Usia Remaja, Usia Penentu Masa Depan

oleh -76 views

beritalima.com | Setelah usia beranjak remaja tepatnya saat lulus SMA, tidak sedikit remaja yang mengabaikan dunia pendidikan atau melanjutkan ke bangku perkuliahan. Apalagi masa remaja adalah masa dimana kita baru berkenalan dengan rupiah, semuanya seakan terabaikan dan yang hanya ada dalam otak para remaja adalah tentang uang. Ditambah lagi jika keadaan ekonomi keluarga yang tidak begitu mendukungnya.

Remaja juga merupakan usia-usia yang rawan akan lingkungan, mudah terbawa arus lingkungan sekitar. Hal itulah yang sangat ditakuti para orangtua terhadap anak-anaknya saat menginjak usia remaja. Mereka takut akan lingkungan yang buruk, seperti minum-minuman keras, obat-obatan terlarang, pergaulan bebas dan lain sebagainya.

Begitu pun halnya yang aku rasakan saat ini,aku adalah seorang remaja dari desa yang baru lulus SMA. Aku selalu dibuat bingung antara lanjut kuliah atau mengikuti jejak teman-temanku yang berani memilih menjadi seorang pekerja dan menghasilkan uang sendiri. Keadaan memang tak pernah bias berbohong tetapi takdir berhak berkata lain.


Saat-saat menyebalkan bagiku ketika ada beberapa teman dekatku yang menawarkan sebuah pekerjaan kepadaku, dengan berat hati aku tidak bias langsung menolaknya. Aku selalu membicarakan terlebih dahulu kepada kedua orangtuaku dan jawaban mereka pasti harus mengikuti apa kata hati dan pikiran sehingga ketika mengambil keputusan tidak ada kata menyesal kedepannya.

“Derajat orangtua bias meningkat ketika anak-anaknya sukses dan berhasil menjadi apa yang dicita-citakan”. Kalimat tersebut adalah kalimat yang selalu diwejangkan Ayahku ketika aku sedang dilanda kegalauan akan masa depan.

Setelah beberapa masa yang aku lewati, akhirnya aku berani memutuskan untuk meninggalkan teman-temanku di desa dan memberanikan diri untuk merantau ke ibu kota guna menduduki bangku perkuliahan atas bekal doa dan ilmu yang seadanya. Tekadku melanjutkan kuliah tidak jauh karena aku ingin kedua orang tuaku tersenyum ikhlas ketika aku sudah berhasil menjadi apa yang mereka impikan.

Ibu kota bukanlah tempat untuk bermain-main atau bermalas-malasan, hukum rimba sangat berlaku di sini. Maka dari itu, aku selalu berusaha sebisa mungkin di sini agar menjadi seorang yang kuat dan menang dalam hal apapun.

Tak lama aku berkuliah, teman-temanku yang sebelumnya memilih untuk bekerja akhirnya menyesal karena melihatku bias melanjutkan pendidikan. Kini ada beberapa dari temanku yang belum bisa menetap dari pekerjaan karena kelabilan pada dirinya yang belum bias dikendalikan. Mereka sadar usia remaja belum punya kuasa untuk mengatur keuangan, apalagi dalam jumlah yang besar.

Aku sangat bersyukur telah memilih jalan ini, banyak hal yang semula tidak tahu kini menjadi sesuatu hal yang menjadi bahan pemikiranku. Dan aku juga sadar bahwa pendidikan itu sangat penting, aku akan terus menimba ilmu karena uang atau pekerjaan akan dating dengan sendirinya jika kita punya ilmu yang melimpah. (Habib Awwaluddin/PNJ)