Mendambakan Pemilu Damai dan Membahagiakan

  • Whatsapp

Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
(Alumni PP Mishbahul Ulum Situbondo dan PP Wahid Hasyim Yogyakarta)

Sebagaimana ditulis oleh Kompas (10/7/2023) dalam laporan utama yang diberi judul “Jaga Kesehatan Mental Anak Muda Indonesia”, bahwa sejatinya, bahagia tidak perlu dicari karena kebahagiaan ada dalam setiap langkah kita. Bahagia adalah untuk diri sendiri sehingga tidak membutuhkan pengakuan orang lain. Tidak membanding-bandingkan, nyaman dengan apa yang dimiliki, menerima apa pun kondisi yang dihadapi, dan tidak terlalu peduli dengan omongan orang adalah kunci bahagia.

Realitas menunjukkan, bahwa kebanyakan kita sering terusik, dengan hal-hal yang sebenarnya di luar konteks diri kita yang sesungguhnya. Dalam bahasa gaul yang sedang ngetren saat ini, kebiasaan itu sering kita sebut “baper”, kepanjangan terlalu bawa perasaan. Sebagai bentuk empati tentu, “baper” tidak di larang karena posiitif. Namun, jika sampai terlalu larut sehingga membuncah tidak terkendali sampai masuk alam bawah sadar, tentu negatif.
Sebagaimana kita saksikan salah satu mekanisme kanegaraan menghendaki adanya pemilu yang sering distigmakan sebagai “pesta demokrasi”. Sebuah pesta tentu dimaksudkan agar bernilai hiburan dan hal-hal menggembirakan lainnya. Mengapa perlu kita stigmakan demikian karena pemilihan umum menjadi peristiwa penting yang hasilnya memengaruhi arah kebijakan nasional. Pada saat yang sama partisipasi masyarakat, pada kegiatan tersebut, tentu sangat diperlukan.

Akan tetapi, perhelatan demokrasi yang menjadi pesta lima tahunan itu sering berdampak negatif. Prosesnya yang begitu panjang dan melelahkan dapat berpengaruh kepada rakyat secara psikologis. Para aktor yang terlibat di dalamnya, seperti sering harus menguras harta, tenaga, dan pikiran. Calon pemimpin atau wakil rakyat (caleg) yang dipilih tentu lebih merasakan kelelahan itu. Harta yang dimiliki harus dikeluarkan untuk membiayai tim sukses atau keperluan fisik lainnya. Tenaga harus dikerahkan untuk mondar-mandir kesana kemari berkoordinasi, rapat, dan kegiatan wajib lainnya. Dan, pikiran harus dicurahkan guna membuat strategi jitu dengan tujuan bisa berhasil “terpilih” atau “menang”.

Sebagai dampak berbagai “jurus” para caleg atau pemimpin yang berasal dari parpol atau golongan tertentu bersama timnya tersebut, tentu dapat membuat pembelahan masyarakat. Rakyat terbelah karena setelah menjadi objek propaganda sering harus menunjukkan keberpihakan kepada sang tokoh. Memang tidak semua sampai harus “baper”. Tetapi, tidak jarang pada masing-masing kubu menunjukkan fanatisme. Bahkan, fanatisme mereka sering berlebihan. Banyak kasus seorang pendukung partai atau calon tertentu sampai kehilangan nyawa akibat terlalu bersemangat menunjukkan keberpihakan itu. Memamg ketika menjadi korban bisa disebabkan karena dua hal: ketidak sengajaan dan sengaja. Yang karena ketidaksengajaan seperti akibat kecelakaan yang sama sekali di luar rencana. Sedangkan yang karena sengaja memang sedari awal keberpihakan itu telah menjadi komitmen lahir batin dengan taruhan siap mati demi kemenangan calonnya. Pertanyaan kita, mengapa bisa sampai demikian.

Tampaknya banyak faktor mengapa fanatisme itu bisa terbentuk. Tetapi apa pun faktor yang melatarbelakangi, semua berujung kepada kondisi jiwa seseorang. Mungkin perlu diteliti, di negeri ini jangan-jangan memang banyak orang yang sakit jiwa, atau setidaknya mengalami masalah kejiwaan (gangguan mental). Sebagaimana dilansir Kompas di atas, bahwa kesehatan mental di kalangan anak muda makin sering ditemukan. Meski demikian, hanya 2,6 persen remaja dengan masalah kesehatan mental yang pernah mengakses layanan kesehatan jiwa untuk membantu mengatasi masalah emosi dan perilaku mereka. Dengan kata lain, sebenarnya mungkin masih banyak orang yang mengalami masalah kejiwaan namun tidak terdeteksi.
Masalah kejiwaan itu, jika dibawa dalam konteks pemilu, bukan mustahil menjadi salah satu faktor penyebab seseorang tidak bisa mengelola perasaan, dan sebaliknya, meneggelamkan rasionalitas. Karena persoalan kejiwaan, maka yang bisa terhinggap demikian tidak hanya orang awam tetapi juga ada masyarakat terdidik. Ironisnya, pemicu pengaruh kejiwaan ini juga dipicu oleh kaum intelektual. Ketika mereka berbicara di media (medsos atau televisi) narasi-narasi yang mereka sampaikan sering tidak mendidik. Bahkan, argumen-argumen mereka sering dibumbui oleh teori-teori ilmiah dan data-data yang membius masyarakat. Tetapi ujungnya, penilaian secara tidak adil kepada lawan politik.

Akibat lebih jauh, membuat kelompok masyarakat yang satu saling membenci kelompok masyarakat yang lain. Yang memprihatinkan, pembelahan masyarakat ini kerap harus dibawa sampai ke lima tahun berikutnya. Selama lima tahun berjalan sampai harus terus menunjukkan keberpihakan kepada yang didukung dengan menunjukkan kebencian mendalam kepada lawan politik akibat kekalahan berkontestasi. Pesta demokrasi yang semula dimaksudkan sebagai ajang euphoria sehat dan penuh kegembiraan berubah menjadi euphoria saling permusuhan antar sesama anak bangsa.
Fenomena di atas memang wajib menjadi concern seluruh tokoh, pemimpin, atau siapa pun yang dianggap tokoh, agar selalu memberikan pencerahan kepada masyarakat. Yaitu, memandang pemilu sebagai kegiatan politik 5 tahunan. Kita jadikan kegiatan itu benar-benar sebagai ajang pesta. Setelah pesta masing harus kembali ke rumah mengurus rumah tangga masing-masing. Yang kalah tidak perlu kecil hati karena masih ada kesempatan berbenah demi demi lima tahun berikutnya. Yang menang tidak jumawa karena menganggap kemenangan itu bukan hanya untuk kelompoknya tetapi juga kemenangan bagi seluruh anak bangsa. Dalam konteks ini tentu ada baiknya kita simak pesan bijak: “Cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah kepada orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta” (HR Tirmidzi).
Oleh karena itu, jangan biarkan kebencian terus membuncah agar hidup kita bahagia. Selamat menyongsong “Pesta Demokrasi 2024”.

beritalima.com

Pos terkait