Jangan Lelah untuk Membaca

  • Whatsapp

Oleh Hotlas Mora (Politeknik Negeri Jakarta)
“Siapa pun yang membaca banyak buku, (dia) punya mata di berbagai tempat yang unik,” ucap Jostein Gaarder seperti dikutip sebuah blog tohirborneo. “Buku adalah guru yang tak pernah marah, juga teman yang tak kenal lelah,” kutip kompasiana dalam artikelnya.

Faktor kebiasaan, fasillitas yang jauh dan jarang, memang bisa jadi alasan untuk malas membaca. Bahkan beberapa pelajar di Indonesia pernah mengaku malas membaca soal ujian yang panjang kalimatnya.

Keadaan itu sangat berbeda dengan Jepang, yang rakyatnya memilih membaca di setiap ada kesempatan. Bahkan budaya membaca orang di sana sudah begitu kental hingga dapat ditemui di tempat-tempat umum, seperti halte, terminal, atau bahkan taman.

Padahal, dampak positif dari membaca dapat langsung dirasakan. Manfaatnya pun sangat berguna bagi masa depan. “Wawasan pasti bertambah, pengetahuan bertambah, dari yang kita tidak tahu, jadi tahu. Dari yang kita tidak mengerti, kita jadi mengerti. Yang tadinya abu-abu jadi terang benderang,” ucap seorang redaktur pelaksana media dalam jaringan (daring) tahuberita.com, Shandy Moses Siahaan.

Belum lagi revolusi mental dan pikiran yang lebih terasa dibanding sama sekali tidak membaca. Jadi, pengalaman saja tidak akan cukup untuk individu berkembang pesat. “Ini yang membuat evolusi bukan revolusi, sementara kita harus bergerak cepat. Lebih baik pengalaman dibantu dengan referensi yang baik,” jelasnya.

Membaca juga dapat melatih kekritisan seseorang. Kurangnya kekritisan dapat membuat seseorang sangat mudah percaya kabar yang diperolehnya. Padahal, sangat mungkin ia dibohongi, dibodohi, atau bahkan tidak dihargai. Untuk itu, membaca bisa jadi solusinya.

Dengan memahami setiap kata-kata yang tertulis di buku, seseorang bisa menambah pengetahuan berarti. Mulai dari pengetahuan sosial, teknologi, dan lain sebagainya. “Semakin pengetahuannya bertambah, analisis seseorang akan sesuatu akan lebih kritis, akan lebih mendalam,” lanjut lelaki yang juga mahasiswa di IISIP, Jakarta ini.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghidupkan budaya membaca yang baik? Setidaknya untuk diri sendiri, berikut yang harus dilakukan:

Baca 15 menit
Setiap sekolah di Jepang sudah menerapkan wajib baca buku 10 menit sebelum sekolah. Di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Budaya era Jokowi, menerapkan program yang hampir sama tapi berbeda cara, yakni dengan membaca minimal 15 menit sehari. Hal-hal itu, kata Shandy, sebaiknya dapat dipraktikkan langsung tanpa perlu ada peraturan pemerintah.

“Minimal sejam saja sebenarnya cukup, Asal rutin setiap hari sejam, sejam pun gak langsung habis dalam satu waktu, mungkin paginya 15 menit, siangnya 15 menit, sorenya 15 menit, gak harus dalam satu waktu, 1 jam,” jelasnya. Dengan intensitas yang rutin, hal positif bukan tidak mungkin menghampiri.

Baca Buku Berkualitas
Sebenarnya bukan masalah bukunya, tapi buku apa yang dibaca. Faktor itu yang menjadi perhatian penting demi efektifnya membaca.
“Yang pertama berbobot, bisa dipertanggungjawabkan isinya. Kedua, yang sesuaikan dengan kemampuan kita,” jelasnya. Itu berarti, jika kemampuan kita berfokus di bidang pertanian, bacalah buku-buku tentang agraria yang membahas teknik-teknik terbaru, pupuk terbaik dan lain sebagainya.

Harus diterapkan
Jika kita sudah mampu membiasakan diri dengan membaca, akan lebih baik jika kita mampu menerapkannya. Dengan melakukan hal itu, kita akan punya kesempatan untuk mengembangkannya. “Jadi ilmu itu terus berkembang, jadi gak statis itu-itu aja kita ikutin.”

Selain diterapkan, ilmu juga perlu dibagikan atau diamalkan. Tidak semua orang bisa membaca buku, dan tidak semua orang mau berbagi ilmu. Untuk itu, janganlah kita menjadi sombong dengan pengetahuan yang kita raih, karena sebuah akun Twitter, @Pepatah, berkata: “Berhasil adalah ketika kita bisa berbagi ilmu dengan orang lain, dan ada lebih banyak orang merasakan manfaat ilmu tersebut.”

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *