Pesan Ustadz Dalam HBH di SMAN Plandaan Perbanyak Dzikir

  • Whatsapp

Jombang | beritalima.com – Bagaimana mau merajut tali silaturahmi kalau jawab salam saja tidak kompak maka dari itu demi merajut tali silaturahmi harus sehat rohani. Oleh karena itu harus menghilangkan penyakit – penyakit rohani atau penyakit hati termasuk iri hati harus dihilangkan. Karena kalau penyakit rohani itu masih ada bisa bahaya dan amalnya bisa habis.

Demikian hal itu diungkapkan Ustadz KH. DR Fakhrudin Siswo Pranoto
Pengasuh PP Kalimasada Bangsri Plandaan menghadiri undangan Kepala Sekolah SMA Negeri Plandaan, Joko Priono, S.Pd., M.Pd dalam rangka Halal Bihalal (HBH) Idul Fitri 1443 H di kediamannya, Sabtu (7/5/222).

Sesuai temanya, ‘Merajut Silaturahmi Warga SMAN Plandaan Melalui HBH Idul Fitri 1443 H’ Ustadz Fakhrudin dihadapan warga SMA Negeri Plandaan baik guru maupun komite sekolah tidak boleh sombong karena yang berhak sombong hanya Allah SWT.

“Kita hanya dititipi, semua itu titipan Allah, Allah tidak suka dengan orang orang sombong. Oleh karena itu obat untuk penyakit rohani sering – sering dzikir”, ujarnya.

Ditegaskan Ustad bahwa dzikir merupakan kebutuhan rohani yang dilakukan setiap harinya. Lanjutnya selain kebutuhan dzikir harus sehat ekonomi hingga dapat memanage dan mengukur keuangan secara holistik.

Masih diungkakan Ustadz Fakhrudin, di bulan syawal ini harus ada perubahan peningkatan baik sebelumnya maupun sesudahnya. Dalam peningkatan perubahan ada hubungan langsung kepada Allah SWT (habluminallah) dan ada hubungan sesama umat (habluminanas).

“Dalam hubungan sosial berhak mengucapkan Minal Aidin Walfa Izin, harus bersih dari penyakit rohani. Kalau sudah bersih akan terhindari dari api neraka,” tandas Ustadz.

Dalam tema HBH Idul Fitri 1443H yang diusung Kepala SMAN Plandaan dapat merajut tali silaturahmi warga SMAN Plandaan, kalau ada hubungan sayang berarti luar biasa bisa merajut tali silaturahmi.

“Halal bihalal hanya ada di Indonesia baik untuk keluarga sosiologis, keluarga biologis maupun keluarga resonantif yang muncul empati lebih dari simpati,” pungkasnya.

Reporter : Dedy Mulyadi

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait