Keluarga Itu Menginspirasi

  • Whatsapp

(Sebuah Oleh-Oleh Silaturahmi Lebaran)

Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
Saat kami berkunjung di suatu rumah, terasa ada sesuatu yang aneh. Bukan keanehan rumah, apalagi aneh karena aroma mistik tertentu. Rumah pasangan suami istri itu tampak terlihat sederhana. Tidak ada lukisan atau foto-foto yang biasa menghiasi dinding ruang tamu dan justru bikin capek mata setiap tamu yang kebetulan melihat. Dinding ruang tamu dengan cat putih itu hanya terpampang 2 figura berisi foto perempuan berseragam dinas ukuran 10 R. Meja kursi tamu pun juga bukan ukiran Jepara sebagaimana orang-orang kaya. Apalagi, kalau hendak dibandingkan dengan ukiran Jepara ruang tamu di Bina Graha.
Dari percakapan yang berkembang saya peroleh cerita tentag jati diri pemilik rumah. Sang suami yang terlihat mulai renta itu adalah mantan seorang driver truck barang yang sehari-hari harus hidup di jalanan. Sedangkan, istrinya adalah seorang ibu rumah tangga ansich. Ketika saya bertanya tentang keberadaan anak-anak, sang istri yang masih enerjik itu dengan penuh ceria menjawab, bahwa kedua anak perempuannya hidup di luar. Yang satu di luar kota dan adiknya menjankan tugas negara sebagai PNS di luar pulau. Sang istri pun dengan penuh bangga berbagi kebahagiaan, bahwa dia merasa bersyukur kedua anaknya sudah menjadi orang. Padahal, suaminya hanyalah seorang sopir truck barang. Ketika saya bertanya tentang pendidikan yang mereka tempuh sebelumnya, sang istri mengatakan dengan penuh syukur, bahwa kedua anaknya setelah SLTA kedua-duanya berkesempatan menempuh kuliah di dua perguruan tinggi Indonesia ternama. Kakaknya yang kini sudah beranak satu dan sudah bekerja adalah alumni Unair sedangkan adiknya yang kini menjadi PNS di luar pulau adalah alumni Unbraw dan pernah menjadi reporter salah satu TV Swasta Nasional.

Mendengar cerita demikian, perasaan kesederhanaan ketika awal saya memasuki rumah berubah menjadi perasaan kekaguman yang mendalam. Bagi saya di balik keberhasilan kedua anak-anak semata wayang mereka, pasti terdapat eksistensi kedua atau salah satu orang tua yang hebat. Pada saat yang sama, setelah memperoleh cerita tentang jati diri kedua anak tersebut saya juga berkesimpulan kedua anak itu pastilah anak-anak yang solehah, seperti yang dinyatakan sendiri oleh kedua orang tuanya. Kerjasama orang tua yang sesungguhnya dan anak yang berbakti, tampaknya telah berhasil mengundang anugreah Tuhan untuk keluarga tersebut. Kerja sama orang tua ditunjukkan dengan cara mereka berbagi tugas dengan tulus dan istikomah. Ayah mencari nafkah dengan rela hidup di jalanan sedangkan istri di rumah menjaga diri dan kehormatannya. Dan, yang lebih penting setiap melepas suami pergi, dalam keremangan malam sang istri mengaku sering bersimpuh di atas sajadah mohon agar suami di beri keselamatan dan kemudahan rizki dan anak-anaknya bisa menyelesaikan kuliah. Betapa kesalehan anak-anaknya dirasakan kedua orang tua, terlihat ketika anak-anaknya, waktu kuliah, sering berpesan kepada sang ayah agar dibawakan air dari rumah yang sebelumnya ditiup dengan doa sang ibu.
Gambaran tentang keluarga kecil tersebut, selain contoh kekompakan sebuah keluarga mencapai keberhasilan, juga mengingatkan kita tentang peran orang tua sebagaimana yang sering disampaikan oleh para ustaz atau pendakwah. Rasulullah SAW pernah bersabda: Doa orang tua kepada anaknya adalah seperti doa Nabi kepada umatnya. Rsulullah SAW juga pernah mengatakan keridhaan Allah tergantung keridhaan kedua orang tuanya. Dengan mengacu petuah rasul ini dalam implementasi ketika anak bercita-cita tentang suatu hal, jika kedua orang tuanya tulus dalam ‘mengamini’ pasti akan dikabulkan. Lebih-lebih, jika panjatan doa itu dilakukan oleh seorang ibu yang memang kelas doanya di mata Allah, lebih tinggi dibanding sang ayah.

Akan tetapi, cerita tentang keberhasilan di atas memang sering berbanding terbalik dengan kebiasaan kebanyakan orang tua. Dalam banyak kasus sering terjadi fenomena kedua orang tua yang tampaknya belum siap menjadi orang tua ideal. Ironisnya, mereka menginginkan anak-anaknya tumbuh ideal. Pendidikan hanya dipercayakan kepada sekolah dan sudah puas apabila mereka telah menamatakan sekolah atau kuliah di PT tertentu. Padahal, hak anak memperolah pendidikan yang paling utama adalah pendidikan dimulai dari keluarga. Perilaku dasar (ucapan, sikap, dan watak) sangat bergantung bagaimana kedua orang tua memberikan keteladanan yang ideal. Tidak hanya ketika anak tersebut lahir tetapi bahkan sejak memulai proses berhubungan seksual dan saat janin berada dalam kandungan. Proses pra natal ini sebenarnya secara kultural juga telah diajarkan oleh para leluhur, misalnya saat mengandung sang ibu pantang berkata ini dan berbuat itu. Pantangan demikian, tidak hanya berlaku bagi istri tetapi, dalam bentuk lain, juga berlaku bagi sang ayah.

Kekompakan kedua orang tua jelas menjadi kunci kesuksesan anak-anaknya. Implementasi kekompakan itu tergambar dengan perilaku ideal kedua orang tua, ayah yang saleh ibu yang salehah. Ayah bekerja membanting tulang mencari nafkah, ibu sabar merawat anak dan berdoa di rumah. Namun, apa realitasnya? Yang sering terjadi ayah dan ibu sering berada di persimpangan jalan pada kehidupan tidak ideal. Ketika ayah membanting tulang, banyak istri terjun ke dalam kehidupan tidak ideal. Atau, kedua-duanya justru saling mencari kesempatan mencuri waktu untuk saling berbuat tidak ideal dengan semboyan “mumpung suami/ istri tidak tahu” seperti dalam lagu-lagu bertema perselingkuhan. Maraknya perkara perceraian di Pengadilan Agama selama ini lebih disebabkan karena ketidakkompakan sekaligus ketidak konsistennya pasangan suami istri berada pada cita-cita awal ketika berkomitmen di hadapan penghulu. Bentuknya, bisa moral (perselingkuhan), ketidaksabaran, atau ketidakjujuran.

Yang pasti, keluarga sederhana yang saya tulis dan menurut saya mengagumkan di atas, tampaknya telah lulus menghadapi berbagai ujian. Ayah telah lulus dari godaan hidup di dunia jalanan sebagai seorang sopir dan meninggalkan istri di rumah, istri telah lulus godaan karena harus sering melewati malam dengan kesepian karena ditinggalkan suami berhari-hari, dan anak-anak pun ‘tumbuh normal’ karena mendapat aura positif keharmonisan kedua orang tuanya. Di usia senja itu, kini mereka merasakan sangat bahagia melihat jerih payah menyekolahkan anak-anak mereka. Kata “alhamdulillah” yang sering muncul menyela di tengah cerita keberhasilan anak-anaknya saat saya tanya, jelas membuktikan bahwa kebahagiaan yang mereka sampaikan, bukan kebahagian yang basa-basi melainkan kebahagagiaan yang sesungguhnya: “Benar-benar menginspirasi!”

beritalima.com

Pos terkait