Branding Tidak Cukup Dari Merek dan Kemasan

oleh -68 views

TANGSEL, beritalima.com – Dalam rangka pelaksanaan Caturdarma Perguruan Tinggi Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Ahmad Dahlan, mengadakan pelatihan ‘Branding UMKM’ sebagai langkah penguatan identitas bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Oleh karena itu, Dosen ITB Ahmad Dahlan mengundang pelaku UMKM baik bapak – bapak atau ibu – ibu yang ada di sekitar, Tangsel, Banten. Juga diikuti peserta Plpelatihan branding dari luar kota Tangael.

Pelatihan dinakhodai Siti Rozinah yang ditemani Andri Meiriki, saat ini sedang melaksanakan tugas penelitian tentang Pemanfaatan Digital Marketing Pada UMKM. “Kami mohon kesediaan kepada peserta pelatihan branding, untuk menjawab Kuesioner Penelitian,” imbuhnya, Senin (20/1/2020) di Kampus ITB AD, Jalan Ciputat Raya, Cirendeu, Jakarta Selatan.

Jawaban penelitian yang diberikan peserta pelatihan branding, sangat penting bagi civitas akademika dalam melaksanakan Caturdarma Perguruan Tinggi ITB Ahmad Dahlan, karena setiap penulisan akan diperlakukan sesuai dengan standar profesionalitas dan etika penelitian.


“Oleh karena itu, kami akan menjamin kerahasiaan identitas dan data peserta pelatihan,” tandasnya.

Lebih lanjut dalam pelatihan, disampaikan langsung oleh Ady Santoso, Tutor Pelatihan Branding, dari ITB AD menyatakan bahwa dalam kegiatan branding tidak mesti saling posting memposting merek dagang dalam penjualan produk.

Dikatakan Ady, branding tidak saja cukup dari pengenalan merek dan kemasannya. Akan tetapi dapat menampilkan semua elemen produk secara keseluruhan sehingga terbentuk satu kesatuan menjadi branding mulai dari produk,kemasan, merek, varian produk, dan rumah usaha.

“Dalam usaha sebaiknya menjual terlebih dahulu baru diberikan merek ketika di dalam persaingan usaha ada kesamaan produk dengan cita rasa yang berbeda,” tandasnya.

Menurutnya banyak pengusaha, mengambil produk orang lain lalu diberikan merek. Oleh karena itu agar produknya tidak diambil orang lain, maka secepatnya membuat merek dagang dan kemasan yang menarik. Namun dalam membuat merek pelaku usaha kerap menemukan masalah salah satunya harus terigister di dinas terkait, dan memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar tidak ditiru orang lain.

“Ironis dalam membangun kesadaran untuk membuat brand masih sulit. Karena Brand merupakan bagian dari produk keunggulan kita,” terangnya. ddm