Imam Masjid Dipecat, Warga Simeulue Marah, Anhar: Tindakan Itu Mirip Perilaku Fira’un

oleh -1 views

JAKARTA, Beritalima.com– Pemecatan Supriadi sebagai Imam Masjid Agung Khalilullah Kabupaten Simeulue diduga melalui ‘tangan’ Kadis Syariat Islam setempat oleh Bupati Simeulue membuat warga Pulau paling Barat Indonesia itu marah.

Bahkan banyak masyarakat Simeulue baik yang menetap di pulau tersebut maupun di perantauan menganggap pemecatan tersebut tindakan semena-mena. Tokoh masyarakat Simeulue yang juga mantan Humas Ikatan Pemuda Pelajar Simeulue (Ippelmas) Banda Aceh, Fansu Hendric sebagaimana dilansir dari salah satu media online mengatakan, pemecatan itu dianggap zalim.


Menyikapi pemecatan Imam mesjid semena mena itu mencerminkan arogansi penguasa Simeulue terhadap Hamba Allah yg menjadi kepercayaan Ummat untuk berserah diri dalam Ritual Ibadah melalui Rumah Allah yang lazim disebut IMAM MESJID merupakan perbuatan arogan yang sangat tidak terpuji.

‚ÄúSejak Muhammad Rasullullah SAW diutus sebagai pembaharu bagi kehidupan Ummat Manusia dimuka bumi ini, sudah menjadi pakem dan catatan sejarah bahwa ulama dan Imam Masjid sebagai pemberi nasehat, mengayom umaroh. Dan, ulama adalah tempat umat bertanya. Ulama sebagai penyejuk tatkala Penyelenggara Negara dan Pemerintah mengalami hal hal yg sulit dalam mengambil keputusan,” kata Anhar, Anggota DPR RI 2004-2009 dari Dapil pulau yang sempat hancur dihantam tsunami Desember 2004 tersebut.

Dikatakan Anhar, sangat aneh dan miris ada penguasa atau pejabat di daerah yang punya pengetahuan agama cukup memecat Imam Masjid tanpa diketahui kesalahan apa telah diperbuat orang tersebut. “Bila unggahan pertanyaan akan janji seorang penguasa yang menjadi alasan, itu juga sangat tidak tepat untuk memberikan hukuman pemecatan,” kata dia.

Apalagi, kata dia, sebagai ulama tentu saja yang bersangkutan punya kewajiban untuk mengingatkan hamba Allah akan janjinya. “Mengingatkan itu, tentu saja kecintaan kepada orang yang diingatkan akan janjinya. Ini betul-betul sangat sulit saya pahami. Saya nilai, tindakan seorang kepala daerah itu mirip dengan perilaku Fira’un,” demikian Anhar. (akhir)