Timur Tengah Selalu Konflik Berdarah, Cak Firman: Wangsa Nusantara nggak usah ikut-ikutan

  • Whatsapp

SURABAYA, beritalima.com | Aktivis kontra radikalisme, Firman Syah Ali yang akrab disapa Cak Firman mengharap konflik berdarah yang selalu terjadi di kawasan Timur Tengah tidak mempengaruhi harmoni nusantara.

Menurut Keponakan Mahfud MD ini, setiap bangsa memang punya karakter masing-masing. Bangsa kita punya karakter suka harmoni, damai, tenteram, moderat dan toleran. Sejarah mencatat bahwa penganut agama Hindu dan Buddha di dalam kerajaan-kerajaan Nusantara hidup berdampingan dengan damai, begitupun setelah Islam dan Kristiani hadir, mereka juga hidup guyub rukun nyaris tanpa konflik. “Setiap bangsa punya karakter masing-masing, Alhamdulillah dalam sejarah bangsa kita nyaris tidak pernah ada konflik berdarah dengan alasan perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan. Kenapa saya menyebut nyaris, karena yang namanya perang ya jelas ada, namun tidak masif sebagaimana yang selalu terjadi dalam sejarah bangsa-bangsa timur tengah. Di Timur Tengah itu ada istilah ayyamul arab, hari-hari penuh perang antar suku di arab. Sedangkan nusantara adalah bangsa yang suka harmoni, guyub rukun, tidak suka konflik, maka pertahankan, lestarikan dan nggak usah ikut-ikutan kebiasaan orang luar” ucap Bendahara Umum PW IKA PMII Jatim ini.

“Apalagi hari ini kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, mari fokus memelihara jiwa persatuan dan kesatuan bangsa, jauhi narasi-narasi ajakan konflik dan kekerasan ala timur tengah. Kita nggak usah menjadi ISIS pesek, Al-Qaedah pesek, Taliban pesek apalagi Yahudi pesek. Biarkanlah mereka dengan hobi mereka, wes angel tuturane. Menangis para leluhur wangsya nusantara jika kita sekarang ikut-ikutan hobi orang luar” lanjut Korwil Sahabat Mahfud Jawa Timur ini.

Cak Firman menegaskan bahwa permasalahan bangsa kita sendiri sangat banyak, antara lain merebaknya paham radikal anti NKRI, maka tidak perlu terlalu ikut-ikutan masalah orang luar. “Solidaritas itu penting, terhadap bangsa manapun yang dijajah dan diperlakukan secara tidak manusiawi oleh bangsa lain. Mengutuk tindakan biadab suatu bangsa terhadap bangsa lain juga penting. Namu untuk terlibat terlalu jauh saya rasa bangsa kita sendiri sedang banyak masalah, terutama merebaknya paham-paham radikal anti NKRI, itu saja sebaiknya fokus kita. Mereka nun jauh di sana itu memang hobi, coba baca sejarah” pungkas putera madura asli ini. (red)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait