Menyorot Narasi Doa-doa Kita Tentang Konflik Hamas-Israel

  • Whatsapp

Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
(Alumni PP Mishbahul Ulum Situbondo dan PP Wahid Hasyim Yogyakarta)

Salah satu gairah kaum muslimin, khususnya para Imam dan Khatib, ketika merespon perang Hamas melawan Israel adalah mendoakan keburukan bagi Israel dan mendoakan kemenangan bagi kaum muslimin. Ketika bait doa itu sampai kepada kalimat yang berisi kehancuran dan kebinasaan bagi Israel, terlintas dalam benak saya sosok rakyat dan anak-anak yang tidak berdosa di Israel layaknya anak-anak Palestina yang menjadi korban perang. Sebuah pertanyaan ‘nakal’ pun terlintas, sebagai seorang muslim layakkah kita mendoakan demikian kepada Israel? Bagaimana ajaran Islam atau rasulullah SAW mengajarkan hal ini? Pertanyaan ini muncul ketika melihat kenyataan bahwa tidak semua orang Israel dan/ atau Yahudi yang menyukai perang.
Pada umumnya para ulama berpendapat diperbolahkan mendoakan keburukan kepada orang yang mendholimi ketika mendholimi kita. Hal berdasarkan sebuah hadits yang telah populer sebagaimana diriwayatkan oleh al Bukhary, rasulullah SAW bersabda:
“Waspadailah doa orang yang terzalimi, karena tidak ada hijab (penghalang) antara ia dan Allah.” (HR Bukhari).

Betapa dahsyatnya doa yang dipanjatkan oleh mereka yang terzalimi dan teraniaya orang lain. Bahkan dalam salah satu riwayat Imam Ahmad menyebutkan, doa orang yang terzalimi tetap dikabulkan dan didengar Allah SWT sekalipun orang yang teraniaya adalah orang yang kafir. Hadits-hadits mengenai ini menjadi pengingat agar umat muslim tidak berlaku aniaya dan semena-mena pada orang. (detikhikmah.com).
Sebagaimana ditulis dalam detikHikmah (03/10/2022), Rahma Harbani mengutip pendapat Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lam yang pernah menceritakan kisah tentang Yahya bin Khalid Al Barmaky. Yahya bin Khalid Al Barmaky adalah sosok kepercayaan–saat ini dikenal dengan menteri–di era Khalifah Harun Al Rasyid. Yahya bin Khalid Al Barmaky hidup dengan makmur dan sejahtera. Bahkan beberapa anaknya pun diangkat menjadi gubernur ketika itu. Namun, tiba-tiba datang suatu masalah hingga membuat keluarganya masuk dalam jeruji besi. Anak-anak Yahya bin Khalid Al Barmaky pun bertanya padanya, “Wahai Ayah, mengapa setelah kemuliaan, kekayaan, dan kesenangan, kini kita berubah menjadi sengsara seperti ini?” Yahya bin Khalid Al Barmaky menjawab, “Wahai anakku, bisa jadi ini adalah karena doa orang yang terzalimi. Kita menyepelekannya, padahal Allah tidak pernah melalaikannya,”

Akan tetapi di zaman yang penuh fitnah ini, istilah zalim menzalimi tampaknya perlu kita kritisi. Banyak orang merasa dizalimi, padahal apa yang disebut sebagai kezaliman itu sebenarnya efek dari perbuatannya sendiri. Beberapa waktu lalu banyak pendakwah ditangkap penegak hukum. Mereka pun merasa dizalimi dengan narasi kriminalisasi ulama dan sebagainya. Padahal, mereka ditangkap dan diadili karena dugaan melanggar hukum. Dengan demikian kini difinisi zalim dan menzalimi ini sering kabur. Apalagi, di era yang kental dengan dunia politik ini.
Hal demikian tentu berbeda dengan yang terjadi ketika rasulullah SAW masih hidup yang setiap pendapat dan kata-katanya selalu dijamin kebenarannya karena dituntunn wahyu. Ketika rasulullah SAW menyatakan perbuatan sebagai perbuatan zalim, pasti benar adanya. Kata Gus Baha, ketika rasulullah SAW berperang, peperangan itu pasti peperangan antara kebenaran dan kebatilan sebab tindakan rasulullah SAW pasti benar dan musuhnya pasti salah. Akan tetapi, sekarang siapa yang dapat menjamin jika peperangan yang terjadi sebagai peperangan antara kebatilan dan kebenaran. Apalagi, jika melihat realitas, bahwa kini kebanyakan peperangan bermotif kekuasaan duniawi.
Karena realitas demikian, maka ada ulama yang berpendapat, mendoakan keburukan kepada orang lain dengan keburukan itu sebaiknya dihindari, bahkan dianggap tercela. Salah seorang yang membahas hal ini adalah Hujjatul Islam Al-Ghazali. Sebagaimana dikemukakan oleh Alhafidh Kurniawan dalam NuOnline, Al Imam Al-Ghazali membahas masalah ini setidaknya pada dua karyanya. Menurutnya mendoakan kebinasaan atau keburukan atas diri orang lain, adalah perbuatan tercela dalam syariat Islam. Hal demikian ditulis dalam karyanya yang sangat fenomenal Ihya Ulumiddin sebagai berikut ini:

“Dekat dengan laknat adalah mendoakan keburukan untuk orang, termasuk mendoakan orang yang berbuat zalim, seperti doa seseorang, ‘Semoga Allah tidak menyehatkan badannya,’ ‘Semoga Allah tidak memberikan keselamatan untuknya,’ atau doa keburukan sejenisnya karena semua itu adalah perbuatan tercela. Dalam hadits disebutkan, ‘Sungguh, orang yang teraniaya mendoakan keburukan untuk orang yang menganiaya sampai lunas terbayar, tetapi yang tersisa kemudian adalah kelebihan hak orang yang berbuat aniaya atas orang yang teraniaya pada hari kiamat.” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’i Ulumiddin, [Kairo, Darus Syi‘ib: tanpa catatan tahun], juz IX, halaman 1569).
Imam Al-Ghazali mengkhawatirkan doa serta harapan kita untuk kebinasaan atau keburukan atas diri orang lain melewati batas. Terlebih lagi doa orang yang teraniaya diterima Allah SWT. Karena melewati batas kezaliman penganiayanya, orang yang awalnya terzalimi melalui doanya yang berlebihan berubah status menjadi orang yang zalim terhadap mereka yang semula menzaliminya. Pandangan Imam Al-Ghazali dijelaskan lebih lanjut oleh Sayyid Muhammad bin Muhammad Al-Husaini Az-Zabidi melalui syarah Ihya Ulumiddin, Kitab Ithafus Sadatil Muttaqin
Pada karya lainnya, Kitab Bidayatul Hidayah, yang diberi penjelasan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani, Imam Al-Ghazali mengingatkan hal serupa. Jangan sampai kita mendoakan kebinasaan atas diri orang lain yang telah berbuat zalim karena sedang kecewa dan marah bobot doa kita dikhawatirkan melewati batas kezalimannya.

Dari paparan di atas menurut Al Hafidh Kurniawan) mendoakan kebinasaan atau keburukan atas diri orang lain adalah perbuatan tercela dalam syariat Islam. Kecuali itu, hal tersebut dapat berisiko pada tindakan yang melampaui batas sehingga kita jadi kalap dan berbuat zalim dengan doa sehabis-habis keburukan atas diri orang lain. Penganiayaan dan kezaliman oleh siapa pun dan melalui apa pun (doa misalnya) adalah tindakan terlarang dalam Islam meski dilakukan oleh orang yang semula terzalimi dan teraniaya. Tindakan adil adalah tuntutan terhadap umat Islam dalam bersikap meski dalam kondisi marah dan kecewa. Mendoakan kebinasaan atas diri orang lain yang melampaui batas adalah bentuk kezaliman baru terlebih penganiayaan dan kezaliman yang dimaksud masih bersifat asumsi dan dugaan semata.

Kita tentu boleh setuju atau tidak, namun dalam konteks konflik Hamas-Israel, bagaimana jika doa-doa itu, kini kita ubah dengan harapan kedamaian bagi kedua belah pihak, sehingga peperangan yang dahsyat nan mengerikan itu bisa sama sekali terhenti dan seluruh derita akibat perang yang menyusul dari waktu ke waktu juga bisa dihindari? Tidak inginkah kita melihat bangsa Israel (atau anak cucu mereka) yang ‘dilebihkan Allah’ itu, kelak menjadi hamba yang bersujud layaknya penduduk Taif ketika mendapat doa rasulullah SAW “Allahummahdi qaumi, fainnahum la ya’lamun?”
Wallahu a’lam bi al-shawab. Afwan.

beritalima.com

Pos terkait