beritalima.com

Jatim Jadi Rujukan 110 Juta Jiwa Indonesia Timur

  • Whatsapp

Gubernur Jawa Timur Pakde Karwo menegaskan bahwa terdapat 110 juta jiwa penduduk Indonesia Timur bergantung kepada kualitas pelayanan medis di Jatim. Bahkan, Jatim telah melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia Bagian Timur plus dengan Kalimantan.

Hal tersebut disampaikanya pada saat mengukuhkan Ketua Staf Medis Fungsional (SMF) dan Kepala Instalasi Rumah Sakit di lingkungan Pemprov Jatim sebanyak 85 SMF dan 115 Kepala Instalasi di Gedung Negara Grahadi, Kamis (19/5).

Pakde Karwo sapaan akrabnya menegaskan, bahwa Jatim melalui RSUD Dr. Soetomo telah mampu melayani jenis pelayanan yang tersier sekaligus menjadi rumah sakit untuk melakukan riset kesehatan. Tersier artinya, penyakit penyakit khusus dan tergolong berat bisa tertangani di RSUD Dr. Soetomo seperti penyakit Jantung, Ginjal dan penyakit penyakit yang sudah final.

RSUD Dr. Soetomo telah melayani jenis pelayanan yang tersier sekaligus menjadi rumah sakit untuk melakukan riset kesehatan. Tersier artinya, penyakit penyakit khusus dan tergolong berat bisa tertangani di RSUD Dr. Soetomo seperti penyakit Jantung, Ginjal dan penyakit penyakit yang sudah final.

Pakde Karwo menyebut, bahwa staf medis dan instalasi menjadi tulang punggung dari keberadaan rumah sakit. Bahkan, keberadaan mereka mempunyai fungsi yang sama dengan jantung dalam diri manusia. “Mereka inilah yang bekerja setiap hari dan mengetahui segala permasalahan di rumah sakit. Keberadaan mereka ini menjadi tulang punggung bahkan diibaratkan sebagai Jantung dalam denyut nadi sebuah rumah sakit,” tegasnya.

beritalima.com

Menurutnya, kualitas SDM yang baik harus ditunjang dengan keberadaan sarana dan prasarana yang mumpuni. Kelompol fungsional harus dilibatkan di dalam proses pengambilan keputusan. Ketua SMF dan Kepala Intalasi harus dilibatkan dalam pengambilan kebijakan di dalam sebuah proses layanan kesehatan di sebuah rumah sakit.

Kelompok medis dan instalasi ini sebagai pegawai fungsional di sebuah rumah sakit menjadi roh dan jantung dalam memberikan pelayanan bagi pasien dan masyarakat yang membutuhkan jasa kesehatan.

Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat saat ini, pemerintah harus mampu menyikapi dengan bijakasana sehingga tantangan yang ada dapat berubah menjadi peluang. Tantangan pertama, dimulainya implementasi JKN tahun 2014 dimana sistem layanan, sistem rujukan, kepesertaan dan sarana pelayanan sampai saat ini masih memerlukan pembenahan.

Tantangan selanjutnya adalah implementasi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang sudah berlangsung saat ini. Era keterbukaan menuntut daya saing yang tangguh bagi provider kesehatan dalam memberikan pelayanan yang kompetitif yakni aman, efektif dan efisien.

Sebuah rumah sakit akan menjadi pioner peningkatan derajat kesehatan apabila mampu mengaplikasikan Good Corporate Governance dan Good Clinical Governance. Artinya, pioner yang mampu mengelola manageme dan tata kelola klinik dengan baik.

 

Pakde Karwo Tekankan Soliditas Bidang Kesehatan

 

Sebelumnya, di tempat yang sama, Gubernur melantik sekaligus serah terima jabatan pejabat pimpinan tinggi pratama dan administrator di lingkungan Pempov Jatim.

Dalam arahannya, Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo menekankan kepada seluruh insan kesehatan  di intansi rumah sakit miik Pemprov Jatim untuk terus meningkatkan soliditas dan kerja keras di bidang kesehatan.

 

 

“Saya kira semua komponen yang menangani bidang kesehatan telah bekerja keras melebihi harapan dari pemerintah. Terlebih, harapan tersebut mampu dilampaui dari target yang ditetapkan oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). JKN merupakan salah satu indikator konsep kesehatan nasional yang harus diikuti oeh semua daerah,” ungkapnya.

Pakde Karwo biasa ia disapa tersebut memberikan rasa apresiasi di bidang kesehatan  yang mampu beradaptasi dengan sangat luar biasa. Bidang Kesehatan di Jatim mampu mensinergikan segala proram yang ada. “Kemampuan bidang kesehatan menghadapi perkembangan zaman sangat luar biasa. Kondisi ini harus terus dipertahankan dengan baik dan positif,” ungkapnya.

Dicontohkannya, saat ini Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang ada di Pemprov Jatim telah bergerak dengan cepat. Mulai dari UPT Kesehatan yang berada di Pamekasan hingga dungus, Madiun sampai Murnajati, Malang bergerak cepat. UPT – UPT tersebut telah bergerak cepat menangani pasien dan mayarakat tidak hanya penyakit khusus, melainkan UPT tersebut sudah mampu untuk melayani kesehatan bidang lainnya.

Kondisi terebut diyakini Pakde Karwo tidak merubah substansi dasar dari pelayanan kesehatan khusus, melainkan tetap bergerak melayani kebutuhan umum masyarakat di bidang kesehatan. Implementasi tata kelola yang baik, kuncinya terletak pada kepemimpinan yang ada. “Saya kira ini adaptasi yang luar biasa. Sementara di tempat yang sama penanganan manajemen bisa dilakukan secara baik. Ini artinya, leadership bidang kesehatan telah berkembang dan berubah secara baik,” tegasnya.

Pakde Karwo juga meminta instansi kesehatan menyiapkan diri dan meningkatkan sarana dan prasarananya. Ia menyebut, ciri khas dari masyarakat Jatim yang datang untuk membesuk jumlahnya sangat banyak. Maka, potensi ini yang harus segera ditangkap menjadi peluang.

“Buat hotel hotel murah di dalam rumah sakit. Agar para pembesuk bisa tinggal disitu sambil menjaga sanak saudara yang tengah sakit. Keberadaan hotel menjadi potensi penting, jika perlu memanfaatkan bangunan yang ada untuk dijadikan hotel atau ruang penginapan bagi pembesuk,” tuturnya.

Ia berharap, ke depan dalam pelayanan JKN Pemprov Jatim bisa memberikan layanan kesehatan secara cepat dan tepat. Pelayanan yang cepat dan tepat tersebut diharapkan akan bisa memberikan dambaan bagi masyarakat.

Sesuai dengan keputusan Gubernur Jatim Nomor 821.2/792/212/2016 tentang pengangkata dalam jabatan disebutkan terdapat 4 eselon II dan 15 eselon III. Untuk eselon II diantaranya Dr. dr. Joni Wahyuadi sebagai Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Dr. Soetomo, Dr. dr. Hendrian Dwikoloso sebagai Wadir Penunjang Medik RSUD Dr. Soetomo, dr. M. Bachtiar Budianto sebagai Wadir Pendidikan dan Pengembangan Profesi pada Dr. Saiful Anwar Malang dan dr. Dita Artningtyas M. Kes sebagai Wadir Penunjang dan Pendidikan Penelitian pada RSUD Dr. Soedono. (**)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *