Setelah Dinyatakan Lulus, Santri NU Kelahiran Gresik Berhak Sandang Gelar Doktor

JAKARTA, Beritalima.com– Santri Nahdlatul Ulama (NU) kelahiran Gresik, Jawa Timur yang kini mendapat kepercayaan sebagai Wakil Ketua MPR RI berhak menyandang gelar doktor dari Iniversitas Negeri Jakarta (UNJ). Gelar itu disandang Jazilul setelah dia dinyatakan lulus oleh tim penguji pada Ujian Terbuka Promosi Doktor di Aula Pasca Sarjana UNJ, Senin (17/2). Tampak hadir dalam acara ujian promosi itu Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) sejumlah Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, Zulkifli Hasan, Lestari Moerdijat, Fadel Muhammad dan Ketua Komisi Yudisial (KY) Jaja Ahmad Jayus serta Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Anwar Usman.

Dalam ujian terbuka itu, Jazilul mempresentasikan ‘Pengaruh Rekrutmen, Kompetensi dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Anggota DPR RI 2014-2019’. “Usai mendengar jawaban berbagai pertanyaan dari para penguji yang disampaikan promovendus dengan meyakinkan dan pertimbangan dewan penguji, dengan ini menyatakan Jazilul dinyatakan lulus dan menjadi doktor yang ke- 4083 dari UNJ,” kata Rektor Universitas Negeri Jakarta Dr Komarudin.

Di depan para penguji, Jazizul mengatakan, DPR adalah lembaga terhormat yang memiliki kewenangan legislasi. Sebagai lembaga terhormat, tentu diisi pula oleh orang-orang yang terhormat dan mulia. Tetapi, selama ini kinerja anggota DPR masih menjadi sorotan masyarakat, bahkan beberapa lembaga survei mengatakan, kinerja DPR kurang memuaskan. Kinerja DPR yang mendapat sorotan masyarakat itu berpengaruh kepada pemerintah juga masyarakat. “Peneliti melihat masalah yang muncul dari kinerja DPR itu karena ada beberapa variabel yang kemungkinan menjadi penyebabnya, yakni soal rekrutmen, kompetensi dan komitmen.

Jelasnya, ungkap politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut, dalam melakukan rekrutmen anggota DPR dipilih dan diputuskan melalui suara terbanyak bukan karena kompetensi sehingga yang menjadi anggota DPR RI bukan dari kalangan parpol atau kader, tetapi umumnya kalangan profesi lain yang sebelumnya bukan pelaku politik sehingga komitmen untuk jalankan tugas kurang begitu baik.

Diungkapkan, jika variabel itu diperbaiki dan dilakukan secara benar, bakal berimplikasi langsung secara positif terhadap kinerja dan organisasi, serta akan berdampak baik kepada masyarakat.Paparan Jazilul tersebut tentu saja mendapatkan banyak pertanyaan kritis di sesi akhir presentasi disertasi oleh beberapa anggota dewan penguji. Namun, Jazizul mampu menjawab semua pertanyaan kritis itu dengan baik.

Kepada awak media, Jazilul mengatakan, gelar ini adalah satu amanah, satu kebahagian yang harus disyukuri dan dijaga dengan baik. “Saya bersyukur dengan pencapaian pendidikan saya dari awal sampai saat ini. Yang penting, bagaimana ke depannya mengaplikasikan temuan-temuan penelitian itu sehingga memiliki manfaat kepada peneliti, lembaga DPR dan seluruh elemen masyarakat,” demikian Jazilul Fawaid. (akhir)