Kisah Kelam Politik di Era Sahabat

  • Whatsapp

(Sekelumit Refleksi Seputar Terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan)

Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
(Hakim Tinggi PTA Jayapura)

Seorang sahabat mulia ini bergelar “pemilik dua cahaya” (dzun nuraian). Beliaulah yang oleh rasulullah SAW dikatakan perangainya mirip dengannya dan wajahnya mirip nabiyyullah Ibrahim as. Beliau sangat pemalu sampai malaikat pun malu kepadanya seperti malunya kepada Allah. Beliau juga termasuk salah seorang dari 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga. Dan, yang paling monumental beliaulah penghafal Al Qur’an sekaligus pemilik “Mushaf Utsmani” yang karenanya sampai sekarang ummat Islam di seluruh dunia, bisa bersatu dalam bacaan Al Quran. Beliau itu tidak lain ialah Utsman bin Affan bin Al ‘Ash bin Umayyah, bin Abdus Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib, Al-Qurasyi Al-Umawi Al-Makki Al-Madani, Abu’Amr. Selain dikenal dengan Abu ‘Amr Beliau juga dipanggil Abu Abdullah dan Abu Laila. Beliau yang dilahirkan pada tahun keenam tahun Gajah atau tanggal 17 juni 579 M, adalah termasuk salah seorang yang menerima Islam di awal perjalanan dakwah Islam. Beliau orang yang diajak oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memeluk Islam. Melakukan dua kali hijrah. Pertama, ke Ethiopia dan yang kedua ke Madinah.

Ibu Utsman bernama Arwa binti Kariz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdus Syams bin Abdu Manaf. Sedangkan ibu ibunya (nenek Utsman) adalah Ummu Hakim Al-Baidha’ binti Abdul Muththalib bin Hisyam. Beliau adalah kembaran ayah Rasulullah, Abdullah. Dengan demikian, ibu Utsman bin Affan adalah anak perempuan bibi Rasulullah. Ibnu Ishaq berkata: Beliau adalah orang pertama yang masuk Islam setelah Abu Bakar, Ali dan Zaid bin Haritsah.
Menjadi Khalifah

Sepeninggal Umar bin Khattab, Utsman dipercaya umat Islam mengantikan posisi khalifah. Utsman bin Affan adalah Khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 M hingga 656 M dan merupakan salah seorang dari al-Khulafair Rasyidin yang paling lama memerintah. Seperti dua pendahulunya, ‘Utsman adalah salah satu sahabat utama Nabi Muhammad. Sahabat yang kaya nan santun dan tidak ikut perang Badar karena, atas izin rasulullah SAW, harus menunggui yang sedang sakit keras, ini terkenal sangat dermawan. Sebagian kedermawanannya yang monumental adalah tatkala Utsman membeli mata air yang bernama “Raumah” (terletak di samping masjid qiblatain) dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang Beliaungkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering. Beliaulah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al-Haram Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau pula yang mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan beberapa daerah kecil yang berada disekitar perbatasan seperti Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Namun, jasanya mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf dianggap yang paling besar sepanjang zaman sebab hal ini berkaitan dengan eksistensi mukjizat Nabi Muhammad SAW yang paling besar pula.
Kewafatan dan Meluasnya Intrik Politik Setelahnya

Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Beliau pun mulai menempatkan orang dekat dan mempunyai kekerabatan. Said bin Musayyab, salah seorang sahabat, sebagaimana ditulis oleh Al Imam As Suyuthi, pernah berkomentar mengenai tindakan Utsman, bahwa ketika Utsman memerintah ada sebagian sahabat yang tidak suka dengan pemerintahannya, sebab Utsman lebih condong kepada kaumnya. Beliau banyak mengangkat Bani Umaiyah sebagai pejabat-pejabat padahal mereka tidak pernah hidup semasa Rasulullah SAW. Pada enam tahun terakhir, Utsman lebih mengutamakan anak-anak pamannya banyak di antara mereka yang diangkat menjadi pejabat. Meskipun demikian Utsman selalu memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allah SWT.
Tentu itu kita tidak tahu pertimbangan khususnya, mengapa Utsman bertindak demikian. Luasnya wilayah, banyaknya kepentingan, dan sejumlah alasan politis lain mungkin telah menyebabkan beliau bertindak demikian. Dalam konteks hukum, tindakan beliau tentu dapat dikualifikasikan sebagai ijtihad, setidaknya ijtihad politik. Namun, apa pun alasannya, tindakan Utsman ternyata banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah. Dan, puncaknya ialah ketika suatu saat mereka mengepung rumah Utsman sang khalifah.
Secara spesifik, kejadian itu dipicu dari tindakan Utsman yang konon menyuruh menghabisi Muhammad bin Abi Bakar, gubernur Mesir yang baru diangkat menggantikan Abdullah bin Abi Sarah yang dianggap zalim dan banyak dilaporkan para sahabat kepada Utsman. Ketika dalam perjalanan rombongan Muhammad bin Abi Bakar menangkap seorang utusan yang diketahui membawa ‘surat rahasia’ untuk disampaikan kepada Abdullah bin Abi Sarah. Betapa terkejutnya Muhammad bin Abi Bakar, ketika mengetahui surat itu ternyata berisikan perintah agar Abdullah bin Abi Sarrah tetap sebagai gubernur Mesir. Bukan hanya itu, surat itu juga berisi perintah pembunuhan kepadanya dan perintah memenjarakan siapa saja yang datang kepada Utsman karena mengaku pernah dizalimi Abdullah bin Abi Sarah.

Merasa ‘dikhianati’ Utsman, Muhammad bin Abi Bakar dan rombongan pun kembali ke Madinah dan mengadukan keadaan itu kepada para sahabat senior, termasuk Ali bin Abi Talib. Ali kemudian “tabayun” kepada Utsman tentang seorang utusan dan surat yang dibawa. Utsman mengakui, bahwa yang membawa surat itu adalah benar pembantunya tetapi Utsman menyangkal telah mengirim surat yang berstempel khalifah itu. Setelah Ali tampak meragukan sangkalannya, Utsman pun bersumpah dengan nama Allah tentang kebenaran kata-katanya. Para sahabat pun percaya bahwa tidak mungkin Utsman berbohong atas nama Allah.

Dalam suasana ketegangan itu banyak sahabat yang lantas merasa yakin, bahwa tulisan itu dikenal sebagai tulisan Marwan. Akan tetapi sayangngnya ketika para sahabat meminta untuk menghadirkn Marwan untuk dimintai keterangan, Utsman menolak. Utsman, tentu khawatir jika menghadirkan Marwan saat suasana para sahabat dalam kemarahan yang memuncak itu akan dapat membuat Marwan celaka. Suasana demikianlah yang membuat Muhammad bin Abi Bakar dan kawan-kawan kemudian mengepung rumah Utsman.
Mengetahui jiwa Utsman terancam, Ali memerintahkan dua putranya Hasan dan Husen untuk datang ke rumah Utsman sambil berpesan untuk berdiri di depan pintu rumah dan jangan sampai membiarkan para pengepung menyentuh tubuh Utsman. Tindakan Ali tersebut diikuti oleh sahabat Zubair, Thalhah, dan beberapa sahabat lainnya yang juga mengutus anak-anak mereka agar ikut mencegah para pengepung masuk rumah Utsman.

Tampaknya para pengepung tidak peduli dengan kehadiran putra-putra sahabat tadi dan tetap meluapkan kemarahan. Melihat Hasan bersimbah darah akibat kena anak panah, Muhammad bin Abi Bakar ketakutan. Melalui sisi lain sudut rumah, dia berhasil masuk bersama para rekannya dan berhasil memasuki kamar Utsman. Mumammad bin Abi Bakar itu tidak lain adalah salah seorang putra sabat rasulullah termasyhur yang juga menjadi sahabat dekat Utsman, Abu Bakar as Shiddiq. Itulah sebabnya ketika dia memegangi jenggot Utsman hendak membunuh, Utsman mengatakan:”Demi Allah, andaikata ayahmu melihat apa yang kamu lakukan itu kepadaku, niscaya Dia akan tidak senang dengan sikap yang kamu lalukan itu kepadaku.” Mendengar ucapan Utsman itu, ia pun melepaskan pegangannya, tetapi kemudian 2 orang lain masuk dan membunuh Utsman secara sadis sampai meninggal.
Kabar terbunuhnya Utsman itu sampai kepada Ali, Thalhah dan Zubair serta Sa’ad yang saat itu ada di Madinah. Mereka segera keluar. Mereka seakan tidak percaya terhadap peristiwa tragis yang menimpa Utsman. Lalu mereka masuk ke ruangan Utsman. Mereka mengucapakan Inna lillahi wa inna llaihi rajiun.
Terbunuhnya Utsman merupakan tragedi “pembuka” bagi tragedi-tragedi yang akan terjadi setelah itu.Kemelut kematian Utsman terus berlanjut hingga Ali berkuasa. Ali yang memiliki otak cemerlang, lidah yang fasih, keberanian yang tiada tanding harus menghadapi getirnya kehidupan politik pascaterbunuhnya Utsman bin Affan. Di samping Mu’awiyah yang tidak mau membaiat dirinya secara penuh ada juga beberapa sahabat yang tidak sepenuhnya menerima kehadirannya sebagai khalifah. Ini semua muncul karena kabut tebal pembunuhan Utsman tidak segera dicerahkan oleh khalifah keempat kaum muslimin. Mua’waiyah, gubernur Syam, bahkan melakukan pemberontakan dan menobatkan dirinya sebagai khalifah setelah terjadinya peristiwa tahkim yang “memojokkan” Ali pascaperang Shiffin.

Peristiwa di atas tentu menjadi sejarah kelam politik (Islam) yang haus dijadikan pelajaran berharga pada masa kini. Politik yang berdarah-darah dan telah mengorbankan nyawa rakyat dan orang-orang penting, tidak boleh terulang lagi. Semoga.

beritalima.com

Pos terkait