Indonesia Negara Pertama Tawarkan Kirim Pasukan Perdamaian PBB Ke Gaza

  • Whatsapp
Foto: Dispen TNI. Keterangan Foto: TNI saat menjalani misi sebagai Pasukan Perdamaian PBB

Jakarta, beritalima.com | “Setahu saya, di antara negara-negara ASEAN dan negara di dunia, yang menyatakan pertama kali kesediaan itu adalah presiden terpilih kita (Prabowo), yang akan dilantik npada Oktober 2024 ini,” kata Nasir Tamara, wartawan senior, saat bicara dalam webinar “Mengapa Perang Timur Tengah Makin Membara” diadakan oleh Perkumpulan Penulis Satupena di Jakarta (6/6).

Seperti diketahui, Menteri Pertahanan Prabowo dlam acara antar Menteri Pertahanan Dunia di Singapura baru-baru ini, mengusulkan kepada dunia agar bisa segera dibentuk Pasukan Perdamaian PBB di Gaza, guna mencegah lebih luas perang Israel versus Hammas.

Bacaan Lainnya

“Dengan adanya pasukan penjaga perdamaian, pengungsi warga Palestina tidak akan lagi diserang oleh militer Israel,” ujar Nasir. Bahkan, lanjut Nasir, Indonesia juga mau menampung warga Palestina yang jadi korban-korban perang. Pada tahap awal, 1.000 orang dulu.

Perang antara Israel dan Hammas sejak Oktober tahun lalu, memang menjadi sangat mengerikan. Masyarakat Palestina lah yang menjadi korban terbesar. “Yang terjadi di Jalur Gaza saat ini bukan perang, tetapi pembantaian terhadap warga Palestina,” kritik Nasir.

“Kata Israel, yang diserang itu adalah Hamas. Tetapi yang dihancurkan Israel itu adalah seluruh infrastruktur di Gaza, dan hampir 40 ribu orang warga sipil sudah meninggal sejak penyerangan Oktober lalu,” paparnya.

Hadirnya pasukan perdamaian dengan bendera PBB, tentunya bisa melahirkan proses gencatan senjata yang lebih luas.

“Dengan adanya pasukan penjaga perdamaian, pengungsi warga Palestina tidak akan lagi diserang oleh militer Israel,” ujar Nasir.

Kini, yang mengakui negara Palestina bertambah banyak di PBB. Yang menolak solusi ini cuma pemerintahan ekstrem kanan di bawah PM Israel Benjamin Netanyahu.

“Sebagai bangsa, Israel itu terpecah. Dalam pemilihan umum, yang menang memang Netanyahu. Tetapi banyak sekali orang Israel yang tidak mau melakukan penyerangan yang begitu kejam di Gaza,” tutur Nasir.
Nasir juga menjelaskan, saat ini sedang diproses proposal gencatan senjata tiga tahap yang didukung Presidan AS Joe Biden. Jika itu disetujui, akan ada rekonstruksi di Gaza, seperti dulu ada program Marshall Plan di Eropa pasca Perang Dunia II. “Ini suatu perkembangan yang menggembirakan,” harap Nasir.

Jurnalis: Abriyanto

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait