Pendidikan Akhlak, Tanggung Jawab Siapa?

  • Whatsapp

Oleh: Hj. Suparmi, S.Pd.
(Guru MTs Negeri 3 Banyuwangi)

Dewasa ini banyak kritikan ditujukan kepada dunia pendidikan, dalam hal ini sekolah. Kritikan tersebut khususnya yang berkaitan dengan kondisi perilaku anak sekolah yang secara umum banyak mengalami degradasi moral. Mereka pun menunjuk beberapa contoh sebagai indikatornya, seperti banyaknya anak pelajar tawuran, banyak anak usia sekolah hampir tanpa batas berpacaran, bahkan di antara mereka ada yang sampai hamil di luar nikah, anak tidak punya “unggah-ungguh” kepada orang tua dan guru.

Tidak hanya itu, dari sisi patriotisme kini juga mengalami penurunan yang signifikan. Saat ini banyak anak yang tidak hafal lagu kebangsaan. Sebagai contoh, kalau di tes satu persatu dalam satu kelas entah hanya berapa orang yang hafal lagu Garuda Pancasila. Nama-nama para pahlawan pun banyak yang tidak dikenal oleh anak sekolah. Mereka lebih kenal nama para artis Korea dibanding dengan nama para pejuang kemerdekaan yang menyebabkan mereka bisa bersekolah.

Kondisi tersebut oleh mayarakat dipandang sangat ironis. Di satu sisi, negara semakin concern untuk memikirkan dunia pendidikan dengan menaikkan anggaran pendidikan. Kanaikan anggaran pendidikan yang signifikan, kenaikan kesejahteraan guru, dan sarana dan prasarana yang terus membaik dari tahun ke tahun. Pada saat yang sama nutrisi anak didik juga semakin baik dibanding zaman dulu. Karena modal yang demikian, maka dibuatlah kurikulum yang ideal sesuai kemajauan zaman yang ada. Untuk menunjukkan kualitas sekolah dibuatlah target-target capaian akademik yang tinggi pula. Di sisi lain, mengapa semua potensi-potensi tersebut tidak semakin menambah tingginya capaian hasil pendidikan aspek kognitif. Khusus capaian pada aspek afektif pun ternyata juga mengalami degradasi signifikan, dalam hal moralitas anak didik dengan sejumlah indikator di atas. Masyarakat pun kemudian hampir sampai pada kesimpulan, bahwa kemajuan dunia pendidikan hanya sebatas pada aspek anggaran berikut kesejahteraan para pengelolanya. Dan, bukan kepada prestasi akademik, termasuk bidang yang berkaitan dengan moralitas. Kalau hal ini dibiarkan tentu akan semakin menambah beban sekolah sendiri dan secara pelan tetapi pasti pada akhirnya juga akan menambah beban negara. Negara tidak lagi dapat berharap terlalu banyak kepada sekolah untuk melahirkan generasi unggul yang dibutuhkan menghadapi tantang zaman yang semakin besar sekaligus rumit.

Hal-hal ini tentu perlu menjadi bahan renungan para stakeholder dunia pendidikan, khususnya sekolah sebagai pelaksana terdepan pelaksanaan pendidikan. Perlu dikaji bersama apa yang menjadi pemicu dengan mencari akar masalah sekecil mungkin. Dengan posisinya yang demikian, maka kesediaan introspeksi. Apakah lingkungan sekolah sudah benar-benar menjadi tempat yang ideal bagi keberhasilan pelaksanaan pendidikan. Apakah sarana dan prasarana sudah dibuat sesuai standar pendidikan, apakah kegiatan yang direncenakan telah dilaksanakan secara konsisten, apakah semua guru punya tanggungjawab yang sama dalam menjaga kondusivitas sekolah pada jam-jam belajar? Sejumlah pertanyaan tersebut perlu diajukan sebagai bahan introspeksi sebelum pihak sekolah menyalahkan lingkungan lain sebagai pemicu berbagai dekadensi moral anak yang terjadi saat ini.

Dalam praktik sering dijumpai di banyak sekolah, pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab secara memuaskan. Sebagai contoh sering dijumpai program-program yang bagus dari pihak sekolakh hanya berupa slogan atau hanya sebagai penambah daftar kegiatan unggulan sekedar dibuat untuk menaikkan grade sekolahan di mata masyarakat. Pelaksaannya pun sering hanya dilakukan utnuk memenuhi foermalitas tanpa ketulusan. Bahkan, sering program kegiatan seolah harus dimainkan hanya oleh pimpinan dan (guru) yang lain hanya sebagai penonton. Dengan kata lain, program sekolahan itu seolah hanya milik unit tertentu dan bukan milik sebuah sistem. Konsekuensinya, ketika suatu hari pimpinan tidak berada di tempat, yang lain merasa tidak punya tanggung jawab melaksanakannya.
Kaitannya dengan dekandensi moral yang fenomenal ini, sekolah perlu membuat sejumlah kegiatan ekstra, seperti pembinaan rohani dan pendidikan kemasyarakatan. Pendidikan rohani tersebut seperti mengadakan pengajian berkala dengan pembicara para ustaz dan kiai. Penceramah ini harus mampu berbicara dengan bahasa anak muda, mengenal problemaatika anak-anak muda terkini. Termasuk pembinaan rohani ini di beberapa sekolah juga terlihat diselenggarakan salat dhuha bersama. Kegiatan masal demikian harus mendapat dukungan dari semua guru. Dengan alas an keterbatasan tempat, dukungan Guru tidak harus dirupakan dalam bentuk semua ikut salat bersama siswa, tetapi bisa ikut mengawasi aktivitas siswa.
Kaitannya dengan pendidikan moral anak diajarkan kesetiakawanan seperti berempati ketika ada teman yang kesusahan, seperti dengan memberikan sumbangan semampunya. Budaya nenek moyang (leluhur) juga perlu dikenalkan kepada anak didik oleh guru siapa pun dan mata pelajaran apapun. Dalam hal ini, kegiatan belajar mengajar pelajaran budi pekerti tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru agama (akhlak) tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh guru yang secara fungsi selain sebagai pengajar mata pelajaran tertentu juga sebagai pendidik. Sebagai pengajar, guru punya kewajiban mengantarkan siswa mendapatkan capaian nilai akademik yang tinggi, seperti nilai atau indek prestasi yag tinggi. Sebagai pendidik semua guru punya tanggung jawab mengisi capaian akademik itu dengan aspek moralitas atas mata pelajaran yang diajarkan. Yang demikian perlu menjadi panggilan moral bagi semua guru. Atau dengan kata lain, dari segi eksistensi sekolah sebagai tempat pendidikan, maka tanggung jawab pendidikan sejatinya tidak hanya tertumpu kepada guru dengan mata pelajaran tertentu, melainkan menjadi tanggung jawab sekaligus panggilan moral seluruh guru yang ada.
Meskipun demikian oleh karena keberhasilan pendidikan tidak hanya semata tanggung jawab sekolah tetapi juga lingkungan keluarga dan masyarakat, maka fenomena dekadensi moral juga tidak serta merta dialamatkan kepada sekolah. Akan tetapi, ketika sekolah dengan kompak menyadari peran sentralnya, setidaknya sebagian problem telah taratasi. Akan tetapi, masyarakat dan orang tua, mau tidak mau memang tetap menaruh ekspkektasi yang tinggi kepada sekolah karena sekolah merupaan institusi yang secara resmi mendapat fasilitas negara. Selamat berjuang!

Biodata Penulis
Nama : Hj. Suparmi, S.Pd.
Tempat dan Tanggal lahir: Banyuwangi, 06-06-1968
Agama: Islam
Pendidikan:
1. SD Negeri Temuejo
2. SMP PGRI Pandan
3. SMEA Muhammadiyah Genteng
4. IKIP PGRI Banyuwangi.
Pekerjaan: Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Banyuwangi Jawa Timur
Alamat: Pandan RT 01 RW 04 Kembiritan Genteng Banyuwangi.

beritalima.com

Pos terkait