Mengawal NKRI di Negeri “GAPI”

  • Whatsapp

Kolonel Inf Syafrial, PSC (Danrem 152/Babullah)

TERNATE, Beritalima.com“Lantang suaramu, otot kawat tulang besi, susu telor kacang ijo ekstra gizi. Runtuh dan tegaknya keadilan negeri ini, serdadu harus tahu pasti”. Sebait syair lagu penyanyi kondang Iwan Fals ini, sangat tepat menorehkan ilustrasi akan keuletan, kekuatan, dan rasa cinta yang tinggi seorang prajurit, ketika menjalankan tugas mengawal  seluruh penjuru negeri bentangan bumi ibu pertiwi. Mulai dari wilayah barat nusantara berjulukan kawasan serambi kota suci (Sabang), hingga ke ujung timur pulau luas dengan spesies khas burung cendrawasih (Merauke). Sungguh tugas mulia, luhur, dan terpuji.

Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ya,..itulah institusi dimana Kolonel Infantri (Inf) Syafrial, PSC, mendedikasikan kelihaiannya, mengukir prestasi, dan merajut semangat kebersamaan sesama anak bangsa, untuk cinta terhadap negeri. Dipercaya dan mengemban amanah negara, mengawal Undang-Undang Dasar (UUD) 45, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), PANCASILA dan Sesanti BHINEKA TUNGGAL IKA di negeri GAPI, nama Ternate tempo dulu. Jabatan Komandan Resor Militer (Danrem) 152/Babullah yang disandangnya, menjadikan putera kelahiran kota rendang, Padang, Sumatera Barat ini, menikmati masa-masa tugas dengan penuh perhatian. Setiap wilayah yang dikunjungi di Maluku Utara, selalu memberi kesan tersendiri, dan melahirkan buah pemikiran yang patut diadopsi untuk perencanaan pembangunan sektor tertentu.

Ketika berkunjung ke Morotai misalnya, gugusan pulau-pulau di bibir pasifik ini, memberi kesan tersendiri bagi Kolonel Inf Syafrial sebelum menuju ke sana. Dan ketika menginjakan kakinya disana, ia sempat tercengang dengan keindahan Pulau Dodola, dan sempat singgah meski sejenak, sebelum mendarat di pulau utama yang memiliki bandara bertaraf internasional dengan 7 landasan pacunya ini. “Dodola memang indah, meski fasilitas umumnya tidak terpelihara”, ucap mantan asisten sekretaris pribadi kepresidenan era Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Kolonel Inf Syafrial, mengemban tugas sebagai Danrem 152/Babullah sejak tahun 2015. Perhatian untuk tugas tidak pernah terabaikan. Terus berkoordinasi bersama instansi keamanan vertikal terkait, dan turun memantau langsung di lapangan ketika terjadi gesekan di masyarakat yang berimbas pada gangguan keamanan. Memberi saran, keputusan, serta tindakan-tindakan yang menyejukan. Membawahi beberapa Komando Distrik Militer (Kodim) di Maluku Utara, Kolonel Syafrial benar-benar mantap berkomunikasi dan koordinasi, untuk mewujudkan Maluku Utara yang aman dan kondusif. Meski diakui, ada kendala, namun itu semua dianggap sebagai dinamika hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kolonel Inf Syafrial, dilahirkan di kota dagang, Padang, Provinsi Sumatera Barat, 18 September 1967. Mengenyam pendidikan sejak tingkat Sekolah Dasar (SD), hingga Strata Dua (S-2). Karir militer Kolonel Inf Syafrial, dimulai pada tahun 1991, sebagai Danton Yonif 321/13 Kostrad. Terkenal disiplin, tak pernah lelah menempa diri, dan teguh mengabdi pada negara. Membuat karirnya terus cemerlang. Ditambah lagi dengan pengalaman bertugas di sejumlah daerah konflik, seperti Timor Timur (1992), Papua (Irian Jaya kala itu – 1999), dan Aceh (2002). Suami dari Sinta Dwi Damayanti ini, kian terlatih dan makin matang sebagai prajurit. “Penugasan di luar negeri pun pernah saya lakoni. Mulai dari Singapura tahun 1993, terakhir di Beijing China tahun 2011 lalu”, tutur alumni University of Malaya ini.

Menjadi prajurit adalah suatu kebanggan bagi Syafrial. Ia amat menikmati profesi yang telah menjadi panggilan jiwanya itu. Meski demikian, momentum menyedihkan, serta menyenangkan kerap kali menerpa dan menghampiri. Namun tetap tegar karena selalu saja ada nuansa sukacita bersama keluarga.

Selama di Maluku Utara, perwira militer yang sudah pernah dipercaya mengemban tugas operasi di 11 negara ini, memandang Maluku Utara memiliki segudang potensi sumber daya alam (SDA) yang luar biasa. Kekayaan sumber daya laut maupun darat, sama-sama menggiurkan. Sayangnya, potensi ini katanya, justeru membuat masyarakat cenderung jadi manja, malas, dan cepat puasa. “Kebun yang luas, hanya digarap baru sebagian kecil saja. Ibarat mancing ikan, tangkapannya hanya sebatas dikonsumsi, belum ke taraf komersial bertaraf internasional. Padahal hasil laut sungguh melimpah”, tandas lelaki yang mempunyai hobi renang dan mancing ini.

Selamat jalan saudaraku, Selamat jalan sahabatku NKRI dan Ibu pertiwi memangilmu.(**)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *