Masa Pandemi, Investor Pasar Modal Indonesia Justru Melonjak

  • Whatsapp
Direktur Pengembangan PT BEI Hasan Fawzi di acara Halal Bihalal secara virtual dengan wartawan.

SURABAYA, beritalima.com | Kantor Perwakilan Bursa Efek Indoneia (BEI) Jawa Timur telah menggelar acara halal bihalal dengan sejumlah insan media, belum lama ini. Karena masih dalam masa Pandemi Covid-19, acara ini dilakukan melalui zoom atau secara virtual.

Dalam acara itu, hadir Direktur Pengembangan PT BEI Hasan Fawzi. Selain menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin, Hasan Fawzi juga mengaku tidak menyangka bila masa pandemi justru terjadi lonjakan jumlah investor.

“Di awal pandemi Covid-19 pada Maret 2020 kami di BEI sendiri sangat tidak menyangka kalau banyak penambahan jumlah investor,” ujarnya.

Menurutnya, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat itu melahirkan perubahan perilaku investor baru di pasar modal Indonesia. Pelaku usaha yang sebelumnya berinvestasi di sektor riil, karena sektor ini di masa pandemi stag, investornya migrasi ke pasar modal Indonesia.

Pasar Modal Indonesia jadi alternatif investasi yang memiliki prospek cerah saat pergerakan manusia dibatasi karena Covid-19. “Ini yang memicu lonjakan jumlah penambahan investor baru di masa pandemi Covid-19 ini,” terang Hasan.

Dari segmentasi market investor baru di pasar modal Indonesia, investor kalangan muda menunjukkan trend peningkatan yang cukup signifikan. Faktornya, saat Work From Home (WFH), para milenial ini memiliki banyak waktu luang, sehingga kelebihan dana yang semula untuk konsumtif dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih produktif, yaitu berinvestasi di pasar modal.

Disisi lain, jauh sebelum pandemi Covid-19, ekosistem di pasar modal Indonesia sudah cukup friendly untuk memungkinkan dilakukannya transaksi, mulai dari pembukaan rekening efek baru, memberikan edukasi pasar modal Indonesia, bahkan edukasi transaksi pasar modal tanpa perlu keluar dari rumah, tapi cukup dengan aplikasi online trading yang sudah banyak disediakan oleh anggota bursa di BEI.

“Jadi, PSBB memaksa investor saham memanfaatkan teknologi dalam transaksi bursa saham,” tandasnya.

Di Surabaya sendiri, kata Hasan, sampai triwulan ke dua tahun ini jumlah investor dimana perusahaan yang sudah bergabung di BEI Jatim mencapai 46 anggota bursa baru, dengan total jumlah 88 ribu SID.

“Perlu diakui Jawa Timur jumlah investornya tertinggi secara nasional. Kedepan, dengan edukasi pasar modal yang kami lakukan, diharapkan bisa meningkatkan kembali jumlah investor pasar modal di Jatim,” ujarnya.

Kepala Kantor BEI Jatim, Dewi Sriana Rihantyasni, mengatakan, untuk Jatim ada dua kota dimana jumlah anggota bursanya cukup banyak, yaitu Surabaya dan Kota Malang. Untuk Kota Surabaya, jumlah anggota bursa saham ada 46 anggota, Kota Malang ada 12, Kabupaten Jember dan Kabupaten Situbondo masing-masing 1 anggota. (Gan)

Pos terkait