beritalima.com

Pasokan Air Bersih Jadi Kebutuhan Utama Pengungsi Bencana Luwu Utara

  • Whatsapp

LUWU UTARA – Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Utara Hermansyah menyatakan bahwa diantara fasilitas yang diberikan untuk para pengungsi pascabanjir bandang di Kabupaten Luwu Utara, saat ini pasokan air bersih menjadi kebutuhan utama yang sangat dibutuhkan warga terdampak di lokasi pengungsian. 
“Semua fasilitas di lokasi pengungsian telah diberikan mulai dari makanan, dapur umum, baju layak pakai sampai toilet. Namun saat ini air bersih menjadi hal yang utama dan paling dibutuhkan oleh para pengungsi,” jelas Hermansyah melalui sambungan telepon di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (18/7).


Berdasarkan data yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, saat ini terdapat 76 titik pengungsian yang tersebar di 3 Kecamatan, antara lain Kecamatan Sabbang, Kecamatan Baebunta dan Kecamatan Masamba.
Hermansyah mengatakan untuk kapasitas setiap lokasi pengungsian terdapat 70 sampai 100 orang. 
“Saat ini kapasitas warga di setiap lokasi pengungsian sekitar 70 sampai 100 orang,” ungkapnya.
Selain kebutuhan air bersih, tenda-tenda pengungsian juga masih dibutuhkan untuk memfasilitasi tempat tinggal sementara para warga terdampak. Kecamatan Masamba memanfaatkan gedung-gedung tertentu untuk dijadikan tempat pengungsian warga setempat.
“Kami juga membutuhkan tenda-tenda pengungsi. Untuk mengantisipasi kekurangan tenda, warga terdampak di Kecamatan Masamba menggunakan gedung-gedung sebagai lokasi pengungsian,” ucapnya.
Selanjutnya, Hermansyah menambahkan bahwa dalam pelayanan para pengungsi, khususnya bagi warga yang masuk dalam kategori rentan seperti lansia, ibu hamil dan balita, pemerintah daerah setempat telah memfasilitasi pelayanan kesehatan tambahan bagi mereka.
“Bagi para lansia, ibu hamil dan balita, kami tetap berikan pelayanan khusus, khususnya dengan pelayanan kesehatan tambahan bagi mereka,” tambahnya.


Selain melakukan evakuasi ke lokasi pengungsian yang telah disiapkan, masyarakat terdampak pascabanjir bandang di Kabupaten Luwu Utara juga melakukan evakuasi mandiri di rumah kerabat yang tidak terdampak peristiwa tersebut.
Ayu, salah satu warga terdampak yang tinggal di Jalan Salawati Daud, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara memilih untuk melakukan evakuasi ke tempat kerabat. 
Walaupun berada di tempat kerabat, Ayu mengatakan bahwa bantuan yang diberikan saat ini kurang memperhatikan kebutuhan bagi para lansia.
“Bantuan yang diberikan bermacam-macam, mulai dari baju layak pakai, makanan dan obat-obatan. Namun menurut saya kebutuhan bagi para lansia masih kurang diperhatikan. Hal ini terlihat dari bantuan yang diberikan seperti popok hanya ditujukan untuk yang memiliki balita, padahal popok juga sangat dibutuhkan oleh para lansia terlebih saat bencana seperti ini kita kesulitan untuk mendapatkan air bersih,” ujarnya saat ditemui di Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara (18/7).
Selanjutnya, Ayu turut mengapresiasi gotong royong masyarakat karena terus menberikan bantuan kepada warga terdampak walaupun bukan berasal dari Kabupaten Luwu Utara.


“Selain dari pemerintah, kami juga mendapatkan bantuan dari banyak masyarakat yang tinggal di luar daerah ini (Kabupaten Luwu Utara). Saya sendiri juga mendapatkan bantuan dari warga Kabupaten Luwu Timur. Gotong royong seperti inilah yang jadi kekuatan bagi kami melewati situasi sulit saat ini,” tambahnya. 

*Peran Relawan Dalam Pelaksanaan Protokol Kesehatan di Lokasi Pengungsian*
Pandemi COVID-19 yang saat ini masih terjadi di Indonesia tentunya menjadi tantangan bagi semua pihak yang terdampak bencana tentang bagaimana penanggulangan bencana yang sedang terjadi tetap mengutamakan protokol kesehatan.
Sekretaris BPBD Kabupaten Luwu Utara Harmensyah mengatakan bahwa cukup sulit melakukan protokol kesehatan saat situasi tanggap darurat bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara.
“Cukup sulit melaksanakan protokol kesehatan di tengah situasi bencana. Kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan menjadi berkurangan karena sedang dihadapkan dengan kondisi seperti saat ini,” ujarnya.
Hermansyah mengapresiasi peran para relawan yang membantu pada penanggulangan bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara yang tidak hanya membantu penanganan bencana, tapi juga membantu masyarakat di lokasi pengungsian untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan.
“Kami sangat terbantu dengan kehadiran para relawan yang tidak hanya membantu penanggulangan bencana, namun juga memastikan bahwa para pengungsi tetap melaksanakan protokol kesehatan. Mereka memberi bantuan masker dan mengingatkan cuci tangan,” lanjutnya.
Sebagai informasi, banjir bandang yang terjadi di Luwu Utara pada 13 Juli 2020 terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi sejak tanggal 12 sampai 13 Juli 2020 yang menyebabkan Sungai Rongkong, Sungai Meli dan Sungai Masamba meluap.
Informasi terkini sampai pada Sabtu, 18 Juli 2020 pukul 07.00 WITA, korban meninggal dunia akibat peristiwa tersebut sebanyak 36 orang, korban hilang dan masih dalam pencarian 67 orang, luka dan dirawat 51 orang serta jumlah pengungsi 14.483 di tiga kecamatan, antara lain Kecamatan Sabbang, Kecamatan Baebunta dan Kecamatan Masamba.

beritalima.com beritalima.com

Pos terkait