beritalima.com

Mengenal “Stunting” dan Efeknya pada Pertumbuhan Anak

  • Whatsapp

KEPULAUAN SULAberitalima, com – Mungkin tidak semua orang akrab dengan istilah stunting. Padahal, menurut Badan Kesehatan Dunia, Indonesia ada di urutan ke-lima jumlah anak dengan kondisi stunting.

Ditemukan stunting tahun 2017 lebih tinggi dibandingkan dengan stunting tahun 2018 di Kecamatan Mangoli Barat Kabupaten Kepulauan Sula,Provinsi Maluku Utara(Malut)

Perbedaan tersebut ditemukan setelah dilAkukannya pendataan oleh pihak dinas kesehatan Kabupaten kepulauan sula, dr. Ilmi Husen,  saat ditemui awak media reporter beritalima,com Jumat (7/12) mengatakan bahwa stunting adalah istilah yang baru didengar oleh masyarakat awam, baginya, pihak kesehatan saja mengganggap bahwa belum tepat mengenakan definisi operasional  stunting.

Olehnya itu pihaknya juga mengundang pihak provinsi untuk melakukan pemeriksaan kembali pada tahun 2018 dan hasilnya sangat berbeda.

“kami juga mengundang pihak provinsi untuk kembali melakukan pemeriksaan ulang di tahun 2018, “tuturnya.

beritalima.com

Selanjutnya, untuk kecamatan Mngoli Selatan,  akan dikunjungi langsung oleh wakil menteri kesehatan (Wamenkes RI) untuk melihat secara langsung dan ditindak lanjut terkait dengan penatalaksana berdasarkan hasil evaluasi data stunting. Yang dimaksud dengan stunting ini berhubungan dengan penilaian gizi tetapi berbeda dengna gizi buruk.

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

Penyebab Stunting sebagaimana yang dilansir dari situs Adoption Nutrition menyebutkan, stunting berkembang dalam jangka panjang karena kombinasi dari beberapa atau semua faktor-faktor berikut: Kurang gizi kronis dalam waktu lama, retardasi pertumbuhan intrauterine, Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, Perubahan hormon yang dipicu oleh stress, Sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak.

Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin telah terjadi di masa lalu seorang.

Sementara gejala yang muncul adalah  Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya, berat badan rendah untuk anak seusianya, pertumbuhan tulang tertunda

Dan mencegahnya,waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan. Stunting di awal kehidupan akan berdampak buruk pada kesehatan, kognitif, dan fungsional ketika dewasa. “Ungkapnya (ds)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *