Jelang Pemilu Serentak, Cendana Mangkir Biayai Saksi Partai Berkarya

oleh -41 views

JAKARTA, Beritalima.com– Pemilihan presiden-wakil presiden Indonesia serta anggota DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota yang digelar serentak 17 April mendatang hanya tinggal hitungan pekan.

Masing-masing kontestan, sejak beberapa bulan lalu sudah mempersiapkan diri. Semua daya dan upaya termasuk dana digelontorkan untuk memenuhi impian mereka lolos ke parlemen.

Bahkan kesibukan meningkat menjelang hari pemungutan suara. Namun, tidak demikian dengan Partai Berkarya yang digawangi keluarga besar Cendana.


Sebagai pendatang baru kancah perpolitikan nasional bersama sejumlah partai lainnya, Berkarya seharusnya bekerja dan mengerahkan semua kekuatan termasuk dana lebih untuk melakukan sosialisasi agar para kader yang diusung dikenal masyarakat dalam usaha lolos ke parlemen.

Namun, belakangan beredar kabar kurang sedap akibat di tidak solidnya kepengurusan DPP Partai Berkarya yang digawangi putra dan putri penguasa Orde Baru, Soeharto hanya beberapa pekan menjelang hari pencoblosan.

Dalam waktu dekat, Partai Berkarya yang dipimpin putra bungsu Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy tersebut melakukan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas).

Rapimnas digelar atas desakan para calon legislatif (caleg). Tuntutun untuk mengadakan Rapimnas karena desakan dari para Caleg yang berlaga pada Pileg 2019 kepada DPD dan DPW, terkait ketidak jelasan kepengurusan DPP Partai Berkarya khususnya menghadapi Pileg nanti.

Dari informasi yang dihimpun, para Caleg Partai Berkarya yang turut berlaga di Pileg ini merasa tidak ada kepedulian dari pengurus DPP. DPP berjalan Auto Pilot atau tanpa komando.
Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso yang diharapkan menjadi penggerak roda organisasi hanya sibuk mengurus pasangan Prabowo-Sandi yang maju pada Pilpres 2019 ini.

“Tugas utama menjalankan roda organisasi partai tidak dijalankan dengan baik. Jadilah para kader Berkarya yang maju pada pileg nanti berjalan tanpa komando,” kata kader Berkarya yang pernah dipercaya menjadi wakil rakyat di Senayan.

Begitu juga dengan Titiek Soeharto. Putri kedua penguasa Orde Baru itu yang menjabat sebagai Koordinator Komando Daerah Pemilihan (Kodapil) Partai Berkarya, sekaligus maju menjadi Calon Anggota Legislatif dari daerah pemilihan Yogyakarta itu, tampak jarang turun untuk memberikan suport para Caleg Partai Berkarya.

Titiek yang meninggalkan kursi pimpinan Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Golkar untuk membesarkan Partai Berkarya malah lebih terlihat aktif dalam program Rabu Biru, program relawan pendukung Prabowo-Sandi dari pada turun menyapa masyarakat Yogyakarta sebagai daerah pemilihannya.

Tidak jauh berbeda juga dengan Titiek, Tommy Soeharto yang juga Ketua Umum DPP Partai Berkarya juga hanya aktif turun di Provinsi Papua dimanma dia maju sebagai calon legislatif untuk DPR RI.

Padahal Tommy sebagai Figur Sentral yang diharapkan mampu menarik suara, tidak turun aktif ke daerah lain untuk mendukung para caleg Partai Berkarya. Beda jauh dibanding partai lain yang menjadi pesaing Berkarya.

Terkait dengan masalah saksi, sumber Beritalima.com di Partai Berkarya menyebutkan, keberadaan saksi tersebut sangatlah penting buat partai politik dalam mengawal suara calon.

Dan, masalah saksi tersebut sesuai perintah UU Pemilu No: 17/2017 dimana partai peserta pemilu wajib mengadakan saksi di TPS. bersadasarkan kabar yang diperolah partai pimpinan Tommy Soeharto ini belum mempersiapkan saksi yang akan ditugaskan di TPS.

Padahal, untuk merekrut saksi itu bukanlah pekerjaan mudah. Selain banyaknya jumlah partai peserta pemilu, juga terkait dengan anggaran untuk membiayai saksi tersebut cukup besar.

Menurut informasi yang dihimpun, ketidak siapan dana untuk biaya saksi yang menyebabkan hingga sampai saat ini Partai Berkarya belum memiliki saksi partai untuk ditempatkan di TPS.

Hal itu yang mendorong para Caleg untuk menuntut diadakannya Rapimnas karena keluarga Cendana semula dianggap mampu membiayai partai ternyata justru mangkir, sedangkan para Caleg sudah berjuang untuk meraih dukungan masyarakat.

Jika saat pemilihan tidak ada saksi, lalu siapa yang akan menjamin suara akan aman. Padahal, untuk maju sebagai calon legislatif saja para kader Partai Berkarya itu sudah berkorban mengeluarkan dana dari kantong pribadi mereka yang jumlahnya cukup besar. Apalagi mereka yang maju untuk DPR RI. (akhir)