KMB : Sistem PPDB Zonasi Sebuah Perubahan Yang Harus dihadapi

oleh -17 views

BANYUWANGI, beritalima.com – Setiap kebijakan pasti ada pro kontra, seperti sistem zonasi yang hari ini menjadi hingar bingar, karena banyaknya anak berprestasi yang harus tidak masuk sekolah favorit yang mereka harapkan untuk masuki di tahun ajaran ini.

Kebijakan ini pasti sudah di hitung untung ruginya, ketika di tahun kemarin nilai UN (ujian nasional) menjadi salah satu poin untuk mengejar ambisi masuk sekolah favorit, untuk meraih itupun banyak orang tuanya “mengkursuskan” anak-anaknya agar tujuannya tercapai. Masa itu sekolah favorit akan tetap menjadi sekolah “Numero Uno” yang banyak orang tua akan berusaha masuk dengan berbagai cara. Sekolah sekolah semisal SMA 1 Glagah, SMA 1 Genteng dan SMA 1 Giri menjadi incaran utama para pemilik nilai UAN tinggi yang datang dari berbagai pelosok di Banyuwangi.


Sentralisasi siswa pintar bahkan yang ingin masuk SCI (Siswa Cerdas Istimewa) menjadi lebih tersentral di sini. Tentu ini membawa kebaikan dan keburukan tersendiri, Guru guru juga akan lebih memberikan motivasi dan pelajaran pada siswa yang lebih di sekolah favorit, sedangkan di sekolah sekolah yang “berkategori kelas dua” tentu hanya menjadi sekolah alternatif saja ketika mereka tidak masuk di sekolah yang di kategorikan sekolah kelas satu.

Ini tentu juga semakin memperlebar kasta sekolah favorit dengan sekolah biasa. Mau tidak mau terkumpulnya siswa dengan nilai tinggi tentu juga akan mempengaruhi prestasi sekolah.

Dengan sistem zonasi ini tentu pemerataan berdasarkan areal kedekatan siswa dengan sekolah memberikan poin yang lebih, tentu ini akan lebih memudahkan siswa yang relatif dekat masuk ke sekolah yang dulunya favorit, akan tetapi bukan hanya ini ketika sistem ini di terapkan maka semua sekolah mempunyai derajat yg sama, karena tidak ada dominasi siswa bernilai tinggi yang harus menumpuk di sekolah yang dulunya favorit. Tentu kita lihat ke depan bagaimana potensi akademik bisa rata di semua sekolah, bukan hanya sekolah itu itu saja.

Ini mungkin sulit di terima oleh siswa maupun orang tua yang sudah terlanjur memfavoritkan sekolah di luar zona mereka.

Menurut ketua KMB (kaukus Muda Banyuwangi), Fajar Isnaini menanggapi hal tersebut bahwa sistem zonasi adalag sebuah perubahan yang harus di hadapi.

“Bagi kami jika kebijakan ini berlaku dengan baik ke depan maka kemampuan guru untuk memaksimalkan pelajaran muridnya untuk memberikan potensi bahwa semua sekolah itu intinya sekolah favorit.” Ujar Fajar

Bahkan Fajar juga mengibaratkan dalam sebuah kata kata bijak seperti

“Padi berproses menjadi beras, bukan hanya karena ketukan alu, tapi juga karena gesekan sesama bulir padi”, jadi apapun kejadian sudah menjadi pro dan kontra, yang terpenting hari ini, bagaimana proses ini berjalan dengan baik, semua stakeholder pendidikan bisa mengawasi proses zonasi ini bisa berjalan dengan baik. Berat memang memulai perubahan tapi ini sebagai bagian dari inisiasi membuat siswa setempat bisa mendapatkan kesempatan yang fair masuk di sekolah yang dekat dengan tempat mereka dan semua sekolah juga bisa ke depannya menjadi sekolah favorit, bukan sekolah itu itu saja yang memiliki potensi lebih untuk menjadi sekolah unggulan dan favorit.” Imbuhnya

Masih menurut Fajar bahwa ini semua sebuah tantangan yang juga harus di hadapi

“ini tantangan bagi semua tenaga pendidik yang ada untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam mendidik siswa yang sama rata di semua sekolah, sehingga bisa membangkitkan optimisme di masing masing siswa ke depan bahwa sekolah mereka adalah sekolah favorit dan serta bukan sekolah kelas dua seperti masa lalu.

Selamat berkarya dan jangan pernah takut berubah, karena sejatinya tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.” Pungkasnya.

(Bi)