Ternyata Ini Keunggulan Kopi Asli Wonosobo Dibandingkan dengan Daerah Lain

  • Whatsapp

WONOSOBO, beritalima.com – Karunia terbesar dari Tuhan bagi kota Wonosobo adalah letak topografinya yang bercirikan berbukit dan bergunung yang terletak di ketinggian antara 200 hingga 2.250 m di atas permukaan laut (dpl) dengan kondisi. Termasuk daerah tropis maka Wonosobo memiliki dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Sementara rata-rata suhu udaranya diantara 14,3 – 26,5 derajat Celcius dengan curah hujan rata-rata per tahun berkisar antara 1713 – 4255 mm/tahun. Dengan kondisi tersebut Kabupaten Wonosobo sangat baik untuk pertanian sehingga sektor pertanian dan perkebunan merupakan sektor dominan dalam perekonomian. Berbagai jenis tanaman tersebut tumbuh subur diantara kentang, sayuran, salak pondok, kopi, kayu albasia bahkan padi pun masih tumbuh subur di sebagian wilayah ini.

Salah satu tanaman yang berpotensi dikembangkan dalam produksinya adalah kopi. Dengan kondisi topografis tanaman tersebut dapat tumbuh di kawasan ini.

Diungkapkan Ketua Asosiasi Kopi Asli Wonosobo (Askawon), Ahmad Musta’in pada era akhir tahun 1800-an tanaman ini menjadi tanaman andalan masyarakat. “Pada waktu itu Wonosobo memiliki perusahaan kopi besar yaitu Java Coffee yang didirikan pada tahun 1819 terletak di daerah Sapuran.” Kata Musta’in.

Namun beberapa dekade belakangan harga kopi masih kalah dibandingkan dengan tanaman lain, sehingga banyak pohonnya ditebang digantikan dengan tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi seperti buah salak dan tanaman lain.

Seiring dengan perkembangan saat ini nilai ekonomis biji kopi mulai menjanjikan budidaya pohon kopi mulai dilakukan kembali oleh para petani, kelompok tani baik secara mandiri maupun di bawah binaan instansi pemerintah maupun swasta.

“Saat sekarang kopi yang kami budidayakan sebanyak 20.000 batang pohon dengan jenis arabika.” Ujar Hartoyo, disela-sela merawat tanamannya yang terletak di kaki Gunung Bismo.

Sementara itu, Joko yang menanam di seputar bukit Cinta Telaga Menjer mengatakan pihaknya baru menanam sebanyak 5.000 batang pohon kopi. “Bulan Desember ini kami akan panen perdana, dan kedepannya akan kami tambah lagi pohon yang akan ditanam.” Ucap pria pengelola Bukit Cinta Telaga Menjer ini.

Di tempat terpisah, salah satu petani di lereng Gunung Sindoro mengatakan bahwa kelompok tani Sindoro Makmur telah menanam 24.000 batang kopi. “Kopi yang kami tanam baik arabika maupun robusta.” Kata penggiat lingkungan ini yang enggan disebutkan namanya.

Dikatakan Ketua Askawon, kopi hasil dari produksi kawasan Wonosobo memiliki ciri rasa unik berbeda dibandingkan dengan wilayah pegunungan ini. “Untuk kopi jenis Robusta di bentang timur lereng Gunung Sindoro dan Sumbing citarasa kopi yang dihasilkan cenderung berasa coklat, sedangkan yang berjenis arabika citarasanya beraroma tembakau, cabe atau pun rempah-rempah.” Jelas Musta’in.

Berbeda dengan tanaman yang berada di lereng Gunung Bismo, tambahnya, dengan kondisi tanah yang berkarakter lebih tebal maka citarasa yang dihasilkannya pun berbeda yaitu berasa kacang almond panggang.

Menurut dia, hal tersebut disebabkan tanaman kopi memiliki sifat hydroscopi. Artinya tanaman ini akan menyerap semua informasi yang dibawa oleh air, udara dan tanah diseputarnya. “Kopi yang hidup di bekas lahan bekas kebun kapulogo maka citarasanya berasa kapulogo.” Jelas Ketua Askawon ini. (Edi / Budi)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *