Najwa : Minat Baca Kurang Karena Akses Buku Masih Sulit

oleh -73 views

KUPANG, beritalima.com – Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab mengatakan minimnya minat baca masyarakat di Tanah Air masih kurang. Bahkan, banyak sekolah di pedalaman sama sekali tidak ada minat baca. Hal ini disebabkan karena akses terhadap buku masih sulit.
Selain itu, harga buku di Indonesia mahal disebabkan pajak impor kertas tinggi. Kondisi ini membuat buku-buku yang dijual ke pelosok Indonesia lebih mahal.
“ Sebetulnya bukan minat bacanya yang rendah tetapi akses terhadap buku – buku itu yang masih sangat kurang. Karena buktinya setiap kali datang ke tengah masyarakat, perkampungan, sekolah – sekolah, begitu ada buku anak – anak dengan suka cita dengan merebut akan menghampiri kaka – kaka bawa buku,” kata kepada wartawan sebelum mengikuti talkshow bertajuk ‘Literansi untuk Kebinekaan’ di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (11/8) malam.
Nadjwa datang ke Nusa Tenggara Timur menghadiri undangan karena duta baca. Host program ‘Mata Najwa’ ini ditunjuk menjadi Duta Baca Indonesia oleh Perpustakaan Nasional sejak tahun 2016 dengan masa tugas selama lima tahun.
Pesan utamanya adalah yang diharapkan bisa dibawa oleh duta baca adalah bagaimana mengajak sebanyak mungkin orang untuk kembali jatuh cinta pada membaca. Dan itu dilakukan lewat kegiatan atau kampanye salah satunya dengan berkunjung ke daerah – daerah.
“ Kalau kita melihat angka atau data – data statistik yang menunjukkan bahwa Indonesia sangat jauh tertinggal dibanding dengan negara – negara lain. Hsil survei Central Connecticut State Univesity misalnya, Indonesia peringkat ke – 60 dari 61 negara soal minat membaca,” jelas dia.
Kalau dilihat angka – angka dan data – data lain, kata Nadjwa, memang fakta angka diatas kertas kemampuan membaca anak – anak Indonesia, bahkan dibandingkan dengan negara – negara tetangga atau ASEAN sekali pun itu masih sangat jauh.
“ Kalau di Eropa atau Amerika, orang bisa membaca buku anak – anaknya 25 – 27 buku per tahun, Jepang bisa membaca buku 15 – 18 buku, di Indonesia nol buku, atau 0,001,” ujarnya.
Dia pun telah menyampaikan ide kepada Presiden Joko Widodo pada Mei 2017 lalu untuk mengirim buku secara murah ke daerah. Karena orang yang ingin donasi buku itu banyak, tetapi harga untuk mengirimkan buku – buku itu mahal. Lebih mahal harga kirim ongkos buku daripada harga buku.
Karena itu, ia minta setiap tanggal 17 setiap bulan dilakukan pengiriman buku secara gratis lewat PT Pos Indonesia. Ide ini langsung diterima Presiden. Selain itu, mereka juga harus memastikan buku-buku tesebut tiba di tujuan di seluruh Tanah Air.
Project Officer Garda Lamaholot, Bara Pattyradj mengatakan, isu kebinekaan yang diangkat dalam talkshow tersebut saat ini intens dibicarakan dalam konstelasi kehidupan berbangsa dan bernegara. (L. Ng. Mbuhang)