Ning Lia Sowan ke KH Ali Badri Zaini

oleh -200 views

SURABAYA, beritalima.com| Lia Istifhama (Ning Lia), sowan ke KH Ali Badri Zaini. Tampak pula bersama Ning Lia, ketua DPD Partai Nasdem Surabaya, Robert Simangunsong. Ini merupakan kali kedua, Ning Lia terlihat bersama ketua DPD Nasdem Kota Surabaya.

Aktivis perempuan yang dikenal dengan latar belakang nahdliyin ini, menegaskan bahwa kebersamaannya sama sekali tidak ada kaitan rekomendasi partai pimpinan Surya Paloh.

“Alhamdulillah, kalau ini tadi (Jum’at, 24/1), kami bersilaturahmi ke kediaman KH Ali Badri Zaini. Sangat wajar bersilaturahmi, karena beliau kiai khos. Siapa sih yang tidak kenal beliau,” tutur Lia, perempuan yang pada Februari nanti genap usia 36 tahun.


Ketika dikonfirmasi perihal rekomendasi dari Nasdem, Lia menjawab secara politis. “Rekomendasi sama sekali bukan wewenang dan kapasitas saya untuk berbicara hal itu. Saya sedang membangun proses ta’aruf, silaturahmi. Jujur, saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan sosok pemimpin partai, yaitu pak Robert, yang sangat humble dan bijak dalam bertutur kata. Ini sangat penting dan saya tidak ingin menciderai suatu proses silaturahmi dengan kepentingan yang sifatnya hanya mengejar jabatan politis tertentu,” jelasnya.

Namun, dosen kelahiran Wonocolo, Surabaya ini tidak menampik perihal topik kepemimpinan. Dari Kiai (Ali Badri), saya mendapat banyak wejangan. Termasuk pentingnya seorang pemimpin yang tidak meninggalkan sholat lima waktu. Dalam rangka memutuskan suatu langkah, hendaknya sholat istikharah. Pemimpin dalam hal ini, tidak harus dalam konteks pilwali. Yang pasti, siapapun dapat dan wajib berikhtiar dalam suatu proses, tapi keberhasilan suatu proses, jangan dijadikan kewajiban. Itu murni hak Allah SWT. Itu pesan bijak beliau. Hal ini penting saya kira, agar siapapun tidak boleh menjadi ambisius, apalagi terkait jabatan”, tambahnya.

Terkait Irjen Pol.Machfud Arifin yang dikenal dengan KH Ali Badri dan diisukan santer telah mengantongi rekomendasi dari Nasdem, Lia turut angkat bicara mengenai kesannya pada mantan Kapolda Jawa Timur itu.

“Secara personal, saya lihat beliau sosok yang bisa menggabungkan kekuatan pilpres kemarin. Ini memang harus diakui dan diapresiasi karena hal yang bijak ketika menggabungkan dua kekuatan yang sebelumnya berbeda. Namun ini saya sampaikan secara subyektif. Saya sendiri bukan pertama kali mengapresiasi ketokohan seseorang. Siapapun, jika memang layak kita nilai memiliki hal positif, yah wajar lah disampaikan. Yang gak wajar itu kan cara-cara pembunuhan katakter dalam suatu dinamika politik,” paparnya.

Ketika dipancing soal penjaringan Nasdem, Lia menjelaskan, Nasdem buka penjaringan konteksnya bacawali.

“Memang dari awal, sejatinya saya arahnya adalah wakil (bacawawali). Saya sendiri di PDIP, mengambilnya untuk wakil. Saya sih melakukan langkah politis karena logika saja. Karena siapa yang maju sebagai walikota, harus mengantongi minimal 10 kursi”, pungkasnya. (Red)