Manis dan Pahitnya Persahabatan Sejati

oleh -50 views
Ilustrasi (doc : www.besthealthmag.ca)

beritalima.com | “Persahabatan bagai kepompong. mengubah ulat menjadi kupu-kupu. persahabatan bagai kepompong. hal yang tak mudah berubah jadi indah.” Lirik itu merupakan lagu dari Sindetosca yang berjudul Kepompong. Begitu juga dengan sahabat, sahabat adalah orang yang mewarnai hidup kita. Seorang sahabat akan menuntun kita untuk menjadi orang yang lebih baik.

Sahabat adalah orang yang paling dekat dengan kita setelah keluarga. Meskipun hanya satu kata, terdapat seribu makna di dalamnya. Sahabat adalah orang yang mengerti kita, orang yang selalu ada untuk kita. Tanpa sahabat, hidup kita sangat mononton dan tidak berwarna.

Dalam suka maupun duka, sahabat selalu ada di samping kita, memberi sejuta warna dalam hidup. Salah satunya bersama sahabatku, Hardina Adilia.


Setiap hari, kita selalu berbagi kisah yang sudah menjadi rutinitas. Mulai dari pembahasan yang ringan, hingga pembahasan yang dalam. Canda, tangis, sedih, dan amarah sudah menjadi bumbu yang memberi rasa dalam kisah persahabatan kita. Tak heran, jika terkadang kita lupa akan waktu setiap kali kita bertemu untuk bertukar cerita.

Pernah suatu kali, kita bertengkar karena salah paham. Namun, ia tetap meminta maaf dan mengakui kesalahannya, meskipun kita sama-sama salah. Ia selalu memberikan sebuah wejangan hidup dibalik pengalaman yang kita alami. Suatu pembelajaran yang tidak akan kita dapat dari orang lain.

Dalam keadaan senang, ia pun turut senang. Dalam keadaan sedih, ia pun turut bersedih dan tak ragu untuk memelukku agar kesedihan cepat berlarut. Ia tidak ingin melihat sahabatnya berlarut-larut dirudung kesedihan. Karena itu, ia selalu ada di samping ku baik dalam keadaan senang maupun sulit.

Ia selalu memberikan nasihat yang sangat berarti. Kita tak ragu untuk saling menegur jika di antara kita melakukan kesalahan. Meskipun ia tak banyak bicara, ia siap menghibur diriku di tengah keterpurukkan.

Sejak pertama kita bertemu, kita tidak ingat persisnya bagaimana kita bisa bersahabat. Tetapi, kita bersyukur dipertemukan oleh takdir yang membawa kita sebagai sahabat sejati. Bermain bersama, menangis bersama, bahkan mengoreksi satu sama lain apabila kita melakukan kesalahan.

Walau begitu, kerikil kehidupan selalu ada dalam kisah persahabatan kita. Tak jarang kita bermusuhan hanya karena masalah sepele. Sering kali kita cekcok memperdebatkan hal yang sepele,yang terkadang meregangkan persahabatan kita. Tak heran jika kita memilih untuk berdiam dalam waktu yang agak lama.

Namun, di sinilah, persahabatan kita diuji. Separuh jiwa terasa hilang jika kita jauh dari sahabat. Hari demi hari terasa hambar tanpa warna jika tidak ada sahabat di samping kita. Hari terasa sepi tanpa tingkah konyolnya. Aku tidak bisa berlama-lama berdiam diri dengan rasa hampa. Kubuang rasa egoku untuk memberanikan diri mengucapkan kata maaf kepadanya

Dari situlah, persahabatan kita semakin erat. Aku harus memahami bahwa sahabatku juga manusia biasa, yang memiliki rasa amarah dan kecewa. Dari kejadian itu, persahabatan kita kembali utuh, walaupun ada rintangan yang membuatnya retak. Kejadian ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa persahabatan sejati tidak bisa digapai tanpa rintangan.

Memaafkan ego masing-masing adalah kunci persahabatan sejati. Mungkin sulit memang untuk melakukannya, namun hanya itulah yang membuat kita menjadi lebih dewasa dang mengerti satu sama lain.

Oleh karena itu, selalu jaga persahabatan kita. Teman memang mudah dicari, tetapi sahabat sejati belum tentu bisa kita dapatkan. Lebih baik memiliki satu sahabat yang selalu ada untuk kita, baik dalam keadaan suka maupun duka, daripada punya seribu teman yang hanya ada pada saat senang saja.

Jangan pernah sia-siakan sahabat yang telah kita miliki. Jangan karena ada teman baru, sahabat yang selalu ada di samping kita dianggap angin lalu. Pertahankan persahabatan yang telah ada sampai kapanpun. Karena harta yang paling berharga dalam hidup adalah hadirnya seorang sahabat.

Audia Natasha Putri
Mahasiswa PNJ