pernah mendapat pemain yang sangat berkualitas di ajang Liga Djarum 2005, pemain itu bernama Zeng Cheng ia berposisi sebagai Kiper. Zeng Cheng berasal dari China dan bagusnya ia membela Timnas U-20 China sebagai Kiper Cadangan. Dan sekarang, Zeng Cheng masuk daftar Kiper ketiga di Timnas Senior China.

Persebaya Pecah
Pada akhir tahun 2010, Persebaya terpecah menjadi dua tim. Satu tim, Persebaya di bawah Saleh Ismail Mukadar mengikuti Liga Primer Indonesia. Persebaya yang berkompetisi di Liga Primer Indonesia dengan menggunakan nama Persebaya 1927. PT Pengelola Persebaya Indonesia didapuk menjadi pengelola konsorsium untuk PT Persebaya Indonesia. PT Pengelola Persebaya Indonesia didirekturi oleh Llano Mahardhika, seorang mantan pegawai BLI. Walaupun akhirnya berhasil menjuarai Liga Primer Indonesia, namun manajemen PT Pengelola Persebaya tetap menimbulkan polemik karena kurangnya sosialisasi terhadap suporter, walaupun program yang dijalankan sangat bagus. Satu tim lainnya dengan manajer Wisnu Wardhana tetap ikut Divisi Utama Liga Indonesia
Tahun 2011 berlanjut, kali ini PSSI menyatakan legal kompetisi IPL dan Divisi Utama yang dikelola oleh PT LPIS dan ilegal untuk ISL dan Divisi Utama yang dikelola oleh PT Liga Indonesia. Walaupun IPL dinyatakan legal, kubu Saleh Mukadar tidak mengganti kembali nama Persebaya Surabaya yang sudah sangat bersejarah tersebut tapi tetap memakai nama Persebaya 1927. yang baru timbul sejak tahun 2010 tersebut. Sedangkan kubu Wisnu Wardhana menggunakan kembali nama Persebaya Surabaya dan tetap mengikuti Divisi Utama Liga Indonesia.
Tahun 2012, Persebaya 1927. gagal meraih Juara IPL yang saat itu direbut oleh Semen Padang FC. Persebaya Surabaya Divisi Utama Liga Indonesia. gagal menembus kompetisi ISL 2013. Di akhir Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2012 , Persebaya Divisi Utama melakukan rapat anggota dan mengganti Ketua Umum Persebaya dari Wishnu Wardhana ke Diar Kusuma Putra. Sekaligus yang memayungi badan hukum Persebaya di PT Mitra Muda Inti Berlian (gabungan pengusaha-pengusaha muda asli Surabaya).
Tahun 2013, KLB PSSI tanggal 17 Maret 2013, kubu La Nyalla Mattalitti (Ketua KPSI) bersatu dengan kubu Djohar Arifin Husin (Ketua PSSI). Djohar Arifin Husin tetap menjadi Ketua Umum PSSI dan La Nyalla Mattalitti menjadi Wakil Ketua Umum PSSI. PSSI akhirnya memutuskan hanya mengakui Persebaya Surabaya Divisi Utama PT Liga Indonesia sebagai anggota PSSI yang sah dan tidak mengakui keberadaan.Persebaya 1927. Dan keputusan tidak diakuinya Persebaya 1927. kembali ditegaskan pada Kongres PSSI tanggal 17 Mei 2013. Di Divisi Utama Liga Indonesia 2013, Persebaya Surabaya akhirnya berhasil keluar menjadi Juara dan lolos ke Indonesia Super League tahun 2014.
Pada tahun selanjutnya, sejak terjadi konflik antara kubu PSSI dan kubu Kemenpora, ketika itu PSSI dibekukan sehingga kompetisi ISL 2015 terhenti seketika. Selanjutnya turun sanksi FIFA yang menyatakan bahwa Indonesia tidak boleh melakukan pertandingan persahabatan ataupun kompetisi dengan negara lain. Hal ini membuat kondisi sepak bola Indonesia menjadi “mati suri”. Sejak itu beberapa turnamen mulai dimainkan, seperti Piala Presiden 2015, Piala Jenderal Sudirman 2015, dan lainnya. Pada Piala Presiden 2015, Persebaya mengubah namanya menjadi Persebaya United. Akan tetapi, saat tim ini lolos ke babak 8 besar, turun surat keputusan dari Direktorat Jenderal Hak Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia bahwa hak paten logo dan nama Persebaya dimiliki oleh tim Persebaya 1927 dibawah PT Persebaya Indonesia. Pernyataan itu disampaikan oleh Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) setelah berdiskusi dengan Mahaka Sports (penyelenggara Piala Presiden 2015). Maka dari itu, Persebaya United berubah nama menjadi Bonek FC.
Akan tetapi, suporter Bonek 1927 (pendukung Persebaya 1927) memprotes agar tim Bonek FC mengubah nama kembali. Sebab, nama Bonek adalah nama kelompok suporter, bukan nama tim. Maka, pada ajang Piala Jenderal Sudirman 2015, Bonek FC mengubah namanya menjadi Surabaya United. Nama ini akan dipakai “sementara” sampai kondisi sepak bola kembali seperti sedia kala.

Bhayangkara United

Upaya mempersatukan Bhayangkara Surabaya United dengan Persebaya 1927 di gedung Tri Brata Polda Jatim, Rabu (20/04/2016) sore WIB, menemui jalan buntu, karena tidak ada kesepakatan terkait nama dan logo klub.

Pertemuan itu dihadiri CEO PT Persebaya Indonesia Cholid Goromah, perwakilan Surabaya United Gede Widiade dan Irjen (Pol) Condro Kirono, serta PT Gelora Trisula Semesta yang diwakili Yeyen Tumena dan Djoko Driyono. Selain itu, hadir pula salah satu pentolan Bonek, Hasan Tiro.

“Kami ingin membantu membangkitkan persepakbolaan nasional, salah satunya dari Surabaya. Kita semua tentu berharap dualisme ini bisa segera selesai,” ungkap Condro yang kini menjabat Kapolda Jawa Tengah.

Pembahasan dimulai dengan penyelesaian hutang Persebaya yang mencapai Rp7 milyar. Seluruh pihak mencapai kata sepakat terkait pelunasan tanggungan tersebut. Kepolisian akan mengambil alih seluruh tanggung jawab.

Adu argumen mulai terjadi saat membicarakan penyatuan 30 internal klub. Joko meminta seluruh klub, yang 20 diantaranya dikomandoi Cholid, dan sisanya mendukung Gede, bersatu terlebih dulu.

“Sebelum menyatukan persebaya, kita terlebih dulu harus membuat 30 klub internal ini kembali. Karena dengan itulah Persebaya menjadi utuh,” jelas Jokdri, sapaan akrab Joko.

Suasana makin menegang saat pembahasan nama dan logo klub baru. Cholid dan kawan-kawan enggan mengiyakan dua prototype logo terbaru. Pertemuan akhirnya menemui jalan buntu, dan pihak Persebaya memilih pergi. Agenda selanjutnya membahas launching Surabaya United di Gelora Delta Sidoarjo (24/04).

“Kami mengapresiasi langkah Polri untuk kembali menghidupkan Persebaya. Namun apabila itu syaratnya, kami tidak bisa. Sama saja akan mengaburkan asal usul Persebaya,” tegas Cholid.

“Kalau logo juga diganti, bonek tidak akan tahu bahwa tim mereka masih ada,” timpal Hasan.

Akhirnya manajemen Bhayangkara Surabaya United. Alasan mereka menanggalkan nama Persebaya Surabaya, karena sidang sengketa nama dan logo Persebaya masih belum selesai di Pengadilan Niaga.

“Persidangan belum selesai. Masih berjalan. Kapan selesainya? Masih belum tahu. Sedangkan ISC sudah berjalan,” kata Rahmad Sumanjaya, manajer operasional Bhayangkara SU kepada Bola.net. “Misalnya harus nunggu hasil sidang selesai, bisa-bisa tidak ikut ISC,” imbuh Rahmad.

Rahmad menjelaskan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan PSSI dan operator Indonesia Soccer Championship (ISC), yakni PT Gelora Trisula Semesta (GTS) terkait hal ini. Dan, Rahmad mengklaim sudah mendapat restu dari kedua pihak.

“Kami sudah lapor ke PSSI. Kalau nama Persebaya ini sementara tidak bisa dipakai karena alasan hukum. Bisa diterima oleh PSSI. Oke, untuk sementara pakai nama Surabaya United. Itu sudah clear di PSSI,” jabar Rahmad.

Setelah tak lagi menjadi pemilik tunggal Bhayangkara Surabaya United, Gede Widiade mulai berancang-ancang untuk membentuk klub baru di Surabaya. Rencananya, klub tersebut akan diberi nama Persebaya Surabaya.

Rencana tersebut akan berjalan jika PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) memenangkan gugatan atas nama dan logo Persebaya Surabaya. Saat ini, sidang nama dan logo Bajul Ijo masih berlangsung di Pengadilan Niaga.

Dalam penjelasannya kepada Bola.net, Gede mengungkapkan rencananya untuk membeli tim Divisi Utama yang bermasalah dengan keuangan. “Kalau saya menang di Pengadilan Niaga, saya akan beli tim divisi utama dan saya beri nama Persebaya. Kan boleh saja di Surabaya ada dua tim,” ucap Gede.

“Saya akan beli klub yang tidak mampu keuangannya. Kami bantu dengan beli sahamnya, dan taruh di Surabaya. Markasnya bisa di Waru atau Gedangan,” sambung mantan manajer Timnas U-23 ini. Gede juga yakin, jika rencananya ini terlaksana, maka langkahnya tak akan menghilangkan sejarah Persebaya itu sendiri.

Sebelumnya, Gede sudah pernah menjadi pengelola klub Divisi Utama, Mojokerto Putra. Namun kerjasama antara kedua belah pihak hanya bertahan semusim.

Dua tahun silam, pengusaha asal Surabaya ini juga memiliki angan untuk mempunyai tim Divisi Utama dengan bermarkas di Jakarta. Namun hingga saat ini, tak ada aksi nyata untuk rencana ini.
*) Dihimpun dari berbagai sumber

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + 4 =