Jayawijaya Dirgantara Terbang Perdana Timika – Wamena

oleh -62 views

Timika, beritalima.com. Layanan transportasi udara untuk wilayah Wamena kini bertambah, maskapai penerbangan Jayawijaya Dirgantara khusus cargo ini melakukan penerbangan perdana ke Wamena dari Bandar Udara Mozes Kilangin, Kamis (19/12).
Pesawat boeing 737 – 200 dengan kapasitas 12,5 ton mengangkut beras bulog pada penerbangan perdananya sebanyak 5 ton ke Wamena pukul 14.00 WIT.

Prosesi penerbangan perdana ditandai dengan menyerahkan secara simbolis beras bulog kepada pihak PT Jayawijaya Dirgantara di Bandara Mozes Kilangin (UPBU).
Sopran Kenedi Kepala Bulog Regional Papua Barat dan Papua kepada wartawan disela-sela kegiatan berharap, ini bisa terbang setiap hari karena di Wamena untuk penyaluran rutinnya sampai 4.000 ton. Hanya saja untuk antisipasi kebutuhan maka tidak drop dari Timika semua karena keterbatasan flight dan muatan flight juga tidak bisa maksimal maka akan dilakukan dari Jayapura juga.
“Kami harap dengan kehadiran Jayawijaya Dirgantara ini kelancaran distribusi beras ke wilayah-wilayah sulit itu bisa terjangkau dan secara berangsur-angsur bisa pulih dan bisa penuhi kebutuhan semua kabupaten,”tutur Sopran.

Sopran mengatakan, untuk penerbangan perdana ini rencana uji coba sebanyak 5 ton beras dan kedepan nanti satu flight akan diangkut beras sebanyak 12,5 ton. Bulog ditugaskan pemerintah untuk menjaga stabilisasi harga di dua sisi yakni di produsen maupun di konsumen.
Katanya, di produsen pihaknya membeli hasil petani di daerah Merauke karena yang paling besar produksinya di Merauke, otomatis begitu ada penyerapan maka tentu harus diimbangi dengan pengeluaran supaya stoknya tidak menumpuk dan ada pemerataan stok dan sebagainya.
“Oleh sebab itu, kita distribusi ke Timika dulu karena tidak ada penerbangan langsung Merauke – Wamena. Kedepan kita berharap Jayawijaya dan vendor lainnya juga bisa fasilitasi dari Merauke ke Wamena supaya gudang di Merauke terserap terus hasil dari petani,”ujarnya.


Sementara, Setiawelly Safety Manager PT Jayawijaya Dirgantara mengatakan, dari Jayawijaya sendiri sesuai dengan permintaan pengusaha pasar tidak bisa mencari barang di lapangan tetapi tentu dilakukan kerjasama dengan Bulog sehingga bisa ada penerbangan dari Timika – Wamena, juga semakin banyak permintaan Bulog maka pihaknya juga akan menambah pesawat.
“Sekarang dua pesawat yang aktif dengan boeing 737-200 dan 737 – 300 dan kami sudah tambah lagi boeing 737-500. Artinya berapapun permintaan dari Bulog kita akan siap dan kemudian permintaan rute baru kita siap dan kita ajukan ijinnya juga,”jelas Setia.

Namun, kata Setiawelly, untuk mendapatkan ijinnya tidak mudah karena semua masih proses dan butuh proses yang cukup panjang. Jadi, memang harus betul-betul safety melakukan penerbangan karena banyak kriteria yang harus dipenuhi baik dari krunya yang pengalaman dan sisi pesawatnya juga harus sehat untuk terbang.
“Kapasitas untuk boeing 737-200 dan 737-300 sekitar 12,5 ton, kami walau adalah perusahaan tidak berjadwal jadi sewaktu-waktu mau berapapun diminta bisa dilakukan,”ujarnya.

Selanjutnya, Ambar Suryoko Kepala UPBU Mozes Kilangin mengatakan, UPBU selaku pelayan jadi tentu apa yang menjadi keinginan para operator diusahakan harus dipenuhi, baik itu berjadwal ataupun tidak berjadwal.
“Tapi saya sudah sampaikan ke pemerintah khususnya ke Pak Wakil Bupati terkait keterbatasan apron kita, kami minta peran serta dari pemerintah daerah untuk perluasan apron,”kata Ambar.

Menanggapi soal penerbangan tidak berjadwal, Ambar mengatakan, bahwa berjadwal atau tidak berjadwal tetap dilayani, tetapi tentunya akan ditata juga dengan baik dan tidak mungkin untuk diusir.

Sedangkan, Subagio Kepala Bandara Mozes Kilangin mengatakan, bahwa pihaknya tentu bersinergi antara AVCO, UPBU dan Airnav untuk mencoba mengakomodir operator-operator yang akan masuk ke Timika namun tentunya harus disesuaikan dengan kapasitas yang ada.
“Dalam dunia penerbangan tidak terlepas dari safety karena setiap senti di bandara itu bukan rupiah tapi dolar artinya begitu lecet hitungannya dolar sehingga safety adalah nomor satu. Apabila ada operator yang belum bisa diterima itu bukan tidak boleh tetapi karena kondisi-kondisi yang belum bisa kita tangani,”katanya.

(Lasatia/Timika)