Solusi Tim Ahli KADIN Jatim Tentang Kelangkaan Solar Bersubsidi

  • Whatsapp

SURABAYA, beritalima.com | Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di sebagian wilayah Jawa Timur mendapat perhatian dari Tim Ahli Kamar Dagang Dan Industri (KADIN) Jawa Timur, Dr Ir Jamhadi, MBA.

Menurut pria yang juga Direktur KADIN Institute ini, kelangkaan solar bersubsidi diantaranya karena permintaan terhadap solar meningkat.

Peningkatan permintaan solar itu, lanjut Alumni Teknik SIPIL ITATS ini, karena sektor wisata meningkat, yang ditandai dengan banyaknya bus pariwisata berbahan bakar solar beroperasi, ditambah kendaraan pribadi yang masih mengkonsumsi solar.

“Termasuk pula dorongan meningkatkan porsi jumlah industri di Indonesia, yang saat ini sekitar 19% dari PDB terus didorong meningkat hingga 25% pada 5 tahun kedepan,” tambah CEO PT Tata Bumi Raya ini, saat ditemui Minggu (17/11/2019) malam.

Menurut team ahli dalam kepemimpinan LaNyalla Mataliti ini, hal tersebut bisa dilihat dari pasokan Pertamina yang meningkat sekitar 20% dari kuota untuk Jawa Timur.

Dari catatannya disebutkan, total alokasi solar pada tahun 2019 sebanyak 2.092.000 kilo liter. Alokasi sampai Oktober 2019 sebanyak 1.742.400 kilo liter, terealisasi 1.917.800 kilo liter, yang berarti penyaluran 3 bulan terakhir sudah mencapai 215.000 kilo liter solar per bulan.

www.beritalima.com

Namun demikian, Pertamina berharap penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu.

Padahal sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014, BBM tertentu termasuk solar bersubsidi hanya diperuntukkan bagi industri rumah tangga, usaha mikro, usaha pertanian, usaha perikanan, transportasi dan pelayanan umum, termasuk juga kendaraan pribadi dengan kapasitas mesin atau CC kecil.

Pertamina memastikan tetap melayani permintaan konsumen untuk menyalurkan BBM Bersubsidi jenis solar. Padahal di semester I 2019, penyaluran solar di Jatim rata-rata masih 175.000 kilo liter per bulan. Seperti dari Terminal BBM Tuban, rencana penyaluran pada Sabtu (16/11/2019) sebanyak 1.384 kilo liter. Penyaluran ditambah 23,5% dari normal 1.120 kilo liter per hari.

Karena itulah, Jamhadi yang juga Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKBA) Untag 45 Surabaya ini memberikan solusi, Pertamina harus menyesuaikan neraca demand and supply BBM jenis solar bersubsidi sesuai rencana pengembangan industri yang baru, mass transportation harus diwujudkan untuk mengurangi idle.

“Solusi lainnya, energi terbarukan tetap harus di create termasuk PLTSA,” pungkas pria yang meraih gelar MBA dari European University of Antwerp in Belgium ini. (Ganefo)

Teks Foto: Dr Ir Jamhadi MBA (kiri).

www.beritalima.com
www.beritalima.com
www.beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *