DCS Selenggarakan Pelatihan dan Lomba MasTer Chef UKM

oleh -181 views
Jpeg

TANGSEL, beritalima.com – Pelatihan kuliner yang sekaligus kompetisi “Masakan Terkini (MasTer) Chef UKM”, diselenggarakan Danish Culinary School (DCS), 25 Agustus 2019, di Kandank Jurank Doank, yang tidak jauh dari BXC Bintaro, Tangsel, Banten. Pelatihan tersebut menampilkan menu – menu kuliner yang menarik untuk dijual saat ini, mengambil tema “Kuliner Streetfood Milenial”

Lebih lanjut, Chef Danish Culinary School (DCS) yang dimiliki Taufik Hidayat Syah, mencontohkan jenis kulinernya yang dilakukan oleh Chef Tommy pada menu Fish Chowder, makanan ala Eropa atau Sup Ikan. Lalu peserta mengikuti produk yang dibuat selama 25 menit. Pada sesi pertama, tahapan seleksi individu, dimana peserta terbaik masuk ke sesi kedua (final). Kendati peserta yang belum lolos pun tetap bisa melanjutkan dan mengikuti pelatihan di sesi kedua, tapi tidak membuat produk lagi melainkan sebagai tamu. Sedangkan peserta yang lolos dibagi 2 – 3 team dan bersaing untuk mendapatkan Predikat Grup Terbaik dan Juara Individu.

Dikatakan Ardy Amazing, Ketua Panitia MasTer Chef UKM, merencanakan peserta lomba masak sebanyak 70 orang dari berbagai daerah dan disaring menjadi 15 orang. Kemudian 15 orang itu dibentuk menjadi tiga kelompok terbaik dan mencari 5 orang juara. Kemudian dari lima besar itu, diseleksi kembali untuk menentukan juara setelah mengikuti lomba masak lagi.


“Awalnya menargetkan 10 orang peserta, ternyata setelah di broadcast, peminatnya mencapai 25 orang peserta baik dari Tanggerang Kota, Tanggerang Kabupaten, Tangsel, Depok, DKI maupun dari daerah lain. Semua diperbolehkan ikut, kecuali yang berprofesi sebagai Chef dan Katering Besar untuk menghindari rasa minder UKM kecil, pemula UKM & usaha katering rumahan,” tandasnya.

Lanjutnya, peserta tinggal datang dan mengenakan baju chef, lalu mengikuti instruksi pelatihan dan lomba masak, karena bahan – bahan dan peralatannya sudah disiapkan. Baju Chef relatif mahal sekitar Rp100 ribuan. Namun bila terasa berat bisa menggunakan alternatif untuk meminjam karena event ini direncanakan 2 hari untuk 3 tahap, tergantung jumlah peserta.

“Kenapa mesti pake baju chef, karena kita hendak mendapatkan kesan yang bagus dan terlihat para UKM kompak karena beberapa media elektronik akan meliput kegiatan tersebut,” jelasnya.

Ia pun menegaskan, bagaimana bisa bersaing dengan resto besar dalam menghasilkan suatu produk yang sama bila memakai baju chef saja menjadi kendala dan malu – malu,” terangnya.

Lanjutnya, event tersebut dihadiri dari unsur pemerintahan sebagai peserta yakni istri Wakil Walikota Tangael dan istri artis lawas, Dik Doank. Termasuk emak – emak yang tidak ketinggalan mengikuti lomba. Karena pelatihan yang dibarengi dengan lomba masak itu dimotori oleh Danish Culinary School, yang tidak jauh bedanya dengan pelatihan – pelatihan lain harus berseragam chef.

Ardy pun berharap, setelah mendapat menu baru, bisa usaha katering atau ikut bazar. Namun menu baru tersebut, awalnya dirahasiakan karena berkenaan dengan katagori lomba Culinary Streetfood Milenialatau masak makanan kekinian. Sementara bagi yang tidak siap mental, tidak dipermasalahkan untuk mundur. Karena dari awal sudah ditekankan, keputusan juri tidak bisa diganggu gugat baik event, sistem maupun yang lain. “Karena dalam suasana lomba, akan ada skenario, chefnya berlagak galak dan pedes kalau ngomong,” pungkasnya.

Lanjut Ardy, peserta boleh membawa suporter, baik keluarga maupun orang lain. Sedangkan peserta hanya UKM yang ikut lomba tapi chef yang sudah profesional tidak diperkenankan ikut, melainkan hanya untuk meramaikan saja.

“Ramaikan acara yang belum pernah ada sebelumnya dan satu – satunya untuk kalangan UKM dan UKM pemula di Indonesia, karena akan ada Special Perform, yaitu Spinning Pizza Indonesia, oleh Chef Agung dan pembuatan mie tanpa mesin (La Mien) atau Mie Tarik oleh Chef Wendy. Nantinya juga akan ada lomba masak komunitas Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI),” terangnya.

Hal ini menurutnya, kesempatan belajar menu streetfood milenial, karena bila privat di Danish Culinary School, harus membayar Rp1 – 1.5 juta untuk dua macam menu. Maka dari itu, semakin bertahan, bisa memperoleh pelatihan dalam pembuatan menu makanan. Namun bila sudah bisa silahkan direfresh dan ikuti perkembangan inovatif dari chef DCS.

“Jangan sampai lupa menyiapkan batere HP agar tidak lowbat ketika merekam kemeriahan acara dari moment anda sedang memasak,” ungkap Ardy.

Namun saran dari panitia kata Ardy, peserta harus meniatkan ikut cooking demo agat dapat ilmu dan menu kekinian. Peserta boleh membawa banner produk karena akan bertemu UKM se – Jabodetabek. Kalau beruntung dapat hadiah, sedangkan peserta yang tidak lolos bisa mencicipi hasil masakan dari para juara.

“Peserta mendapat kesempatan memberi produk untuk promosi dan mendapatkan goodie bag bagi para peserta. Juga menjadi pioneer, karena satu – satunya event yang belum pernah ada di Indonesia,” ujarnya. ddm