Pemprov Jatim Menyiapkan Sekolah Tatap Muka, Aktivis Perempuan: Harus Didukung Semua Pihak

  • Whatsapp

SURABAYA, beritalima.com | Seiring dengan kebijakan pemerintah pusat yang menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri yang ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri pada tanggal 30 Maret 2021 mengenai panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi Covid-19, maka Pemprov Jatim menunjukkan spirit pelaksanaan pendidikan tatap muka. Bahkan, Jawa Timur bersiap memenuhi persyaratan agar tatap muka bisa digelar pada Juli 2021. Bahkan, diharapkan ini berlangsung mulai dari jenjang PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah, hingga perguruan tinggi, setelah sebelumnya, Dinas Pendidikan Jatim telah melangsungkan uji coba di tingkat SMA/SMK se Jatim.

Guna memastikan pembelajaran tatap muka berjalan dengan aman, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengharapkan segala sesuatunya dipersiapkan. Mulai dari vaksinasi pada guru SMA, SMK, dan SLB harus selesai 100 persen, protokol kesehatan dijalankan dengan ketat, serta jam belajar dan jumlah prosentase siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka.

Untuk itu, Gubernur Khofifah meminta pihak SMA, SMK dan SLB Se-Jatim wajib membentuk Tim Satgas Covid-19 pada tiap sekolah. Dimana, yang tergabung di dalamnya sesuai dengan kearifan lokal, misalnya guru dan murid yang tergabung dalam OSIS di sekolah tersebut.

“Satgas Covid-19 di masing-masing sekolah harus dipastikan clear. Kalau tidak ada satgasnya, maka guru akan kesulitan untuk menertibkan disiplin protokol kesehatan. Kalau anggota satgasnya teman sebaya akan lebih mudah mengingatkan kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan di sekolah,” terang Gubernur Jatim yang akrab disapa Khofifah saat menerima perwakilan PGRI dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA, SMK dan SLB Se-Jatim di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (16/5).

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi mengatakan, hingga saat ini 38 bupati/walikota sudah memberikan rekomendasi untuk SMA, SMK dan SLB yang sudah siap melakukan pembelajaran tatap muka.

“Kami berharap kepada jajaran Dinkes Jatim pada Bulan Mei 2021 atau Juni 2021, tenaga pendidik dan guru 100 persen sudah divaksinasi 2 kali. Supaya pendidiknya sehat, psikologis masyarakat bisa menerima pembelajaran tatap muka dengan tenang. Sehingga rencana kami tatap muka pada awal tahun ajaran 2021/2022 yaitu pada 5 Juli 2021 dapat berjalan aman,” tambahnya.

Spirit Jawa Timur yang tengah mempersiapkan sekolah tatap muka di semua tingkat pendidikan, menuai banyak simpati dan dukungan, diantaranya dari aktivis perempuan Dr. Lia Istifhama, M.E.I.

“Langkah yang ditempuh Pemprov Jatim sangat tepat dan menunjukkan kepedulian tinggi pada Pendidikan. Tentu, jajaran pemprov Jatim telah melakukan observasi dan mengukur secara cermat dan komprehensif perkembangan pendidikan secara daring. Jadi, ini seharusnya didukung semua pihak,” terang ibu yang merupakan wali murid sebuah SD swasta di Surabaya.

“Bukan berarti menafikan perkembangan teknologi yang harus bisa kita ikuti, melainkan, sekolah tatap muka tetap diperlukan agar anak-anak terhindar dari karakter asosial. Selain itu, pertumbuhan mental dan kognitif pasti jauh berbeda antara anak-anak yang mengenyam pendidikan di sekolah dengan mendapatkan pengetahuan melalui sarana gadget. Kita yang sekarang dewasa, adalah produk sekolah tatap muka. Jadi, hak yang sama seharusnya dimiliki anak-anak kita”, tambahnya.

Tokoh Millenial Literasi Jawa Timur tersebut menambahkan, dukungan bisa diberikan oleh semua pihak, baik orang tua maupun lembaga pendidikan. Dukungan dan partisipasi aktif dinilainya penting agar pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dapat berjalan dengan tepat.

“Contohnya, kita sebagai orang tua, melatih agar anak belajar beraktivitas sejak pagi seperti halnya jam sekolah. Belajar disiplin secara waktu dan harus mulai mengurangi intensitas dengan gadget. Kemudian dilatih kemandirian lagi karena setahun lebih selama anak-anak dirumah, dikhawatirkan kemandirian mereka mengalami penurunan. Selain itu, kita harus menguatkan semangat mereka belajar bersama teman-temannya, karena saya yakin, anak-anak pasti rindu bertemu teman-temannya.”

“Sedangkan dalam lingkungan sekolah, dapat dilakukan persiapan protokol kesehatan agar suasana pembelajaran nyaman. Bila perlu, sekolah bisa memberikan pilihan bagi wali murid. Mau mengikutkan anak-anaknya PTM atau daring. Jadi bisa secara hybrid untuk sementara. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada halangan dari pihak tertentu yang menunda niat mulia ini. Jangan sampai, niat yang baik justru dijadikan polemik karena alasan lain-lain”, pungkasnya.

Pos terkait