BONDOWOSO, beritalima.com – Tak menunggu keputusan pemerintah, ratusan santri dan jemaah di Pondok Pesantren Al Islah Bondowoso telah lebih dulu merayakan Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026), dengan menggelar shalat Id sejak pagi hari.
Takbir berkumandang di lingkungan pondok, mengiringi pelaksanaan shalat Id yang dimulai sekitar pukul 06.15 WIB di lapangan pesantren. Para santri dan jemaah tampak khusyuk merapatkan saf, sebelum rangkaian ibadah dilanjutkan dengan khutbah dan tradisi saling bersalaman. Seluruh kegiatan berlangsung tertib dan selesai sekitar pukul 07.00 WIB.
Pondok Pesantren Al Islah diketahui melaksanakan Idulfitri lebih awal, sejalan dengan metode yang juga digunakan oleh Muhammadiyah. Meski demikian, pelaksanaan puasa Ramadan tahun ini tetap dimulai secara bersamaan dengan ketetapan pemerintah.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Islah, Kiai Thoha Yusuf Zakaria LC, menjelaskan bahwa penentuan awal Ramadan mengacu pada rukyatul hilal global.
“Kalender hijriah global tunggal menjadi dasar. Hilal di Alaska pada 17 Februari sudah terlihat, sehingga 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari,” ujarnya.
Dalam menentukan 1 Syawal 1447 H, pihaknya kembali melakukan rukyatul hilal. Namun pada hari ke-29 Ramadan, hilal tidak terlihat sehingga jumlah puasa disempurnakan (istikmal) menjadi 30 hari.
“Dengan demikian, kemarin adalah hari ke-30 Ramadan, dan hari ini kami tetapkan sebagai 1 Syawal yang bertepatan dengan 20 Maret,” jelasnya.
Ia menambahkan, secara prinsip metode yang digunakan pemerintah juga serupa, yakni melalui rukyatul hilal dan istikmal. Perbedaan muncul pada dasar penetapan awal Ramadan, yang kemudian berdampak pada waktu perayaan Idulfitri.
Kiai Thoha pun mengingatkan pentingnya menjaga sikap saling menghormati di tengah perbedaan tersebut.
“Perbedaan ini seharusnya menjadi sarana mempererat persatuan. Perbedaan adalah rahmat,” pungkasnya. (*)








