“Masa Depan Alutsista Nasional: Teknologi, Industri Strategis dan Kemandirian Pertahanan Indonesia”

  • Whatsapp

Nasional, beritalima.com | Pada 11 Mei 2026, Marapi Consulting & Advisory merilis Video Talkshow yang

bertema “Masa Depan Alutsista Nasional: Teknologi, Industri Strategis dan

Kemandirian Pertahanan Indonesia”. Talkshow yang dipandu oleh Wartawan Senior

Iwan Hermawan yang bertajuk “Ngopi” (Ngobrolin Pertahanan Indonesia) the

Talkshow ini menghadirkan narasumber-narasumber yang sangat kompeten, yaitu

Laksamana Madya TNI (Purn) Dr. Desi Albert Mamahit, M.Sc. (mantan Kepala Badan

Keamanan Laut RI, Rektor Universitas Pertahanan, dan Komandan Sekolah Staf dan

Komando TNI AL), Mayjen TNI (Purn) Jan Pieter Ate, M.Bus., M.A (Ketua Harian

Perhimpunan Industri Pertahanan Swasta Nasional, Pinhantanas), dan Alman Helvas

Ali (Pengamat Militer dan Konsultan Bidang Pertahanan Marapi Consulting &

Advisory).

 

Talkshow yang terfokus pada upaya Pemerintah mendukung kesiapan

operasional Alutsista baru TNI ini, dibuka dengan apresiasi host atas upaya

pemerintah dalam beberapa tahun terakhir untuk memperkuat alutsista. Namun

pertanyaannya, apakah kekuatan alutsista yang ada sudah cukup untuk optimal

digunakan pada saat dibutuhkan. Termasuk dukungan dari sisi perencanaan,

anggaran dan industri pertahanan untuk mendukung perubahan dari sistem yang

reaktif menuju sistem yang prediktif. Pertanyaan ini didasarkan pengalaman

pengadaan alutsista yang cenderung mendahulukan platform daripada

melengkapinya langsung dengan sistem persenjataan dan memasukkan paket suku

cadang dan perawatan.

Laksdya (purn.) Desi Mamahit menyatakan, untuk pengadaan alutsista,

sebagai bagian bidang pertahanan, peraturannya sudah jelas. Mulai dari strategi

nasional, terdapat kebijakan umum pertanahan negara (Jakkumhanneg) yang

menjelaskan ancaman di masa kini dan masa yang akan datang serta cara

menyikapinya. Salah satunya terkait penambahan kekuatan, termasuk pengadaan

alutsista, yang diturunkan ke bawah dalam Rencana Strategis (Renstra) lima tahunan

dan rencana tahunan. Pengadaan alutsista merujuk pada prediksi ancaman yang ada

dalam kebijakan strategis dan perkembangan teknologi. Seluruh kebijakan

pertahanan dan pengadaan telah dibahas oleh pemerintah dan DPR. Keinginan

adanya anggaran yang besar dari bawah (matra TNI) harus disesuaikan dengan

keterbatasan keuangan negara. Ketika kita membeli platform, kita juga memikirkan

sistem persenjataannya, dan untuk mengatasi ancaman tertentu pasti sudah ada

senjata yang disesuaikan. Untuk perencanaan, semua sudah tercakup, hanya

pelaksanaan nya bertahap diisi, mulai dari platform dulu.

 

Sementara Mayjen (purn.) Jan Pieter mengkritisi resiko sistem

perencanaan yang parsial, dalam hal ini membeli dahulu platform, baru kemudian

memikirkan sistem persenjataannya. Semangat dari pengadaan alutsista adalah

menghadirkan operational readiness, yang mensyaratkan adanya platform, sistem persenjataan awaknya, pelatihannya, dan dukungan logistiknya dalam satu sistem.

Standar militer di dunia menyatakan bahwa kesiapan operasi itu adalah penjumlahan

platform dikali senjata, dikali awaknya yang terlatih, dikali integrated logistic support

(ILS)nya,dan seterusnya. Bad lesson dari masa lalu semestinya tidak perlu diulangi.

Saat ini kita di masa damai, sehingga tidak ada alasan untuk tidak membuat kontrak

perawatan jangan panjang.

Menurut Mayjen (purn) Jan Pieter, Komunikasi antara Kementerian Pertahanan

sebagai pemegang kebijakan dan anggaran dengan TNI sebagai yang membutuhkan

alutsista sudah berjalan. Namun untuk singkronisasi harus dibuktikan dalam praktek,

apakah benar alutsista yang dibelanjakan adalah yang dibutuhkan oleh pengguna.

Jika hanya mengacu pada ketersediaan anggaran, maka pengadaan dilakukan

berdasarkan keputusan-keputusan yang tidak komprehensif. Prinsip mission oriented

harus dipegang bersama antara Kementerian Pertahanan, Mabes TNI dan Mabes

Angkatan dalam pengadaan alutsista agar sesuai kebutuhan.

Selanjutnya Alman menjelaskan bahwa pengadaan platform menggunakan

Pinjaman Luar Negeri (PLN), sedangkan ILS bisa PLN atau rupiah murni. Sayangnya

selama ini masuknya alutsista baru tidak diikuti dengan alokasi anggaran

pemeliharaan, sehingga terkadang anggaran pemeliharaan untuk alutsista lama

dialihkan untuk alutsista baru agar bisa beroperasi atau sistem tambal sulam. Tidak

ada jaminan ketika ada alutsista baru anggaran pemeliharaan otomatis naik. Ini perlu

menjadi concern pemerintah dan DPR. Karena tidak ada jaminan ketika kita menerima

alutsista baru, di tahun berikutnya ada anggaran untuk perawatan dan suku cadang.

Alman mencontohkan kapal perang terbaru PPA kita yang sampai sekarang belum ada rudalnya yang buatan MBDA. Akibat pandemi covid-19 dan perang Rusia-

Ukraina, masa tunggu pesanan di MBDA menjadi 3-5 tahun dari sebelumnya 2 tahun terhitung sejak kontrak ditandatangani. Banyak faktor yang mempengaruhi produksi

rudal seperti gangguan suplai bahan baku atau prioritas pada negara yang sudah

memesan terlebih dahulu. Demikian pula dalam kontrak pengadaan PPA tidak disertai

kontrak pengadaan suku cadang, masing mengandalkan warranty pabrik yang

memiliki masa jam putar.

 

Selain itu, Alman juga menyatakan bahwa kebijakan penarikan pemeliharaan

dan perawatan menjadi di bawah Kemhan harusnya melalui masa transisi, karena

selama ini di matra. Ini agar Kemhan siap secara total, karena Kemhan sebelumnya

tidak pernah melakukan. Peran matra dalam mengawasi kegiatan perawatan tetap

perlu. Kapasitas Industri dalam negeri harus menyesuai-kan dengan jenis

pemeliharaan dan perawatan yang dibutuhkan.

 

Terkait kebijakan peningkatan kemampuan produksi alutsista canggih, kita

perlu menyiapkan rencana jangka panjang, minimal 25 tahun. Siapapun yang menjadi

Presiden harus melanjutkan kebijakan tersebut. Untuk kemampuan pemeliharaan dan

perawatan, industri pertahanan dalam negeri bisa merintis dengan bekerjasama

dengan pabrikan, agar kita tidak setiap saat memanggil technical assistant dari

pabrikan. Kita harus memiliki kemampuan ini sendiri agar tingkat kesiapan lebih baik.

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait