September, NTT Alami Deflasi 0,17 persen

  • Whatsapp

KUPANG, beritalima.com – Pada September 2016, Nusa Tenggara Timur mengalami deflasi sebesar 0,17 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 124,48. Dari dua kota IHK di Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang terjadi sebesar 0,37 persen dengan IHK 125,41 sedangkan Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 1,20 persen dengan IHK 118,41 persen.

Demikian disampaikan Kepala BPS Nusa Tenggara Timur, Maritje Pattiwaellapia kepada wartawan di Kupang, Senin (3/10/2016). Menurutnya, deflasi di Nusa Tenggara Timur terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada dua dari tujuh kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan.

Ia menjelaskan 10 komuditas utama penyumbang dan penghambat deflasi di Nusa Tenggara Timur yakni kembung/gembung, angkutan udara, tongkol, tomat saur, wortel, gula pasir, tembang, bayam, cabai rawit, jagung manis. Sedangkan 10 komoditas penghambat yaitu kakap merah, ayam hidup, kangkung, tarip pulsa ponsel, tarip air minuman pikulan, Akademi/PT, daging babi, daun singkung, tarip litrik.

Sementara itu, perkembangan nilai tukar petani (NTP) September 2016, dimana didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2012 (2012=). Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di NTT pada Septmber 2016, NTP di NTT mengalami peningkatan dibanding Agustus 2016 yaitu sebesar 0,91 persen. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan pada indeks harga hasil produksi pertanian dan terjadi penurunan pada indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.

Dintinjau per subsektor dengan membandingkan NTP September 2016 dengan NTP Agustus 2016 maka subsektor padi palawija mengalami peningkatan sebesar 1,46 persen, subsektor holtikultura mengalami peningkatan sebesar 1,24; subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami peningkatan sebesar 1,42 persen, subsektor peternakan mengalami peningkatan sebesar 0,51 persen dan sumbsektor perikanan mengalami peningkatan sebesar 0,53 persen.(Ang)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *