Sunyoto, “Jamasan Pusaka Sebagai Sarana Mendidik Generasi Penerus”

oleh -108 views

TRENGGALEK, beritalima.com

Besok, tepat pada tanggal 31 Agustus 2018, Pemerintah Kabupaten Trenggalek akan menggelar prosesi hari jadi yang ke-824. Salah satunya adalah prosesi ritual jamasan pusaka yang dilaksanakan sehari sebelum acara peringatan inti. Pusaka yang merupakan peninggalan zaman sejarah babat Trenggalek tersebut, sebelumnya akan di jamas (dimandikan) dulu baru kemudian besok paginya akan dibawa ke perbatasan Trenggalek – Tulungagung untuk dikirab hingga Pendapa Manggala Praja Nugraha sebagai pusat pemerintahan di Trenggalek.


Ketua panitia jamasan pusaka dan prosesi Hari Jadi Trenggalek, Sunyoto mengatakan bahwa ritual hari jadi merupakan salah satu prosesi sakral dan juga sebagai sarana edukasi generasi muda dalam memahami sejarah maupun menghargai jasa para pendahulu yang berhasil menjadi pembangunan Kabupaten Trenggalek.

“Prosesi ritual dalam rangkaian hari jadi itu tetap bermakna sakral dan tentunya bisa menjadi sarana mendidik generasi penerus dalam menghargai jasa para pahlawan yang telah banyak berbuat demi kemajuan Trenggalek, jadikan Hari Jadi ke-824 Trenggalek sebagai momentum perubahan dan pendewasaan,” ungkapnya pada awak media setelah prosesi jamasan selesai dilaksanakan, Kamis (30/8).

Dengan kaitan kegiatan Hari Jadi tersebut, sebelum dilakukan jamasan atau memandikan pusaka, masih sesuai keterangan Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ini, akan lebih dulu diawali dengan serah terima pusaka dari Bupati Trenggalek kepada sesepuh (tokoh) yang akan melakukan ritual jamasan, dilanjutkan dengan doa bersama dalam serangkaian upacara adat Jawa.

“Ada empat pusaka yang menjadi ikon Trenggalek, yaitu dua Tombak Kyai Korowelang serta dua payung bernama Songsong Tunggul Nogo dan Songsong Tunggul Wibowo. Keempat pusaka itu tiap tahun akan di kirab bersama panji-panji kebanggaan Trenggalek lainya, sedang dua tombak korowelang di jamas atau dimandikan dulu. Selain untuk melestarikan warisan budaya, ritual jamasan ini juga sebagai sarana pembersihan pusaka dari debu maupun kotoran-kotoran dan karat yang menempel. Nantinya, pusaka-pusaka itu akan dibawa ke Kamulan karena menurut catatan beberapa bukti sejarah merupakan cikal-bakal dari Trenggalek,” jelas pria asli Kecamatan Munjungan tersebut.

Menurutnya, ritual pembersihan pusaka tersebut dilakukan dengan cara digosok berulang-ulang menggunakan jeruk nipis agar debu, karat dan sisa kotoran minyak yang menempel bisa larut, selanjutnya kedua pusaka dibasuh menggunakan air bunga setaman dan dikeringkan sebelum kemudian dilumuri dengan minyak khusus pusaka.

“Ini rutin dilakukan setiap tahun sebagai bentuk pelestarian budaya dan sarana edukasi sejarah. Bukan berarti mengarah pada kemusyrikan atau lain sebagainya. Karena pada intinya adalah membersihkan atau merawat pusaka yang merupakan milik kita bersama sebagai masyarakat Trenggalek ,” jelasnya.

Setelah dilakukan prosesi jamasan, imbuh pria murah senyum itu, pusaka-pusaka dan beberapa panji Trenggalek dibawa ke Desa Kamulan, Kecamatan Durenan yang berada di perbatasan Trenggalek-Tulungagung. Dimulai dari Desa Kamulan karena menurut sejarah yang ada di Prasasti Kamulan, daerah ini merupakan cikal-bakal dari berdirinya Kabupaten Trenggalek.

Sekretaris dinas yang baru beberapa bulan dilantik itu juga menegaskan, nilai-nilai sejarah berdirinya Trenggalek perlu dipelajari dan disampaikan pula kepada kaum muda agar semangat membangun Trenggalek tetap terpatri di jiwa mereka sehingga akan menumbuhkan kreatifitas dan mengembangkan potensi masing-masing.

“Sejarah Trenggalek perlu juga dipelajari oleh kaum muda di sini agar ada semangat untuk berkreasi dan menunjukkan kemampuan di bidangnya masing-masing sehingga Trenggalek terwakili nama besarnya,” tambahnya.

Untuk itu, masih sesuai keterangannya, dampak sosial bagi warga Trenggalek termasuk menumbuhkan kecintaan kepada daerah yang telah menjadi tempat lahirnya dan berkehidupan serta mendorong rasa kebersamaan sesama warga yang berimplikasi kepada rasa persatuan dan kesatuan daerah.

“Dengan adanya gelaran acara hari jadi, diharap ada banyak implikasi sosial positif bagi warga karena hal itu akan selalu mengingatkan mereka bahwa Trenggalek merupakan tempat lahir dan besarnya. Menggunakan fasilitas yang ada yaitu minum air Trenggalek, makan dari hasil bumi Trenggalek yang pada akhirnya nanti bisa terlahir emosional kultur sebagai sesama,” tutup Sunyoto. (HeR)