Ketergantungan Impor Dari Australia Bikin Harga Daging Sapi Melonjak

  • Whatsapp

SURABAYA, beritalima.com | Yayasan Kedaulatan Pangan Nusantara (YKPN) Jawa Timur menanggapi kenaikan harga daging di sejumlah daerah khususnya di Provinsi Jawa Timur. Menurut Dr Ir Jamhadi MBA selaku Ketua YKPN Jawa Timur, kenaikan daging sapi dikarenakan suplai dalam negeri masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan, sehingga harus dipenuhi dari impor.

Dikatakan Jamhadi, impor daging sapi di Indonesia sebagian besar berasal dari Australia dan India. Saat ini, Australia sedang mereposisi kebutuhan konsumsi daging di negaranya. Tak heran jika harga ekspor daging sapi Australia ke Indonesia mulai naik.

Dari catatan Jamhadi, harga daging impor Australia sebesar USD 2,8 per kg (berat hidup), lalu harga impor menjadi USD 3,78. Masuk ke Indonesia, dan dijual dengan harga tidak sampai Rp 100 ribu. Namun berbeda dengan harga saat ini. Rata-rata di sejumlah pasar, harga daging sapi mencapai Rp 115 ribu hingga Rp 130 ribu.

beritalima.com

“Impor dilakukan karena suplai dalam negeri tidak cukup. Tahun 2019 lalu kebutuhan daging sapi 686.271 ton per tahun, sedangkan suplai hanya 404.590 ton. Lalu tahun 2020 kebutuhan sebanyak 719.150 ton, suplai sebanyak 422.553 ton. Artinya, kita masih ketergantungan dengan impor kurang lebih 285 ribu sampai 300 ribu ton,” jelas Jamhadi.

“Kontribusi Jawa Timur terhadap suplai kebutuhan daging nasional 25% atau 100 ribu ton, tertinggi dari Provinsi lainnya. Setelah Jawa Timur, ada Jawa Barat 20% atau 80.000 ton. Jawa Tengah sebesar 15% atau 65.000 ton, dan masih ada beberapa provinsi lain,” lanjut CEO PT Tata Bumi Raya ini.

beritalima.com

Kenaikan harga daging di tengah kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), menurut Jamhadi, tidak membuat konsumsi kebutuhan pokok utamanya daging menurun.

“PPKM diperpanjang untuk mengendalikan penyebaran Covid-19, tetapi bukan tidak ada konsumsi. Sektor konsumsi menyumbang 53% dari total pertumbuhan ekonomi. Di saat kondisi PPKM ini, sektor konsumsi turun 10%. Jadi konsumsi masih menyumbang 40% dari pertumbuhan ekonomi,” pungkas mantan Ketua Kamar Dagang Dan Industri (KADIN) Kota Surabaya ini. (Ganefo)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait