UPT Puskesmas Ngantru Sosialisasikan Program Kecacingan dan Pemberian Obat

  • Whatsapp

TULUNGAGUNG, beritalima.com- UPT Puskesmas Ngantru, Kabupaten Tulungagung, melaksanakan kegiatan program kecacingan atau pemberian obat cacing untuk anak PAUD, TK, SD dan MI.

Kegiatan program kecacingan dan pemberian obat cacing dilaksanakan mulai tgl 19 s/d 24 Februari 2024, sesuai dengan jadwal di masing-masing Desa yang akan dikunjungi.

Sasaran pemberian obat cacing yakni,
Balita usia 1-5 tahun di 33 Posyandu,
Untuk PAUD dan TK usia 5-7 tahun sebanyak 27 sekolah, sedangkan SD/MI usia 7-12 tahun sebanyak 23 sekolah yang tersebar di wilayah kerja UPT puskesmas Ngantru, diantaranya, Desa Bendosari, Ngantru, Pulerejo, Pojok, Kepuhrejo, Mojoagung, Batokan dan desa Banjarsari.

Kepala UPT Puskesmas Ngantru, dr. Dedi Hariyanto mengatakan, tujuan umum diadakan kegiatan kecacingan yaitu, menurunkan prevalensi kecacingan pada anak balita di posyandu, anak usia prasekolah dan anak usia Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah secara bertahap dan meningkatkan cakupan Pemberian Obat Pencegahan Massal (PPOM) Cacingan.

“Sedangkan, tujuan khusus program kecacingan, mewujudkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja UPT Puskesmas Ngantru, meningkatkan koordinasi dalam pengendalian cacingan di masyarakat dengan lintas program, lintas sektor dan peran serta masyarakat, memberikan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat di Posyandu,” katanya. Sabtu, (11/5/2024).

“Memberikan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat di pendidikan anak usia dini dan SD/MI, melakukan pembinaan dan evaluasi dalam pelaksanaan Penanggulangan kecacingan di wilayah kerja UPT Puskesmas Ngantru,” tambah Kapus Ngantru.

Kapus Dedi mengungkapkan, cacingan umumnya terdapat di daerah tropis dan subtropis di negara berkembang termasuk Indonesia. Akibat yang ditimbulkan cacingan antara lain, gangguan perkembangan fisik, intelektual, perkembangan kognitif dan malnutrisi.

WHO memperkirakan 42% sasaran beresiko cacingan di dunia berada di regional Asia Tenggara (Data 2009). Gambaran Epidemiologi cacingan di Indonesia menunjukkan penularan masih terjadi di pedesaan maupun perkotaan. Untuk mengakselerasi pengendalian kecacingan WHO dalam road mapnya menetapkan target cakupan pemberian obat cacing minimal 75% pada populasi beresiko.

“Kementrian RI telah menetapkan tujuan program pengendalian kecacingan pada usia anak sekolah dan anak balita sehingga menurunkan angka kematian dan tidak menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Sampai saat ini pemberian obat cacing di Indonesia belum mencapai target yang ditetapkan WHO yaitu 75% dari sasaran. Oleh karena itu perlu adanya program kecacingan yang berintegrasi dengan kegiatan pemberian vitamin A dan UKS melalui penjaringan anak SD,” ungkapnya.

“Saat ini, kementrian RI menggunakan Abendazole 400mg sebagai obat program pengendalian kecacingan, Karena itu relatif aman, pemberian dosis tunggal, tidak mahal, dan mudah dalam pendistribusian,” imbuhnya.

Pihaknya menerangkan, penyakit kecacingan merupakan salah satu diantara banyak penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Cacingan dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan, kehilangan darah serta kehilangan karbohidrat dan protein, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan data dari WHO tahun 2006 mengatakan bahwa, kejadian penyakit kecacingan di dunia masih tinggi yaitu 1 miliar orang terinfeksi cacing Ascarislumbricoides, 795 juta orang terinfeksi cacing trichuris trichiura dan 740 juta orang terinfeksi cacing tambang (hookworm).

Prevalensi kecacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu mempunyai resiko tinggi terjangkit penyakit ini. Manusia merupakan hospes defenitif beberapa metode usus (cacing perut), yang dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat.

Diantara cacing perut terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted hrelminths). Diantara, cacing gelang (Ascaris Lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duedenale dan Necator Americanus) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura).

“Jenis-jenis cacing tersebut banyak ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia. Pada umumnya telur cacing bertahan pada tanah yang lembab, tumbuh menjadi telur yang efektif dan siap untuk masuk ke tubuh manusia yang merupakan hospes defenitifnya,” terang Kapus.

Lanjutnya, penyuluhan kesehatan masyarakat adalah upaya memberdayakan individu, kelompok dan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan, kesadaran dan kemampuan, serta mengembangkan iklim yang mendukung, yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat, sesuai dengan sosial budaya dan kondisi setempat.

“Penyuluhan kesehatan dalam memberantas kecacingan bertujuan untuk meningkatkan praktek hidup bersih dan sehat,” pungkasnya. (Dst).

beritalima.com

Pos terkait