Yuk Liburan ke Setu Babakan

oleh -213 views

Selasa – Akhir Tahun, Wisatawan Ramai Berlibur ke Setu Babakan.
Memasuki libur akhir tahun (31/12/19), Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan menjadi tempat wisata yang ramai dikunjungi orang. Kendaraan bermotor, baik roda 4 maupun roda 2 banyak terparkir di tepi danau. Pengunjung kebanyakan orang-orang dewasa. Tetapi terdapat juga remaja, anak kecil, dan lansia.

Kegiatan yang dilakukan pengunjung Setu Babakan pun beragam. Beberapa wisatawan mengendarai sepeda air mengitari danau. Ada juga yang memancing. Anak-anak kecil terlihat naik delman didampingi oleh orang tua mereka. Terlihat juga keluarga besar tengah berpiknik.

Tidak hanya itu, pengunjung juga dimanjakan oleh berbagai macam kuliner di lokasi wisata. Mulai dari makanan khas Betawi seperti Kerak Telor dan Soto Mie, sampai cemilan macam Otak-Otak dan Bakso.
Pedagang-pedagang tersebut terdapat di seluruh area danau, memudahkan wisatawan untuk memilih dan membeli jajanan yang mereka inginkan.


2 orang yang berkunjung ke Setu Babakan untuk kulinernya adalah Fino (22) dan Dani (28). “Datang kesini karena dekat sama rumah dan pengen makan-makan aja sih,” ujar mereka berdua. Tidak hanya itu, suasana tepi danau yang sejuk juga memperkuat alasan untuk mengunjungi Situs Perkampungan Betawi.

Menurut Agil (27), seorang pedagang Otak-Otak yang sudah berdagang selama 15 tahun di sekitar danau, banyak pengunjung kerap datang ke Setu Babakan, terutama memasuki musim liburan. “Kebanyakan datang untuk wisata kuliner. Suasananya juga adem, jadi enak,” terangnya.

Akhir tahun yang identik dengan musim hujan pun, tidak menyurutkan animo masyarakat untuk berkunjung ke Setu Babakan. Kendati langit mendung, wisatawan tetap asyik dengan kegiatan mereka.

“Kalau hujan, bisa berteduh warung atau kendaraan pribadi,” tutur Agil.
Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan didirikan tanggal 18 Agustus 2000. Danau buatan seluas 30 hektare ini dibuat dengan tujuan mengakomodasi kebutuhan ruang hijau masyarakat sekitar, dan melestarikan kebudayaan betawi.

Penulis: Mohammad Adrianto Sukarso, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Program Studi Penerbitan (Jurnalistik)